Pakar Penyakit Menular Sebut Covid-19 di AS Bisa 100.000 Per Hari

Pakar Penyakit Menular Sebut Covid-19 di AS Bisa 100.000 Per Hari
Kapal RS USNS Comfort saat memasuki New York Harbor selama wabah penyakit corona (Covid-19) di New York City, AS, 30 Maret 2020. (Foto: CNBC)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 1 Juli 2020 | 07:38 WIB

Washington, Beritasatu.com - Penasihat kesehatan Gedung Putih Dr. Anthony Fauci pada Selasa (1/7/2020) mengatakan pandemi virus corona (Covid-19) di Amerika serikat (AS) bisa mencapai 100.000 kasus per hari atau naik dua kali lipat dari saat ini jika lonjakan tidak terkendali. AS saat ini melaporkan hampir 40.000 kasus virus corona setiap hari, atau hampir dua kali lipat dari 22.800 pada pertengahan Mei. Sebagian besar didorong dari sejumlah negara bagian di Selatan dan Barat.

Fauci mengatakan sekitar 50 persen dari semua kasus baru berasal dari empat negara bagian yakni Florida, California, Texas dan Arizona. "Saya tidak bisa membuat prediksi yang akurat, tetapi itu akan sangat mengganggu," kata pria yang menjabat Kepala Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS ini kepada para senator dalam audiensi yang diadakan Komite Senat Kesehatan, Pendidikan, Perburuhan dan Pensiun.

“Kami sekarang memiliki 40.000-an kasus baru setiap hari. Saya tidak akan terkejut jika kita akan mencapai 100.000 sehari, jadi saya sangat prihatin,” kata dia.

Baca juga: Ini Harga Remdesivir, Obat Darurat untuk Pasien Covid-19 di AS

Jumlah kasus baru yang dilaporkan setiap hari di AS sekarang melebihi April, ketika virus mengguncang negara bagian Washington dan bagian Timur Laut, terutama wilayah metropolitan Kota New York.

AS rata-rata mencatat 39.750 kasus baru per hari selama tujuh hari terakhir pada Senin (29/6/2020), menurut analisis data CNBC yang dikumpulkan Universitas Johns Hopkins. Jumlah itu meningkat lebih 40 persen dibandingkan seminggu lalu. Pada Selasa pagi (30/6/2020), rata-rata tujuh hari kasus baru harian yang dilaporkan naik lebih 5 persen setiap minggu di 40 negara bagian.

Komentar Fauci menjawab pertanyaan Senator Elizabeth Warren, dari Partai Demokrat asal Massachusetts, yang bertanya apakah AS menuju arah yang benar dalam mengendalikan wabah. "Yah saya pikir angka-angka berbicara sendiri," kata Fauci.

Baca juga: Covid-19 Gelorakan Kembali Perang Dagang Global

Dia mengaku prihatin dan tidak puas dengan kondisi saat ini. Pasalnya, AS berada pada arah yang salah jika melihat kurva kasus baru. "Jadi kita benar-benar harus melakukan sesuatu dan perlu melakukan dengan cepat," kata dia.

New York, New Jersey dan Connecticut pekan lalu mengumumkan akan mengkarantina 14 hari bagi setiap wisatawan yang datang dari negara bagian dengan angka Covid-19 tinggi. Meski demikian, Fauci mengatakan peningkatan infeksi di negara bagian manapun di AS, bisa menjadi ancaman dan menyebar ke wilayah lain.

"Ketika Anda memiliki wabah di satu negara bagian, meskipun negara bagian lain baik-baik saja, tetap akan rentan. Saya mengatakan hal itu dengan sangat jelas minggu lalu di sebuah konferensi pers. Kami tidak bisa hanya fokus pada area-area yang mengalami lonjakan," kata Fauci.

Fauci mengatakan, lonjakan kasus mungkin sebagian didorong sejumlah negara bagian yang membuka kembali aktivitas ekonominya terlalu cepat. Selain itu, mengabaikan pedoman kesehatan yang bertujuan membantu negara-negara bagian memulai kembali dengan aman. "Kita harus memastikan bahwa ketika negara-negara bagian mulai membuka lagi, mereka harus mengikuti pedoman yang telah disusun dengan sangat hati-hati sehubungan dengan pos-pos pemeriksaan," kata Fauci, Selasa.

Dia menambahkan bahwa beberapa negara bagian mungkin berjalan terlalu cepat sehubungan dengan pembukaan kembali aktivitas ekonomi dan melompati beberapa pos pemeriksaan.

Di tengah sebagian besar negara bagian masih ditutup pada bulan April, Gedung Putih menerbitkan panduan terkait pembukaan kembali bisnis. Pedoman tersebut mencakup rekomendasi seperti menunggu dibuka kembali sampai kasus baru setiap hari turun 14 hari, meningkatkan pengujian dan pelacakan kontak, dan menaikkan kapasitas rumah sakit.



Sumber: CNBC