Eks Menhan Amerika: Baru Kali ini Ada Presiden Pengadu Domba

Eks Menhan Amerika: Baru Kali ini Ada Presiden Pengadu Domba
James "Mad Dog" Mattis. (Foto: Wall Street Journal)
Heru Andriyanto / HA Kamis, 4 Juni 2020 | 09:28 WIB

Beritasatu.com – Mantan menteri pertahanan Amerika Serikat James Mattis menyebut Presiden Donald Trump sebagai "presiden pertama sepanjang hidup saya yang tidak berusaha mempersatukan rakyat Amerika”, dalam sebuah pernyataan pedas yang dirilis Rabu (3/6/2020) waktu setempat atau Kamis WIB.

Pernyataan itu disampaikan Mattis ketika Amerika tengah dilanda aksi protes selama sepekan lebih di seantero negeri terkait kematian George Floyd.

"Donald Trump adalah presiden pertama dalam hidup saya yang tidak berusaha mempersatukan rakyat Amerika -- bahkan tidak juga berpura-pura melakukannya. Justru, dia berusaha memecah belah kita," ujar Mattis.

"Kita tengah menyaksikan konsekuensi dari ulah yang disengaja selama kurun waktu tiga tahun ini. Kita bisa bersatu tanpa dia, bertopang pada kekuatan yang melekat dalam masyarakat sipil kita. Ini tidak akan mudah seperti yang terlihat dalam beberapa hari terakhir, tetapi kita berutang hal tersebut kepada rekan sebangsa; kepada generasi sebelumnya yang menumpahkan darah untuk mempertahankan sumpah kita; dan kepada anak-anak kita."

Ketegangan melanda Amerika saat ini setelah Floyd, pria kulit hitam berusia 46 tahun, tewas di tangan polisi Minneapolis 25 Mei lalu. Sebagai respon, Senin lalu Trump mendeklarasikan dirinya sebagai “presiden penjaga hukum dan ketertiban” dan berjanji untuk mengirim militer kalau kerusuhan tidak berhenti.

Mattis sebelumnya lebih banyak berdiam diri sejak meninggalkan kabinet Trump. Pensiunan jenderal marinir itu menolak berkomentar soal Trump, masalah pertahanan, dan kebijakan pengerahan pasukan AS karena tidak ingin memberi suara berlawanan dengan para prajurit.

Namun rupanya perkembangan selama sepekan ini membuatnya tidak tahan untuk tidak bicara.

Ada satu kalimat Mattis yang kemungkinan akan membuat Trump murka.

"Slogan NAZI untuk menghancurkan kita adalah 'adu domba dan taklukkan.' Jawaban kita sebagai warga Amerika adalah 'dalam persatuan ada kekuatan’. Kita harus panggil kembali persatuan itu untuk menghadapi krisis ini – yakinlah diri kita lebih baik dari politik kita,” kata Mattis.

Mattis, yang mundur dari kabinet Trump, juga secara tidak langsung mengkritik penggunaan kata “medan tempur” oleh Menteri Pertahanan Mark Esper ketika merujuk pada kota-kota yang dilanda kerusuhan.

"Kita harus menolak pemikiran tentang kota-kota kita sebagai ‘medan tempur’ militer berseragam yang dipanggil untuk ‘mendominasi’,” kata Mattis.

"Menggunakan militer sebagai respon, seperti yang kita saksikan di Washington DC, memicu sebuah konflik -- konflik yang keliru -- antara militer dan masyarakat sipil.”

Saat Trump berpidato di Gedung Putih Senin lalu, pasukan paspampres dikerahkan untuk membubarkan aksi damai di jalanan sekitarnya, dan kemudian diketahui upaya itu untuk memberi jalan kepada Trump agar bisa melakukan sesi foto bersama para staf di gereja terdekat.

"Belum pernah saya bermimpi bahwa tentara yang sama sumpahnya akan diperintahkan untuk melanggar hak konstitusional sesama warga negara -- tak lebih hanya untuk memberi kesempatan sesi foto bagi Panglima Tertinggi, dengan jajaran pimpinan militer di sampingnya," sindir Mattis.

"Hanya dengan mengambil jalan baru – yang arti sebenarnya adalah kembali ke jalan semula sesuai tujuan pendirian bangsa ini – barulah kita bisa kembali menjadi negara yang dikagumi dan dihormati di dalam dan di luar negeri.”



Sumber: CNN