Dua Pekan "New Normal" di Israel, Restoran dan Bar Sepi Pelanggan

Dua Pekan
Ilustrasi restoran. (Foto: Beritasatu Photo / Mohammad Defrizal)
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 10 Juni 2020 | 13:26 WIB

Tel Aviv, Beritasatu.com - Selama dua pekan Israel memulai fase "new normal", sejumlah sektor bisnis antara lain restoran dan bar masih sepi pelanggan.

Israel telah memulai fase "new normal" sejak 27 Mei 2020 dengan membuka kembali kegiatan bisnis setelah kasus virus corona (Covid-19) menurun drastis.

Namun keputusan pemerintah tak sepenuhnya membuat warga Israel nyaman beraktfitas kembali. Sebagian besar masih tetap bekerja dari rumah dan takut mengunjungi tempat publik yang ramai, seperti restoran, bar, serta salon dan barber shop.

Di Ibukota Israel, Tel Aviv, hanya beberapa restoran dan bar yang tetap beroperasi meski sepi pelanggan. Beberapa lainnya memutuskan menunda pengoperasian karena menunggu kondisi kembali normal dan menyesuaika dengan aturan baru terkait batasan jarak antarpelanggan.

Ben Rachmani dari restoran dan bar Four Fourteen, mengatakan selama dua pekan pembukaan kembali kegiatan bisnis, restoran dan bar itu nyaris sepi pelanggan saat siang hari karena banyak warga yang masih bekerja dari rumah.

"Aliran bisnis reguler masih belum kembali normal karena masih banyak orang yang takut ke luar rumah. Pada siang hari restoran kami nyaris sepi karena banyak pelanggan masih bekerja dari rumah. Hanya saat malam hari, restoran kami lumayan ramai," ujar Ben Rahmani kepada Reuters, di Tel Aviv, Israel, Rabu (10/6/2020).

Ben Rachmani mengungkapkan, dia harus membuka kembali restorannya karena memikirkan sumber penghasilan ungtuk membayar sewa. Namun dengan kondisi restoran yang masih sepi meskipun pemerintah telah mengumumkan pembukaan kembali kegiatan bisnis, Ben Rachmani khawatir tak dapat melanjutkan bisnisnya.

"Jika kondisi ini berlangsung sampai September atau Oktober, saya akan selesai," ujar Ben Rachmani.

Di area perbelanjaan Dizengoff Street, Avi Amir, mengatakan toko penata rambut yang dikelolanya kehilangan 40% pelanggan, karena sebagian besar pelanggan yang lanjut usia memilih tetap tinggal di rumah daripada datang ke salon untuk perawatan rambut setelah dua bulan masa penguncian akibat pandemo Covid-19.

Avi Amir juga mengeluhkan aturan birokrasi bagi kegiatan bisnisnya, terkait dengan kewajiban penggunaan masker bagi karyawan dan pelanggan. Pasalnya, dalam seminggu terakhir, dia telah menerima empat surat denda dengan total US$ 1.100 atau sekitar Rp 15,5 juta dari inspektur kota karena staf yang kedapatan tidak memakai pelindung wajah plastik.

Lebih dari 300.000 orang telah kembali bekerja sejak Israel mulai mencabut pembatasan pada akhir bulan lalu. Pada Senin (8/6/2020), Perdana Menteri Mesir, Benjamin Netanyahu, mendesak masyarakat untuk tetap menjaga jarak sosial dan memakai masker, jika tidak ingin pemerintah kembali memperketat pembatasan.



Sumber: Anadolu Agency, Suara Pembaruan