Perempuan Pekerja Garmen di Bangladesh Ingin Nasib Lebih Baik

Perempuan Pekerja Garmen di Bangladesh Ingin Nasib Lebih Baik
Pekerja garmen menjahit kaus di satu pabrik di Dhaka, Bangladesh, pada tahun 2009. Bangladesh yang menjadi eksportir pakaian terbesar kedua di dunia, telah memikat pembuat pakaian karena kombinasi upah rendah pekerja dan peraturan ringan. (Foto: AFP / AFP/Getty Images)
Natasa Christy Wahyuni / YS Sabtu, 1 Agustus 2020 | 10:27 WIB

Chittagong, Beritasatu.com - Perempuan menjadi tulang punggung bagi industri garmen yang menopang perekonomian di Bangladesh. Sayangnya, nasib mereka belum mendapat perhatian. Bangladesh tercatat sebagai pemasok pakaian ke negara Barat yang terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, serta menggantungkan kepada industri garmen lebih dari 80% ekspor dan empat juta pekerjaan.

Salah seorang perempuan mantan pekerja garmen dan satu dari lulusan pertama program khusus universitas, Sadeka Begum, menyadari kerentanan yang dialami perempuan di sektor tersebut. Lima tahun lalu, Begum bekerja dalam sif 12 jam di pabrik garmen sebagai pencari nafkah utama keluarganya di Bangladesh. Namun, lulusan berusia 23 tahun itu ingin menginspirasi para pekerja perempuan untuk menjadi pemimpin dan meningkatkan hak-hak mereka di berbagai industri.

Begum sedang menjalani magang di badan anak-anak Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), UNICEF. Dia berharap bisa memanfaatkan gelar ekonominya untuk meluncurkan proyek yang meningkatkan kehidupan anak-anak pekerja tekstil Bangladesh dengan mengatasi kurangnya sekolah dan perawatan anak.

“Saya adalah contoh bagaimana pendidikan bisa mengubah seseorang,” kata Begum, satu dari empat mantan pekerja garmen yang terpilih untuk menempuh pendidikan di Asian University for Women (AUW) di kota pelabuhan tenggara Chittagong lewat inisiatif “Pathways for Promise” (Jalan untuk Janji).

“Pekerja garmen adalah alasan mengapa perekonomian Bangladesh baik-baik saja. Anak-anak mereka pantas mendapatkan lebih baik,” ujar Begum.

Sekitar 470 perempuan kurang beruntung termasuk pemetik teh dan pengungsi di Bangladesh telah mendaftar untuk program sarjana gratis sejak inisiatif itu dimulai pada 2016. AUW yang didanai sumbangan termasuk dari Yayasan IKEA dan Yayasan Bill & Melinda Gates, memiliki mahasiswa perempuan dari seluruh Asia dan Timur tengah untuk mengejar berbagai gelar seperti kesehatan publik, filsafat, dan politik. Mahasiswa dari sektor garmen tetap mendapatkan upah penuh dari majikan mereka, sekitar US$ 100 (Rp 1,4 juta), selama perkuliahan.



Sumber: Reuters