Iran di Ambang Gelombang Kedua Wabah Corona

Iran di Ambang Gelombang Kedua Wabah Corona
Warga Iran, sebagian memakai masker, lalu lalang di sebuah jalan di Teheran, 3 Juni 2020. (Foto: AFP)
Dion Bisara / HA Minggu, 7 Juni 2020 | 18:09 WIB

Beritasatu.com - Pertambahan jumlah kasus Covid-19 di Iran kembali melesat dan menimbulkan kekhawatiran akan gelombang pandemi kedua di negara yang tengah berjuang untuk menormalisasi ekonominya di bawah tekanan sanksi negara-negara maju.

Sejak 1 Juni, jumlah infeksi harian Covid-19 di Iran sekitar 3.000 dan mencapai rekor harian tertinggi, 3.574, pada hari Kamis lalu.

"Ini adalah tanda yang mengkhawatirkan," kata Mansoureh Bagheri, direktur operasi internasional Bulan Sabit Merah Iran, kepada Al Jazeera.

Bagheri mengakui bahwa peningkatan jumlah tes virus corona cukup berperan di balik lompatan jumlah kasus ini. Namun, ia mencatat alasan lain adalah bahwa "sebagian orang tidak menganggap [pandemi ini] dengan serius lagi" karena semakin sedikit orang yang mematuhi aturan jaga jarak dan menghindari perjalanan jarak jauh.

Menurut sebuah jajak pendapat yang dikutip pekan lalu oleh Wakil Menteri Kesehatan Iran Iraj Harirchi, kepercayaan publik terhadap imbauan jaga jarak fisik telah turun dari 90 persen menjadi 40 persen, sementara kepatuhan pada instruksi untuk tetap di rumah juga merosot, dari 86 persen menjadi 32 persen.

Harirchi menyebut temuan itu sebagai sebuah "bencana". Harirchi hanyalah salah satu dari beberapa pejabat pemerintah dalam beberapa hari terakhir yang menegur masyarakat karena mengabaikan aturan kesehatan masyarakat termasuk menjaga jarak secara fisik dan mengenakan masker di depan umum.

"Orang-orang tampaknya berpikir bahwa virus corona sudah berakhir," kata Menteri Kesehatan Saeed Namaki saat konferensi pers pada hari Selasa.

"Wabah belum berakhir, dan bisa kembali kapan saja, lebih kuat dari sebelumnya."

Sehari kemudian, Presiden Hassan Rouhani memperingatkan Iran untuk "mempertimbangkan secara serius" kemungkinan kebangkitan penyakit yang akan memaksa pihak berwenang "untuk menerapkan kembali sejumlah pembatasan" yang sebelumnya diberlakukan untuk memperlambat penyebaran virus corona. Langkah tersebut, katanya, akan mempengaruhi "kehidupan normal warga negara dan sangat merugikan perekonomian."

Namun, sebagian berpendapat bahwa perilaku orang-orang tidak dapat disalahkan atas lonjakan infeksi baru-baru ini.

"Ini 100 persen karena kebijakan yang salah," kata Kamiar Alaei, seorang ahli kesehatan masyarakat Iran dan presiden Institut Kesehatan dan Pendidikan Internasional di Albany, New York.

"Tidak ada koherensi antara tren infeksi dan pengambilan keputusan pemerintah," tambahnya. Alaei menjelaskan bahwa "puncak baru tidak bisa dihindari" jika pembatasan dicabut tanpa memastikan dulu adanya penurunan jumlah infeksi selama dua minggu.

Pada 12 Mei, masjid-masjid di seluruh Iran diizinkan untuk dibuka kembali selama tiga hari untuk merayakan malam Lailatul Qodar di bulan Ramadan. Beberapa warga Iran mengambil kesempatan itu untuk melakukan perjalanan pada akhir pekan itu. Dari 25 Mei hingga 1 Juni, jumlah rawat inap meningkat dari 338 menjadi 652, dan kematian naik dari 34 jadi 84, menurut data dari kementerian kesehatan Iran.

Episentrum wabah Iran bergeser, dari awalnya adalah ibu kota Teheran dan kota di daerah tengah Qom, sekarang berpindah ke provinsi barat Khuzestan.

"Peningkatan jumlah pasien virus corona di Khuzestan menunjukkan bahwa provinsi ini masih dalam situasi yang mengkhawatirkan," Qasem Jan Babaei, juga wakil menteri kesehatan, mengatakan pada Kamis.

Kasus Pertama
Iran adalah salah satu negara pertama yang terdampak sangat parah wabah virus corona, setelah munculnya patogen baru yang sangat menular di Tiongkok akhir tahun lalu.

Pada 19 Februari, pemerintah Iran mengumumkan bahwa dua orang lanjut usia meninggal setelah dites positif mengidap virus corona. Pasangan itu adalah kasus pertama di negara tersebut, dan merupakan kematian ketujuh dan kedelapan yang disebabkan oleh virus di luar Tiongkok daratan.

Sejak itu, Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 167.000 orang dan menyebabkan 8.143 kematian di Iran, walaupun ada dugaan bahwa angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Iran dengan cepat menjadi salah satu pusat pandemi di Timur Tengah dan pemerintah pada bulan Maret mengumumkan serangkaian tindakan mitigasi termasuk memerintahkan penutupan bisnis yang tidak penting dan melarang perjalanan antar kota. Sekolah dan universitas juga tutup, sementara acara keagamaan, budaya, dan olah raga dilarang.

Namun, karena jumlah kasus harian mulai berkurang pada awal April, menyusul puncaknya pada akhir Maret, pihak berwenang mulai menarik kembali pembatasan di tengah kekhawatiran bahwa pembatasan yang berlarut-larut akan memukul ekonominya yang sebelumnya sudah tertatih-tatih karena sanksi Amerika Serikat.

Bazaar dan pusat perbelanjaan di daerah tertentu diizinkan untuk dibuka kembali, sementara perjalanan antar provinsi mulai dilonggarkan.

Sebagian besar pembatasan kegiatan bisnis telah dihapus dan masjid-masjid diizinkan untuk dibuka kembali pada akhir Mei, bahkan ketika jumlah infeksi mulai meningkat lagi.

"Dengan memberitahu orang-orang untuk kembali bekerja dan bahwa wabah itu di bawah kendali, pemerintah mengirim pesan yang salah, seolah menganggap remeh gentingnya wabah itu," Alaei berpendapat.

Tolak Lockdown
Dalam dua minggu terakhir, jumlah kematian baru setiap hari tetap di bawah ratusan, mulai dari 34 pada 25 Mei hingga 81 Juni. Dalam 24 jam terakhir, Iran melaporkan 63 kematian. Jumlah kematian harian tertinggi adalah 158 pada 4 April.

Ke depan, prospek kembali diterapkannya lockdown atau karantina wilayah belum disambut baik oleh mereka yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan.

"Presiden Rouhani tinggal di 'Easy Street', dia tidak memikirkan kita anak muda Iran," Amin Rezaie, seorang barista di Teheran, mengatakan kepada Al Jazeera. "Aku berumur 31 tahun dan aku tidak punya apa-apa. Tidak ada mobil, tidak ada flat, bahkan sepeda motor."

Namun, menurut Ebrahim Mohseni, ekonom dan analis senior di Pusat Penelitian Opini Publik Universitas Teheran, pemerintah maksimal hanya dapat menutup sekolah, masjid dan pusat rekreasi - tetapi tidak bisa menyentuh bisnis dan kegiatan ekonomi.

"Sebagian besar setuju bahwa dampak ekonomi dari setiap penutupan skala besar akan lebih besar dari apa yang dapat disebabkan oleh virus corona untuk populasi Iran yang relatif masih muda," katanya.



Sumber: Al Jazeera