Kekurangan Peralatan Medis Covid-19, Dokter Nigeria Umumkan Mogok Nasional

Kekurangan Peralatan Medis Covid-19, Dokter Nigeria Umumkan Mogok Nasional
Staf medis dengan pakaian pelindung lengkap, mencatat data tes virus Covid-19, di salah satu rumah sakit di Abuja, Nigeria. (Foto: AFP)
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 17 Juni 2020 | 15:17 WIB

Abuja, Beritasatu.com - Dokter Nigeria mengumumkan pemogokan nasional karena kurangnya peralatan medis perlindungan diri untuk perawatan pasien yang terinfeksi virus corona 9Covid-19), di rumah sakit pemerintah. Aksi mogok tersebut, dimulai pada Senin (15/6/2020).

Para dokter mengeluhkan kurangnya peralatan perlindungan diri, diantaranya pakaian pelindung dan masker, sehingga membahayakan keselamatan tenaga medis yang merawat pasien yang positif terinfeksi Covid-19.

Lusinan pekerja perawatan kesehatan Nigeria telah terinfeksi, sebagian karena mereka tidak memiliki peralatan perlindungan diri standar untuk mengantisipasi penyebaran virus Covid-19.

Nigerian Medical Association (NMA), badan yang menaungi para dokter di negara itu, mengatakan proses pengujian yang lambat dan kurangnya alat pelindung dan alat penguji yang memadai, membuat staf medis yang merawat pasien Covid-19 berada dalam bahaya.

Presiden NMA, Dr Francis Faduyile, mengatakan kepada BBC bahwa itu juga penting bagi semua pasien yang tiba di rumah sakit untuk diuji untuk menentukan status mereka terkait virus Covid-19 sebelum perawatan.

Seruan aksi mogok datang setelah beberapa dokter yang melakukan perawatan pasien Covid-19 secara intensif bahkan di klinik yang dibuka di rumah mereka, dilaporkan meninggal karena virus itu.

Epidemiolog di Pusat Afrika untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit memperingatkan ancaman penyebaran Covid-19 yang dapat menjadi bencana bagi Afrika, karena kekurangan tenaga profesional perawatan kesehatan, pasokan peralatan medis, dan  tes kit Covid-19.

Pakar kesehatan masyarakat telah memperingatkan bahwa Afrika bisa menjadi pusat pandemi Covid-19 berikutnya, setelah Amerika Latin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pekan lalu bahwa kasus yang dikonfirmasi di Afrika telah berlipat ganda, yakni mencapai 200.000 hanya dalam 18 hari.

"Meskipun kasus-kasus di Afrika ini kurang dari 3 persen dari total global, jelas bahwa pandemi ini semakin cepat," Dr. Matshidiso Moeti, direktur regional WHO untuk Afrika. 



Sumber: BBC, Suara Pembaruan