Obat Tradisional Covid-19 Ini Terinspirasi Buku Berusia 1.800 Tahun

Obat Tradisional Covid-19 Ini Terinspirasi Buku Berusia 1.800 Tahun
Ilustrasi Rempah-rempah Jamu (Foto: Botohindonesia.com)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 29 Juni 2020 | 08:49 WIB

Beijing, Beritasatu.com - Salah satu perawatan terpopuler asal Tiongkok untuk pasien Covid-19 adalah pengobatan tradisional. Hal ini terinspirasi dari buku teks medis yang ditulis 1.800 tahun lalu. Popularitas obat -kapsul Lianhua Qingwen- telah menghasilkan pundi-pundi kekayaan pada perusahaan yang memproduksi, termasuk pemegang sahamnya.

Terlepas peningkatan penjualan akibat virus corona, produsen obat tradisional masih menghadapi perjuangan berat untuk membuktikan kemanjuran medis guna mempertahankan pangsa pasar domestik dan mendapatkan pengakuan di luar negeri.

"Penjualan kapsul Lianhua Qingwen naik hampir dua kali lipat pada kuartal pertama tahun ini," kata Manajer Umum Shijiazhuang Yiling Pharmaceutical, yang memproduksi obat, Wu Xiangjun, dikutip South China Morning Post, Senin (29/6/2020).

Perusahaan kata dia, terus mendorong produk tradisional itu agar terdaftar dan dijual di luar negeri.

Baca juga: Obat Covid-19 Wajib Penuhi Standar Kesehatan

Kapsul Lianhua Qingwen yang dikembangkan pada 2003 untuk mengobati sindrom pernapasan akut (Sars), mengekstrak 13 esensi herbal berdasarkan resep dari teks medis klasik. Buku itu ditulis selama Dinasti Han (206 SM - 220 M).

Pada Februari 2020, kapsul Lianhua Qingwen menjadi bagian terapi standar nasional Tiongkok untuk pasien Covid-19, bersama dua formula obat tradisional lainnya. Hingga kini, belum ditemukan obat untuk menyembuhkan Covid-19.

Sementara Kedutaan Besar Tiongkok memasukkan obat tradisional ke dalam paket perawatan yang dikirim ke pelajar Tiongkok di luar negeri bersama masker dan disinfektan. Obat ini dijual seharga US$ 24 per kotak di situs e-commerce eBay di Inggris. Sementara di Tiongkok, obat itu dibanderol sekitar 25 yuan (US$ 4).

Berkat promosi dan dukungan para pejabat, pandemi ini telah memperkuat peran penting pengobatan tradisional Tiongkok dalam sistem perawatan kesehatan negara itu, meskipun keefektivannya masih kontroversi. Pengobatan tradisional menyumbang 18 persen hingga 30 persen dari pasar obat Tiongkok senilai 2 triliun yuan (US$ 283 miliar), menurut berbagai perkiraan.

“Kami mendapat banyak permintaan pengobatan tradisional Tiongkok untuk mengobati penyakit umum seperti flu dan diare setelah pandemi,” kata Mandy Zuo, dokter yang bekerja di rumah sakit umum di kota Tianjin, Tiongkok timur laut.

Baca juga: Juli, Hasil Uji Klinis Obat Herbal Pasien Covid-19 Keluar

Akibatnya, sejumlah produsen obat tradisional Tiongkok menuai hasil yang menakjubkan pada kuartal pertama 2020. Shijiazhuang Yiling Pharmaceutical, melaporkan kenaikan laba bersih 52 persen menjadi 438 juta yuan dari periode yang sama tahun lalu.

Saham perusahaan yang terdaftar di Bursa Shenzhen itu meroket 148 persen pada tahun ini menjadi 30,58 yuan. Sementara jumlah pemegang sahamnya juga naik lebih dua kali lipat menjadi 108.000 di bulan Maret dibanding akhir tahun lalu.

Adapun Tianjin Chase Sun Pharmaceutical, produsen injeksi Xuebijing, salah satu dari tiga formula yang termasuk dalam terapi standar nasional, mengatakan pendapatan dari produk tradisional melonjak signifikan menjadi 178 juta yuan. Sejalan dengan itu, harga saham perusahaan naik 57 persen pada tahun ini.

Adapun Shandong Wohua Pharmaceutical, produsen obat untuk menyembuhkan influenza, membukukan kenaikan laba bersih 226 persen menjadi 44,1 juta yuan.

Meski sukses, perusahaan obat tradisional Tiongkok masih menghadapi tantangan besar. Sebagian besar ilmuwan dan dokter Barat meragukan kemanjurannya, karena belum melewati uji klinis ketat sebagai bukti pengobatan modern.

Meskipun Beijing telah mendorong memodernisasi pengobatan tradisional Tiongkok melalui penerbitan standar baru, namun belum cukup untuk menebus praktik ilmiah, kata editorial di Nature yang dipublikasikan Juni, salah satu jurnal ilmiah paling bergengsi di dunia.

Sejauh ini, kapsul Lianhua Qingwen telah disetujui untuk dijual di Brasil, Indonesia, Kanada, Mozambik, Singapura, Rumania, Ekuador, serta Hong Kong dan Makau, menurut perusahaan.



Sumber: SCMP