Akibat Perubahan Iklim, Beruang Kutub Bisa Punah pada 2100

Akibat Perubahan Iklim, Beruang Kutub Bisa Punah pada 2100
Foto dokumentasi pada 17 Juli 2020 dari Polar Bears International memperlihatkan seekor beruang kutub dengan anak-anaknya di Lautan Es, timur laut Teluk Prudhoe di Alaska pada tahun 1985. Perubahan iklim membuat beruang kutub yang kelaparan menjadi punah. (Foto: AFP/POLAR BEARS INTERNATIONAL / Steven C. AMSTRUP )
Yuliantino Situmorang / WIR Jumat, 31 Juli 2020 | 07:59 WIB

Arktika, Beritasatu.com- Beruang kutub diperkirakan akan punah pada akhir abad ini kecuali ada lebih banyak hal yang dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim, demikian hasil kajian satu studi.

Para ilmuwan mengatakan, beberapa populasi telah mencapai batas bertahan hidup saat es laut di Kutub Utara menyusut.

Karnivora itu mengandalkan es laut dari Samudra Arktik untuk berburu anjing laut.

Ketika es mencair, hewan-hewan dipaksa berkeliaran ke daerah yang jauh atau ke pantai, di mana mereka berjuang menemukan makanan, termasuk untuk memberi makan anaknya.

Beruang itu telah menjadi “Poster Perubahan Iklim untuk anak-anak,” kata Dr Peter Molnar dari Universitas Toronto di Ontario, Kanada.

“Beruang kutub sudah berada di ujung dunia, jika esnya hilang, mereka tidak punya tempat untuk pergi,” katanya.

Badan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menyebutkan, beruang kutub terdaftar sebagai hewan yang rentan terhadap kepunahan dengan perubahan iklim sebagai faktor kunci penyebabnya.

Studi menunjukkan, es laut yang mencair kemungkinan akan mengurangi populasi beruang kutub, mungkin secara substansial. Studi baru, yang diterbitkan dalam Nature Climate Change, menetapkan batas waktu kapan itu mungkin terjadi.

Dengan menggunakan model penggunaan energi dari beruang kutub, para peneliti dapat menghitung batas daya tahan mereka.

Kepada BBC News, Steven Amstrup, kepala ilmuwan dari Polar Bears International, yang juga terlibat dalam penelitian itu mengatakan, “Apa yang telah kami tunjukkan adalah bahwa, pertama, kita akan kehilangan kelangsungan hidup anak beruang. Jadi anak-anak beruang akan lahir, namun sang induk tidak akan memiliki cukup lemak di tubuhnya untuk menghasilkan susu untuk menyimpannya sepanjang musim tanpa adanya es.”



Sumber: Suara Pembaruan