WHO Kirim Tim ke Tiongkok Investigasi Asal Usul Covid-19

WHO Kirim Tim ke Tiongkok Investigasi Asal Usul Covid-19
Ilustrasi Virus Corona (Foto: istimewa / istimewa)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 30 Juni 2020 | 06:47 WIB

Jenewa, Beritasatu.com - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam briefing Senin (29/6/2020) mengatakan pihaknya akan mengirim tim ke Tiongkok minggu depan untuk menyelidiki asal-usul virus corona (Covid-19).

"Kita bisa melawan virus dengan lebih baik ketika mengetahui segalanya tentang virus, termasuk bagaimana virus itu dimulai. Kami akan mengirim tim minggu depan ke Tiongkok untuk mempersiapkan itu," kata Tedros.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan penyakit itu lolos dari laboratorium di Wuhan, meskipun keduanya tidak menunjukkan bukti atas argumen ini.

Namun Tiongkok telah membantah hal tersebut. Otoritas Tiongkok membantah telah menutupi informasi awal terkait Covid-19 dan mengklaim telah menyediakan informasi secara tepat waktu dan transparan. Sejauh ini, para ilmuwan mengatakan virus itu muncul di alam, bukan dari laboratorium.

Baca juga: Tiongkok Bantah Tutupi Informasi Awal Virus Covid-19

Tiongkok menghadapi tekanan global seiring pandemi virus Covid-19 yang berasal dari Kota Wuhan. Sejumlah negara telah mendesak PBB untuk melakukan penyelidikan independen terkait sumber Covid-19 di Tiongkok dan bagaimana penyebarannya meluas hingga menjadi pandemi global.

Tiongkok telah menyatakan membuka akses untuk penyelidikan, tetapi hanya untuk penyidik dari PBB. Sebelumnya, AS telah mengajukan permintaan kepada PBB untuk melakukan penyelidikan terkait asal virus Covid-19 dan penananganannya hingga menyebar ke seluruh dunia, namun ditolak Tiongkok.

Baca juga: Terkait Wabah Covid-19, Partai Republik Selidiki WHO dan Tiongkok

Trump telah mengumumkan rencana untuk keluar dari WHO, yang menurutnya terlalu dekat dengan Tiongkok. Dia berulang kali menekankan asal virus Tiongkok dengan menyebutnya "Kung Flu" di dua unjuk rasa bulan ini. Istilah itu tidak dapat diterima dan dinilai rasis oleh kelompok Asia-Amerika.

Ditanya tentang penggunaan istilah Trump, Direktur Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan, menyerukan wacana internasional didasarkan pada rasa saling menghormati. "Banyak orang di seluruh dunia menggunakan bahasa yang tidak menguntungkan dalam merespons ini," katanya.

Ryan mengatakan sudah ada kemajuan luar biasa dalam pengembangan vaksin. Namun belum ada yang menjamim keberhasilan. Di tengah kondisi itu, negara di dunia harus menggunakan strategi yang ada, seperti pembatasan jarak sosial dan pelacakan kontak. "Banyak, banyak negara yang menerapkan strategi komprehensif mencapai tingkat penularan virus rendah, tetapi harus selalu waspada jika ada klaster atau wabah kecil," kata dia.



Sumber: CNA, Reuters