Gara-Gara Facebook Diboikot

Zuckerberg Tergeser dari Posisi Ketiga Orang Terkaya Dunia

Zuckerberg Tergeser dari Posisi Ketiga Orang Terkaya Dunia
CEO Facebook Mark Zuckerberg (Foto: AFP / JOSH EDELSON)
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 30 Juni 2020 | 19:37 WIB

New York, Beritasatu.com - CEO Facebook, Mark Zuckerberg, harus rela tergeser dari posisi ketiga orang terkaya di dunia berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, akibat aksi boikot terhadap Facebook. Mark Zuckerberg digeser oleh bos Luis Vuitton, Bernard Arnault.

Mark Zuckerberg tergeser dari peringkat ketiga orang terkaya dunia karena nilai kekayaan bersih pribadinya dilaporkan mengalami penurunan sebesar US$ 7,2 miliar atau Rp 103,330 triliun akibat aksi boikot yang dilakukan sekitar 90 perusahaan Amerika Serikat (AS) terhadap Facebook.

Bloomberg Billionaires Index adalah peringkat harian orang terkaya di dunia yang perhitungannya disediakan dalam analisis kekayaan bersih di halaman profil masing-masing miliarder. Angka-angka diperbarui pada penutupan perdagangan di Bursa Efek New York, setiap hari.

Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index per 30 Juni 2020, CEO Amazon.com, Jeff Bezos, masih menduduki posisi pertama orang terkaya di dunia dengan total kekayaan bersih sebesar US$ 161 miliar, diikuti Pendiri Microsoft, Bill Gates dengan total kekayaan bersih sebesar US$ 112 miliar.

Bernard Arnault, menggeser Mark Zuckerberg di posisi ketiga orang terkaya dunia dengan total kekayaan bersih sebesar US$ 87,8 miliar. Sedangkan Mark Zuckerberg tergeser ke tempat keempat orang terkaya dunia dengan nilai kekayaan bersih sebesar US$ 83,9 miliar.

Lebih dari 90 perusahaan memboikot Facebook dengan menghentikan pemasangan iklan di perusahaan media sosial itu, mulai 1 Juli 2020.

Aksi boikot itu, terkait dengan kampanye #StopHateforProfit yang menentang konten ujaran kebencian dan rasisme di platform media sosial terkait pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) 2020.

Sejumlah perusahaan ritel besar seperti Coca-Cola, Unilever, Levi Strauss & Co mendukung kampanye tersebut, dan menuntut Facebook dan perusahaan media sosial lainnya, melakukan audit dan tindakan yang lebih tegas untuk membersihkan platform mereka dari konten diskriminatif, ujaran kebencian dan berita palsu.

Pemboikotan itu, membuat harga saham Facebook pada perdagangan Jumat (26/6/2020) dan Senin (29/6/2020) turun sebesar 10%. Bahkan pada perdagangan Jumat (26/6/2020), Facebook dilaporkan mengalami kerugian sebesar US$ 56 miliar atau Rp 803,681 triliun dari nilai pasar perusahaan.

Kampanye #StopHateforProfit merupakan gerakan menentang diskriminasi, ujaran kebencian, dan penyebaran berita palsu di media sosial, menjelang Pilpres AS, pada 3 November 2020. Gerakan tersebut, diluncurkan oleh Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Orang Kulit Berwarna (NAACP) dan Liga Anti-Pencemaran Nama Baik (ADL) di Amerika Serikat (AS).

Aksi boikot perusahaan terhadap Facebook sudah berlangsung selama sepekan terakhir, namun pukulan besar bagi Facebook terjadi saat dua perusahaan ritel raksasa, yakni Unilever dan Coca-Cola mengumumkan akan menghentikan seluruh iklan di Facebook.

Unilever mengumumkan akan menarik seluruh iklan dari perusahaan media sosial, baik Facebook, Twitter dan Instagram, selama sisa tahun 2020. Sedangkan Coca-Cola mengumumkan akan menarik seluruh iklan di Facebook, Instagram, dan Twitter paling tidak sepanjang Juli 2020 dan akan meninjaunya sesuai dengan reaksi manajemen platform media sosial itu untuk mengontrol konten diskriminatif, ujaran kebencian, dan berita palsu.

Menanggapi kampanye #StopHateforProfit, Mark Zuckerberg mengatakan, perusahaannya akan mengambil langkah lebih lanjut untuk menghentikan konten diskriminatif dan ujaran kebencian, termasuk penindasan terhadap pemilih terkait Pilpres As 2020.

“Saya optimistis bahwa kita dapat membuat kemajuan dalam kesehatan masyarakat dan keadilan rasial, sabil mempertahankan tradisi demokrasi kita di seputar kebebasan berpendapat dan memilih,” kata Mark Zuckerberg.



Sumber: Suara Pembaruan, Bloomberg