PM Inggris Dikabarkan Jual Rumahnya di London Seharga US$ 4,8 juta

PM Inggris Dikabarkan Jual Rumahnya di London Seharga US$ 4,8 juta
Rumah Boris Johnson di Islington, bagian utara London, Inggris. (Foto: Istimewa)
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 25 Juni 2020 | 18:47 WIB

London, Beritasatu.com - Perdana Menteri (PM) Inggris, Boris Johnson, dikabarkan telah menjual rumahnya di Islington, bagian utara London. Harga pasaran rumah tersebut sekitar 3,754 juta poundsterling atau US$ 4,8 juta (Rp 68,475 miliar).

Rumah yang ditempati Boris Johnson bersama mantan istrinya itu, telah dipasarkan pada Mei 2019, hanya sehari setelah Boris Johnson mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri sebagai pengganti PM Theresa May yang mengundurkan diri.

Rumah Boris Johnson yang masuk Grade II di kawasan London itu, terjual pada September 2019, atau kurang dari enam bulan sejak dipasarkan. Namun karena transaksi belum mencapai tahap akhir, maka identitas pembeli dan harga jual riil-nya belum diumumkan.

Meski demikian, catatan daftar properti di Townhouse Islington, menyebut harga pasaran rumah di kawasan itu sekitar 3,754 juta poundsterling. 

Rumah Boris Johnson dan mantan istrinya merupakan rumah bergaya kuno yang dibangun pada 1841, dengan empat kamar tidur, taman, dan teras pribadi yang meghadap kanal.

Rumah berlantai lima itu, dibangun di halaman seluas 3.000 meter persegi, dan menggabungkan keanggunan sebuah rumah bergaya Georgia dengan kenyamanan sentuhan modern.

Boris Johnson berpisah dengan istrinya pada awal tahun lalu, tak lama kemudian dia mencalonkan diri sebagai PM Inggris dan terpilih.

Tidak jelas apakah hasil penjualan rumah itu, merupakan bagian dari pembagian harta gono-gini Boris Johnson dan mantan istrinya setelah bercerai. Yang pasti sejak menjadi PM Inggris pada Juli 2019, Boris Johnson telah pindah ke kediaman PM Inggris di Downing Street 10, London.

Agen real estate Chestertons yang menangani penjualan rumah Boris Johnson belum memberi konfirmasi atas pemberitaan tersebut. Hal senada juga dilakukan Boris Johnson, yang menolak berkomentar.



Sumber: The Daily Mail, Suara Pembaruan