Megastimulus UE Berpotensi Munculkan Perang Dagang dengan AS

Megastimulus UE Berpotensi Munculkan Perang Dagang dengan AS
Ilustrasi kerjasama dagang Uni Eropa dan Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Jumat, 19 Juni 2020 | 16:40 WIB

Brussels, Beritasatu.com - Hari ini, 27 anggota Uni Eropa mengadakan pertemuan negosiasi rencana stimulus 750 miliar euro atau sekitar Rp 11.975 triliun untuk mengatasi dampak Covid-19. 

Masih terdapat beberapa poin yang harus disepakati dari stimulus ini, seperti siapa yang berhak mendapatkan stimulus dan apakah akan disalurkan dalam bentuk hibah atau pinjaman. Jika disalurkan dalam bentuk pinjaman, bagaimana cara membayar kembali pinjaman tersebut dan apa syarat-syarat untuk menerima dana.

Baca juga: UE Beri Pinjaman Rp 12.200 Triliun untuk Pemulihan Ekonomi

Dalam artikel Financial Times, empat pemimpin dari Austria, Belanda, Swedia, dan Denmark mengeluarkan pernyataan bersama bahwa dana harus diberikan kepada yang berhak dan harus dibayar kembali. Keempat negara ini paling vokal menyuarakan penolakan memberikan sebagian besar stimulus dalam bentuk hibah.

Komisi Eropa memperkirakan pertumbuhan ekonomi zona Eropa akan terkontraksi hingga 7,4 persen pada 2020.

Sejumlah kalangan menilai pertemuan hari ini tidak akan menghasilkan kesepakatan tetapi tetap memberikan jalan untuk menjembatani perbedaan prinsip yang dapat membuahkan kesepakatan di kemudian hari. Presiden Dewan Eropa Charles Michel, yang juga pemimpin negosiasi, mengaku butuh waktu berminggu-minggu untuk mencapai kesepakatan.

"Tujuan akhir kami adalah mencapai kesepakatan secepat mungkin. Masih banyak yang harus dibicarakan sebelum mencapai kesepakatan. Kami harus bekerja keras dalam beberapa hari dan minggu-minggu ke depan," kata dia.

Seorang sumber pejabat mengatakan kepada CNBC bahwa diperlukan pertemuan tatap muka untuk mencapai kesepakatan. Pemimpin-pemimpin Eropa belum mengadakan pertemuan tatap muka sejak Februari lalu.

Perang Dagang AS-Eropa?
Komisi Eropa menawarkan pajak digital internasional atau menarik pajak dari perusahaan teknologi yang beroperasi secara internasional untuk mendanai pelunasan pinjaman stimulus. Namun, hal ini sulit terealisasi karena berpotensi menyebabkan perang dagang dengan AS.

Di benua seberang, Amerika Serikat menolak rencana itu. AS menilai pajak itu secara spesifik mengincar perusahaan-perusahaan teknologi AS. Gedung Putih mengatakan akan membalas negara yang menerapkan pajak digital dengan menerapkan bea impor. Ibarat memakan buah simalakama, UE harus memilih untuk menarik pajak digital demi mendanai stimulus atau memulai perang dagang dengan AS.



Sumber: CNBC.com