Sengketa Perbatasan di Perairan, Jepang dan AS Kecam Klaim Tiongkok

Sengketa Perbatasan di Perairan, Jepang dan AS Kecam Klaim Tiongkok
Garis Merah adalah wilayah sengketa di Laut China Selatan yang melibatkan Tiongkok dan sejumlah negara-negara di Asean. (Foto: AFP Photo / D.Rosenberg)
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 15 Juli 2020 | 13:36 WIB

Washinton, Beritasatu.com-Jepang dan Amerika Serikat (AS) menyampaikan kritik terbaru atas klaim Tiongkok di perairan sengketa yaitu Laut China Timur (LCT) dan Laut China Selatan (LCS). Dalam tinjauan pertahanan tahunan, Jepang menyatakan Tiongkok memaksakan klaim wilayahnya di tengah pandemi Covid-19 serta menyebarkan propaganda dan disinformasi dengan menyediakan bantuan medis kepada negara-negara yang memerangi Covid-19.

“Tiongkok terus berupaya mengubah status quo di Laut China Timur dan Laut China Selatan,” sebut pernyataan buku putih pertahanan Jepang yang disetujui oleh pemerintahan Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe, Selasa (14/7).

Buku putih itu menggambarkan intrusi (gangguan) tanpa henti di perairan sekitar pulau-pulau kecil yang diklaim baik oleh Jepang maupun Tiongkok di Laut China Timur, yang disebut Senkaku dalam bahasa Jepang atau Diaoyu dalam bahasa Mandarin.

Sementara, di LCS, Beijing menegaskan klaim teritorialnya dengan membangun distrik-distrik administratif di pulau-pulau yang disengketakan, yang memaksa negara-negara yang teralihkan oleh wabah Covid-19 untuk memberi tanggapan.

Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Senin (13/7), mengecam upaya Beijing untuk mengejar sumber daya di Kepulauan Spratly LCS sebagai tindakan ilegal. Pompeo mengatakan Tiongkok tidak mempunyai dasar hukum untuk mengakui kawasan itu secara sepihak.



Sumber: Suara Pembaruan