KTT ASEAN Sahkan Dua Dokumen Hadapi Perubahan Akibat Covid-19
Sabtu, 27 Juni 2020 | 08:22 WIB
Hanoi, Beritasatu.com - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-36 Perhimpunan Negara-Negara di Asia Tenggara (ASEAN), pada Jumat (26/6/2020), mengesahkan dua dokumen untuk membangun kekuatan regional dalam menghadapi perubahan akibat pandemi virus corona (Covid-19).
KTT ke-36 ASEAN yang berpusat di Hanoi, Vietnam, dipimpin oleh Perdana Menteri (PM) Vietnam Nguyen Xuan Phuc selaku ketua ASEAN tahun 2020 dan dihadiri sembilan kepala negara ASEAN lainnya secara virtual, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dalam pertemuan selama dua jam, para pemimpin membahas berbagai tantangan yang dihaadapi di masa pandemi Covid-19, baik di bidang kesehatan, ekonomi, perdagangan, dan kelanjutan pembangunan di negara-negara ASEAN yang masih berkembang.
KTT ini mengesahkan dua dokumen. Dokumen pertama adalah Leaders' Vision Statement on a Cohesive and Responsive ASEAN: Rising above Challenges and Sustaining Growth (Pernyataan Visi Pemimpin tentang ASEAN yang Kohesif dan Responsif: Bangkit di atas Tantangan dan Mempertahankan Pertumbuhan). Dokumen kedua yang disahkan adalah ASEAN Declaration on Human Resources Development for Changing World of Work (Deklarasi ASEAN tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Mengubah Dunia Kerja).
Dalam acara pembukaan, Sekretaris Jenderal ASEAN, Lim Jock Hoi, menyatakan situasi ekonomi ASEAN dalam keadaan tidak baik, namun ASEAN telah mengambil langkah cepat dan menentukan dalam memitigasi persoalan bersama dengan mitranya, salah satunya lewat KTT ASEAN Plus Three (ASEAN bersama Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan) pertengahan April lalu.
“Sekjen ASEAN Dato Lim Jock Hoi mencatat beberapa hal, untuk pertama kalinya dalam 23 tahun terakhir, ASEAN mengalami kontraksi ekonomi,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, mengutip pernyataan Sekjen ASEAN, dalam konferensi pers virtual usai pelaksanaan KTT ASEAN, Jumat.
Menurut Retno Marsudi, di tengah tantangan pandemi, Sekjen ASEAN melihat komitmen kerja sama antar negara ASEAN masih sangat kuat, terlepas situasi sulit masing-masing negara. Misalnya, pada bidang kesehatan, ASEAN sepakat untuk membentuk Regional Pandemic Response Fund (Dana Respons Pandemi Kawasan) yang pembahasannya diharapkan bisa segera selesai.
Sekjen ASEAN juga mendorong fasilitasi perdagangan salah satunya lewat ASEAN Single Window (ASW) untuk mengembalikan konektivitas rantai pasokan yang sempat terganggu selama pandemi.
“Di dalam konteks pilar ekonomi, rencana penandatanganan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) adalah indikasi sangat kuat akan upaya keras ASEAN untuk terus mendukung sistem perdagangan multilateral,” kata Retno Marsudi mengutip Lim Jock Hoi.
Retno Marsudi mengatakan, Presiden Joko Widodo, yang mengikuti KTT ASEAN dari Istana Bogor, meyakini ASEAN mampu melewati masa sulit saat ini karena adanya pondasi kuat yang sudah dibangun selama lima dekade terakhir. Jokowi, ujar Retno, mendorong ASEAN agar memperkuat kerja sama untuk percepatan pemulihan ekonomi.
[JAKARTA] Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-36 ASEAN yang digelar secara virtual sekitar dua jam, Jumat (26/6). Dalam acara pembukaan, Sekretaris Jenderal ASEAN Lim Jock Hoi menyatakan situasi ekonomi ASEAN dalam keadaan tidak baik, namun ASEAN telah mengambil langkah cepat dan menentukan dalam memitigasi persoalan bersama dengan mitranya, salah satunya lewat KTT ASEAN Plus Three (ASEAN bersama Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan) pertengahan April lalu.
“Sekjen ASEAN Dato Lim Jock Hoi mencatat beberapa hal, untuk pertama kalinya dalam 23 tahun terakhir, ASEAN mengalami kontraksi ekonomi,” kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, mengutip pernyataan Sekjen ASEAN, dalam konferensi pers virtual usai pelaksanaan KTT ASEAN, Jumat.
Ekonomi Minus
Menurut Retno, Jokowi juga mengingatkan laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) yang merevisi pertumbuhan ekonomi dunia dari minus 3 persen menjadi minus 4,9 persen. Di sisi lain, tantangan pandemi semakin berat karena situasi global yang ditandai persaingan atau rivalitas dari kekuatan besar, ditambah pesimisme terhadap multilateralisme.
“Presiden mengatakan, rules based order semakin banyak dilanggar. Dengan kondisi perubahan geopolitik seperti saat ini, presiden menekankan pentingnya peran ASEAN dalam menavigasi perubahan,” kata Retno, merujuk istilah yang bisa diartikan sebagai komitmen bersama sesuai aturan yang disepakati bersama di tatanan internasional.
Retno menjelaskan Presiden Jokowi juga mendorong pertumbuhan ekonomi ASEAN lewat konektivitas barang, jasa, dan para pelaku ekonomi. Jokowi juga mendorong adanya ASEAN travel corridor (koridor perjalanan ASEAN) secara bertahap dimulai dari bisnis esensial berdasarkan protokol kesehatan yang ketat.
“ASEAN travel corridor selain penting untuk percepatan ekonomi ASEAN, juga menunjukkan arti strategis komunitas ASEAN baik di kawasan maupun dunia internasional,” kata Retno.
Presiden Jokowi, tambah Retno, juga mendorong penguatan kerja sama kawasan. Di tengah pesimisme terhadap multilateralisme, kerja sama kawasan menjadi lebih penting untuk mengembalikan harapan atas multilateralisme yang efektif, efisien, dan berkeadilan.
“Bapak presiden menekankan kerja sama ASEAN dan ASEAN led mechanism (mekanisme dipimpin ASEAN) dapat menjadi mesin penggerak bagi stabilitas dan perdamaian kawasan di era new normal ini,” kata Retno. [C-5]
Sumber: Suara Pembaruan
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI
Soal Maju Jadi Cawapres, Khofifah Belum Dapat Lampu Hijau dari PBNU
Wisata Taman Rekreasi Pesawat, Nikmati Detik-Detik Pesawat Terbang dan Kuliner Seru
Hasil Arsenal vs Man City: Dramatis, Meriam London Juara Community Shield Lewat Adu Penalti
Hasil Man Utd vs Athletic Bilbao 1-1: Pellistri Selamatkan Setan Merah dari Kekalahan
B-FILES
Urgensi Mitigasi Risiko Penyelenggara Pemilu 2024
Zaenal Abidin
Identitas Indonesia
Yanto Bashri
Jokowi Apa Kehendakmu?
Guntur Soekarno
Hasil Arsenal vs Man City: Dramatis, Meriam London Juara Community Shield Lewat Adu Penalti




