Diboikot 90 Perusahaan, Saham Facebook Turun 10%

Diboikot 90 Perusahaan, Saham Facebook Turun 10%
Ilustrasi Facebook (Foto: RTE / Dokumentasi)
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 30 Juni 2020 | 15:21 WIB

New York, Beritasatu.com - Lebih dari 90 perusahaan memboikot Facebook dengan menghentikan pemasangan iklan di perusahaan media sosial itu, mulai 1 Juli 2020.

Aksi boikot itu, terkait dengan kampanye #StopHateforProfit yang menentang konten ujaran kebencian dan rasisme di platform media sosial terkait pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) 2020. 

Sejumlah perusahaan ritel besar seperti Coca-Cola, Unilever, Levi Strauss & Co mendukung kampanye tersebut, dan menuntut Facebook dan perusahaan media sosial lainnya, melakukan audit dan tindakan yang lebih tegas untuk membersihkan platform mereka dari konten diskriminatif, ujaran kebencian dan berita palsu.

Pemboikotan itu, membuat harga saham Facebook pada perdagangan Jumat (26/6/2020) dan Senin (29/6/2020) turun sebesar 10%. Bahkan pada perdagangan Jumat (26/6/2020), Facebook dilaporkan mengalami kerugian sebesar US$ 56 miliar atau Rp 803,681 triliun dari nilai pasar perusahaan.

Kampanye #StopHateforProfit merupakan gerakan menentang diskriminasi, ujaran kebencian, dan penyebaran berita palsu di media sosial, menjelang Pilpres AS, pada 3 November 2020. Gerakan tersebut, diluncurkan oleh Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Orang Kulit Berwarna (NAACP) dan Liga Anti-Pencemaran Nama Baik (ADL) di Amerika Serikat (AS).

Aksi boikot perusahaan terhadap Facebook sudah berlangsung selama sepekan terakhir, namun pukulan besar bagi Facebook terjadi saat dua perusahaan ritel raksasa, yakni Unilever dan Coca-Cola mengumumkan akan menghentikan seluruh iklan di Facebook.

Pada Jumat (26/6/2020), Unilever mengumumkan akan menarik seluruh iklan dari perusahaan media sosial, baik Facebook, Twitter dan Instagram, selama sisa tahun 2020.

Manajemen Unilever menilai pemasangan iklan di platform media sosial yang tidak bisa mengontrol konten diskriminatif, ujaran kebencian dan berita palsu tidak memberi nilai tambah bagi perusahaan.

“Mengingat kerangka tanggung jawab kami dan atmosfer yang terpolarisasi di AS, kai telah memutuskan bahwa mulai sekarang hingga setidaknya akhir tahun kami tidak akan memasang iklan di platform newsfeed media sosial Facebook, Twitter dan Instagram di AS. Kami akan terus memantau dan meninjau kembali posisi kami saat ini jika diperlukan,” bunyi pernyataan Unilever, yang diumumkan Jumat (26/6/2020).

Wall Street Journal melaporkan alasan Unilever menarik iklan di Facebook, Twitter dan Instagram didorong oleh kekhawatiran atas pidato kebencian dan konten memecah belah yang marak di platform media sosial itu menjelang Pilpres AS 2020.

“Berdasarkan pada polarisasi saat ini dan pemilihan di AS, perlu ada lebih banyak penegakkan (hukum, Red) terkait pidato kebencian,” kata Wakil Presiden Eksekutif Unilever, Luis Di Como, seperti dikutip Wall Street Journal.

Pernyataan Unilever tersebut berpotensi menghilangkan pendapatan Facebook. Pasalnya, Unilever merupakan pengiklan yang menempati urutan ke-30 tertinggi yang memasang iklan di Facebook sepanjang 20119.

Perusahaan pemantau periklanan, Pathmatics, menyatakan Facebook akan kehilangan pendapatan sekitar US$ 42 juta atau Rp 602,760 miliar yang diperoleh dari pemasangan iklan Unilever.

Pengumuman yang sama juga dilakukan manajemen Coca-Cola, yang menyatakan akan menghentikan iklan di media sosial global, baik Facebook, Twitter, dan Instagram setidaknya sepanjang Juli 2020.

Langkah tersebut dilakukan manajemen Coca-Cola sebagai bentuk protes terhadap konten pidato kebencian dan rasis di Facebook, Instagram dan Twitter, menjelang Pilpres AS 2020.

“Tidak ada tempat untuk rasisme di dunia nyata dan tidak ada tempat untuk rasisme di media sosial,” kata CEO Coca-Cola, James Quincey.

Coca-Cola menuntut akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dari Facebook, Twitter dan Instagram dan platform media sosial untuk mengambil tindakan menghentikan konten diskriminatif dan ujaran kebencian.

Meski demikian, Coca-Cola menyatakan penangguhan iklan di platform media sosial tak berarti perusahaan bergabung dengan kampanye #StopHateforProfit.

James Guincey mengatakan perusahaan akan menilai kembali kebijakan periklanan jika ada perubahan dan tindakan nyata dari platform media sosial dalam menghentikan konten rasis dan pidato kebencian.



Sumber: Suara Pembaruan