Inggris Terapkan Karantina Dua Pekan untuk Pendatang

Inggris Terapkan Karantina Dua Pekan untuk Pendatang
Alun-alun Trafalgar di London, Inggris, tampak sepi pengunjung pada 5 Mei 2020 akibat karantina nasional atau lockdown untuk mencegah penularan virus corona. (Foto: AFP)
Feriawan Hidayat / FER Senin, 8 Juni 2020 | 19:22 WIB

London, Beritasatu.com - Pemerintah Inggris menerapkan kebijakan wajib karantina mandiri selama dua pekan untuk setiap orang yang datang ke negara itu. Aturan tersebut, efektif mulai diberlakukan per hari ini, Senin (8/6/2020).

Baca Juga: Pangeran William Diam-diam Jadi Relawan Covid-19

Kebijakan yang berlaku untuk warga Inggris dan pendatang dengan beberapa pengecualian, disebutkan bertujuan untuk mencegah penularan gelombang kedua virus corona dari luar negeri.

Namun, kebijakan tersebut ditentang oleh sejumlah maskapai penerbangan dan kalangan pemilik hotel, karena dianggap dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap sektor pariwisata.

Maskapai penerbangan British Airways bersama EasyJet dan Ryanair telah mengajukan protes dan mengancam akan menuntut pemerintah atas kebijakan yang mereka nilai ‘tidak proporsional dan tidak adil’ karena dapat memberikan pengaruh terhadap ribuan lapangan kerja.

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock mengatakan, aturan baru itu sangat masuk akal karena melihat proporsi infeksi Covid-19 yang berasal dari luar negeri terus meningkat, ketika beban kasus positif di Inggris sendiri mengalami penurunan.

Baca Juga: ECB Proyeksi Ekonomi Terkontraksi 8,7%

"Kita harus mengambil pendekatan yang dimulai dengan hati-hati," kata Matt Hancock kepada Sky News, seperti dilansir dari AFP, Senin (8/6/2020).

Untuk memasuki Inggris dengan pesawat, kereta api, atau angkutan laut, para pelancong harus memberikan perincian tentang perjalanan mereka dan alamat tempat mereka akan melakukan isolasi mandiri.

Pengecualian sedang dibuat dalam beberapa kasus, termasuk untuk pengemudi truk, pekerja layanan kesehatan ‘penting’ dan orang-orang yang bepergian dari Irlandia yang telah berada di sana setidaknya selama dua pekan.

Pihak berwenang di Inggris akan melakukan pemeriksaan mendadak dan mereka yang melanggar aturan dapat dihukum dengan denda sebesar 1.000 poundsterling (US$ 1.250) atau sekitar Rp 17,3 juta (kurs Rp 13.885 per dolar AS).



Sumber: AFP