3.000 Anak Alami Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Prancis

3.000 Anak Alami Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Prancis
Ilustrasi kasus pedofilia (Foto: Istimewa)
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 18 Juni 2020 | 16:16 WIB

Paris, Beritasatu.com - Lebih dari 3.000 anak telah mengalami pelecehan seksual di Gereja Katolik Prancis sejak 1950. Demikian laporan Komisi Independen Prancis tentang Pelecehan Seksual di Gereja (Commission independante sur les abus sexuels dans l'Eglise/CIASE), di Paris, Prancis, Rabu (17/6/2020).

"Jumlah korban sebenarnya dari pelecehan seksual terhadap anak di gereja Katolik Prancis, mungkin jauh lebih tinggi. Sekitar 1.500 pendeta dan pejabat gereja menjadi pelaku pelecehan itu," kata Presiden CIASE, Jean-Marc Sauv. 

Menurut Jean-Marc Sauv, CIASE telah membuka hotline yang mendesak para korban untuk membuka diri dan melaporkan pelecehan seksual yang mereka alami, tanpa perlu merasa takut bahwa identitas dan aib mereka akan terbongkar.

Panggilan untuk saksi telah dilakukan hingga 31 Oktober 2019 dan ulasan arsip Gereja telah dilanjutkan setelah dihentikan selama penguncian terkait pandemi virus corona (Covid-19) di Prancis.

"Kami telah menerima 5.300 panggilan selama tahun lalu. Jumlah korban diperkirakan sekitar 40 kasus per tahun selama tujuh dekade terakhir. Saya sangat yakin bahwa ada lebih banyak korban," kata Jean-Marc Sauve, kepada wartawan melalui konferensi video.

CIASE melibatkan sejumlah ahli, antara lain pakar hukum, dokter, sejarawan, sosiolog dan teolog. Komisi tersebut, diharapkan akan menghasilkan laporan lengkap dengan rekomendasi tentang cara mencegah penyalahgunaan kekuasaan di Gereja Katolik Prancis, pada akhir tahun.

CIASE dibentuk pada Juni 2019 untuk menyelidiki laporan mengenai dugaan pelecehan seksual terhadap anak-anak di Gereja Katolik Prancis, setelah serangkaian kasus pedofilia yang dilakukan seorang pastor mengguncang gereja Katolik di Prancis dan berbagai negara.

Asosiasi para korban pelecehan seksual terhadap anak memuji janji transparansi Gereja Katolik Prancis, setelah lama menuduh pejabat seniornya menutupi kasus-kasus pedofilia untuk melindungi para imam dari tuntutan.

Kasus Dalam kasus profil tinggi terbaru, seorang pendeta Katolik yang dipecat divonis lima tahun penjara pada bulan Maret karena melakukan pelecehan seksual terhadap pramuka anak laki-laki dalam perawatannya beberapa dekade lalu.

Pastor Bernard Preynat (75), mengaku dalam persidangannya di Pengadilan Kota Lyon, bagian tenggara Prancis, bahwa dia telah membelai bagian tubuh anak-anak yang dia tahu dilarang. Skandal itu menjadi subjek film terkenal tahun lalu berjudul "Grace a Dieu" (Oleh Rahmat Tuhan) oleh sutradara Francois Ozon, yang bekerja dengan beberapa korban.

Tahun lalu, Paus Fransiskus mengesahkan langkah yang mewajibkan mereka yang memiliki pengetahuan tentang pelecehan seksual anak untuk melaporkannya kepada atasan mereka. Langkah Paus Fransiskus tersebut, diharapkan akan membawa banyak kasus tentang pelecehan seksual terhadap anak-anak di Gereja Katolik terungkap. 



Sumber: AFP, Suara Pembaruan