WHO: Orang Muda Sehat Kemungkinan Tidak Dapat Vaksin Covid-19 Hingga 2022
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 515.321 (-2.5)   |   COMPOSITE 6289.65 (-45.86)   |   DBX 1346.19 (-8.79)   |   I-GRADE 181.205 (-1.12)   |   IDX30 507.3 (-4.09)   |   IDX80 137.13 (-1.48)   |   IDXBUMN20 404.453 (-4.9)   |   IDXESGL 139.923 (-1.06)   |   IDXG30 143.928 (-1.24)   |   IDXHIDIV20 446.912 (-2.85)   |   IDXQ30 145.336 (-0.72)   |   IDXSMC-COM 297.691 (-2.72)   |   IDXSMC-LIQ 363.216 (-6.01)   |   IDXV30 137.088 (-2.74)   |   INFOBANK15 1041.31 (0.22)   |   Investor33 435.377 (-2.39)   |   ISSI 184.679 (-1.78)   |   JII 634.506 (-8.66)   |   JII70 224.071 (-2.82)   |   KOMPAS100 1224.8 (-11.07)   |   LQ45 952.541 (-8.28)   |   MBX 1705.32 (-12.79)   |   MNC36 322.487 (-2.04)   |   PEFINDO25 325.966 (-2.12)   |   SMInfra18 310.375 (-4.7)   |   SRI-KEHATI 370.053 (-2.11)   |  

WHO: Orang Muda Sehat Kemungkinan Tidak Dapat Vaksin Covid-19 Hingga 2022

Kamis, 15 Oktober 2020 | 06:09 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP

Jenewa, Beritasatu.com - Orang muda yang sehat kemungkinan tidak akan mendapatkan vaksin corona sampai 2022. Tahap awal imunisasi akan menyasar orang tua dan kelompok rentan lainnya. Demikian dikatakan pejabat tinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Rabu (14/10/2020).

Kepala Ilmuwan WHO Dr. Soumya Swaminathan mengatakan petugas kesehatan, pekerja di garis depan dan orang tua akan mendapatkan vaksin lebih awal, meskipun perincian prioritas masih dikerjakan WHO. Apalagi hingga kini belum ada vaksin Covid-19 yang dianggap aman dan efektif oleh WHO, Uni Eropa atau Amerika Serikat (AS).

“Orang cenderung berpikir bahwa pada tanggal 1 Januari atau 1 April, saya akan mendapatkan vaksin, dan kemudian semuanya akan kembali normal,” kata Swaminathan. “Tidak akan berhasil seperti itu.”

Dia menambahkan bahwa dunia akan memiliki setidaknya satu vaksin yang aman dan efektif pada 2021. Namun jumlah yang tersedia sangat terbatas.

Kelompok penasihat strategis yang terdiri dari ahli imunisasi atau SAGE baru-baru ini menerbitkan pedoman kepada negara di dunia tentang prioritas vaksin. Swaminathan mengatakan, hingga kini lebih 10 vaksin virus corona di seluruh dunia sedang dalam uji klinis tahap akhir. SAGE akan merilis panduan populasi apa yang paling cocok untuk masing-masing vaksin dan bagaimana mendistribusikannya.

“Kebanyakan orang setuju bahwa ini dimulai dengan petugas kesehatan dan petugas garis depan, tetapi kemudian Anda perlu menentukan siapa di antara mereka yang memiliki risiko tertinggi seperti orang tua," kata Swaminathan.

“Ada banyak panduan, tapi saya pikir, rata-rata orang muda yang sehat mungkin harus menunggu hingga 2022 untuk mendapatkan vaksin.”

Seperti WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (Centers for Disease Control/CDC) dan Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS (Food and Drug Administration/FDA) sedang mempersiapkan prioritas kelompok berisiko untuk mendapatkan vaksin.

AS akan mendapatkan ratusan juta dosis vaksin potensial dari enam perusahaan. Pejabat tinggi kesehatan AS mengatakan bahwa AS memiliki dosis yang cukup untuk memvaksinasi seluruh warga Amerika pada musim semi 2021. Adapun pada tahun ini, imunisasi bisa dilakukan pada kelompok yang diprioritaskan.

Pejabat tinggi WHO telah memperingatkan negara-negara agar tidak mengamankan dosis vaksin untuk warganya sendiri seperti yang telah dilakukan AS dan Tiongkok. Hal itu disebut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagai "nasionalisme vaksin".

Sebaliknya, WHO telah meluncurkan program COVAX untuk menjamin akses yang adil terhadap pasokan vaksin untuk seluruh dunia. Lebih 170 negara, termasuk Tiongkok dan Inggris, telah berinvestasi di fasilitas tersebut, yang memberi manfaat pengembangan vaksin pada seluruh anggotanya.

“Kami perlu memastikan bahwa WHO memvaksinasi pada kelompok yang paling berisiko di setiap negara sebelum imunisasi pada semua orang di beberapa negara,” kata Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis di WHO, Dr. Maria Van Kerkhove, Rabu.

“Sebagian tidak hanya karena komitmen pemerintah, tetapi pemahaman yang mengatakan, 'Saya orang muda, saya tidak memiliki kondisi yang mendasarinya. Saya mungkin perlu menunggu agar kakek nenek saya bisa mendapatkan vaksin,” tambahnya.

Komentar WHO muncul beberapa hari setelah Johnson & Johnson mengumumkan penghentian sementara uji coba vaksin tahap akhir karena masalah keamanan. Adapun uji coba tahap akhir AstraZeneca di AS masih ditunda setelah dihentikan bulan lalu.

Pejabat kesehatan menyatakan penghentian sementara uji klinis dalam dunia medis merupakan hal biasa. Hal ini menunjukkan bahwa badan pengatur mengambil tindakan pencegahan keamanan yang tepat dalam mengembangkan vaksin.

Van Kerkhove menekankan bahwa meski tanpa vaksin, dunia memiliki alat untuk menghentikan penyebaran virus corona. Dia menambahkan bahwa mengenakan masker, menghindari keramaian dan sering mencuci tangan dapat memperlambat penyebaran. “Kami dapat mengatasi virus dan di banyak negara mereka telah mengendalikan penularan,” kata dia.



Sumber: CNBC


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Menlu: Indonesia Amankan 100 Juta Vaksin Covid-19 dari AstraZeneca

Pengiriman pertama vaksin Covid-19 dari AstraZeneca diharapkan dilakukan pada semester pertama tahun 2021.

DUNIA | 14 Oktober 2020

Erick Thohir: Kerja Sama dengan Inggris Tidak Hanya Soal Vaksin Covid-19

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan bahwa Indonesia menjajaki berbagai kerja sama berbagai bidang dengan Inggris, tidak terbatas soal vaksin Covid-19.

DUNIA | 14 Oktober 2020

WFP: Butuh US$ 6,8 Miliar untuk Cegah Kelaparan Dunia

“Kami perlu lebih banyak uang untuk dikumpulkan guna memastikan kami menghindari kelaparan."

DUNIA | 14 Oktober 2020

Dikritik, Terpilihnya Tiongkok, Rusia, dan Kuba di Dewan HAM PBB

Keanggotaan HRC memiliki kewajiban untuk menegakkan standar HAM yang tinggi.

DUNIA | 14 Oktober 2020

Saudi Gagal Terpilih di Dewan HAM PBB

“Hari ini adalah hari hitam bagi hak asasi manusia,” kata Hillel Neuer, Direktur Eksekutif UN Watch.

DUNIA | 14 Oktober 2020

Pria 25 Tahun Ini Jadi Orang AS Pertama yang Terinfeksi Covid-19 Dua Kali

Ini adalah kasus kelima yang dilaporkan di seluruh dunia.

DUNIA | 14 Oktober 2020

AS Hentikan Uji Coba Pengobatan Antibodi Corona Eli Lilly

Obat Eli Lilly adalah bagian dari perawatan pasien Covid-19 yang dikenal sebagai antibodi monoklonal.

DUNIA | 14 Oktober 2020

Trump: Saya Sangat Kuat dan Ingin Mencium Semua Orang

Presiden AS Donald Trump dalam kampanye di Orlando, Senin (12/10), memuji pemulihannya yang cepat dari Covid-19 dan mengaku ingin mencium semua orang.

DUNIA | 13 Oktober 2020

Pakar Sebut Iklan Kampanye Trump Menyesatkan

Pakar penyakit menular AS Dr. Anthony Fauci, menyatakan iklan kampanye Presiden AS Donald Trump yang menampilkan dirinya, adalah pesan menyesatkan

DUNIA | 13 Oktober 2020

Survei: Pandemi Covid-19 Picu Krisis Kepemimpinan Global

Pandemi virus corona telah memicu krisis kepemimpinan di seluruh dunia. Demikian hasil sebuah survei Milken Institute dan Harris Poll yang dirilis, Minggu (11/10).

DUNIA | 13 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS