Saham AstraZeneca Tertetan Setelah Relawan Uji Klinis Covid-19 di Brasil Meninggal
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Saham AstraZeneca Tertetan Setelah Relawan Uji Klinis Covid-19 di Brasil Meninggal

Kamis, 22 Oktober 2020 | 05:53 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP

London, Beritasatu.com - Saham raksasa farmasi asal Inggris AstraZeneca berubah negatif pada perdagangan Rabu (21/101/2020) setelah otoritas kesehatan Brasil, Anvisa, mengatakan seorang relawan dalam studi uji klinis tahap akhir vaksin corona meninggal.

Universitas Federal Sao Paulo, yang membantu uji coba tahap 3 di Brasil secara terpisah mengatakan bahwa relawan itu adalah orang Brasil, menurut Reuters.

Saham AstraZeneca, merosot setelah berita itu tersiar. Saham turun sekitar 1% dalam perdagangan sore hari.

Juru bicara AstraZeneca menolak mengomentari kematian relawan tersebut dengan alasan kerahasiaan medis dan peraturan uji klinis.

Juru bicara menambahkan bahwa semua kejadian medis dinilai dengan cermat oleh penyelidik percobaan. Penilaian ini tidak membuat kekhawatiran tentang kelanjutan penelitian.

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Universitas Oxford, yang mengembangkan vaksin dengan AstraZeneca, mengatakan kasus di Brasil tidak menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan uji klinis.

“Peninjauan independen selain regulator Brasil telah merekomendasikan bahwa penelitian dilanjutkan,” kata juru bicara Oxford Alexander Buxton.

Oxford tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang kematian relawan tersebut.

Brasil saat ini menempati urutan kedua di dunia kasus Covd-19 setelah Amerika Serikat, dengan 115.914 kematian, menurut data Universitas Johns Hopkins.

Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa uji klinis akan dihentikan sementara jika relawan itu menjadi bagian dari kelompok yang mendapat suntikan.

Kabar tersebut muncul karena Food and Drug Administration AS (BPOM AS) masih menahan uji klinis tahap akhir AstraZeneca di Amerika Serikat. Itu berarti perusahaan tidak dapat memberikan dosis kedua dari rejimen vaksin kepada relawan di AS.

Perusahaan pada 8 September mengumumkan bahwa uji klinis sempat ditunda karena penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada seorang pasien di Inggris. Pasien diyakini menimibulkan radang sumsum tulang belakang, yang dikenal sebagai myelitis transversal. Namun uji coba kembali dilanjutkan di Inggris dan negara lain.

AS diperkirakan akan melanjutkan uji coba paling cepat minggu ini setelah FDA menyelesaikan penyelidikan Reuters melaporkan Selasa, mengutip empat sumber anonim.

AstraZeneca adalah satu dari empat produsen obat yang didukung AS dalam pengujian tahap akhir vaksin potensial. Vaksin AstraZeneca, yang disebut AZD1222, menggunakan materi genetik dari virus corona dengan adenovirus yang dimodifikasi.

Pada Juli, perusahaan menerbitkan data yang menunjukkan vaksinnya menghasilkan respons imun menjanjikan dalam uji coba tahap awal.

Vaksin tidak menghasilkan efek samping yang serius pada relawan, menurut para peneliti saat itu. Kelelahan dan sakit kepala adalah efek samping yang paling sering dilaporkan. Efek samping umum lainnya adalah nyeri di tempat suntikan, nyeri otot, menggigil dan demam.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: CNBC


BERITA LAINNYA

PBB Kucurkan Dana untuk Sistem Kesehatan Afghanistan

PBB mengeluarkan dana darurat pada Rabu (22/9/2021) untuk membantu mencegah sistem perawatan kesehatan Afghanistan yang rusak agar tidak runtuh.

DUNIA | 23 September 2021

Indonesia Ajak G-20 Bantu Atasi Krisis Kemanusiaan di Afghanistan

Menlu Retno menegaskan, semua bantuan internasional harus menyasar rakyat Afghanistan yang memerlukan.

DUNIA | 23 September 2021

Jepang Gandakan Bantuan Vaksin Covid-19 ke Negara Lain

Pemerintah Jepang berencana memberikan 60 juta dosis vaksin Covid-19 kepada sejumlah negara lain, kata Perdana Menteri Yoshihide Suga.

DUNIA | 23 September 2021

Penentang Vaksin, Presiden Brasil Jalani Isolasi Covid-19 Usai Sidang PBB

Bolsonaro, yang tidak percaya pada vaksin, menentang aturan PBB yang mengharuskan semua tamu undangan disuntik vaksin.

DUNIA | 23 September 2021

Rumah Warga Dibakar, Tentara Junta Disebut Tembak Mati Pendeta yang Coba Padamkan Api

Laporan portal berita Myanmar Now menyebutkan, tentara junta menembak mati seorang pendeta Kristen yang mencoba memadamkan api.

DUNIA | 23 September 2021

AS Janji Sumbangkan 500 juta Dosis Vaksin Covid-19 ke Negara Lain

AS pada Rabu (22/9/2021) berjanji untuk membeli lagi 500 juta dosis vaksin Covid-19 untuk disumbangkan ke negara lain.

DUNIA | 23 September 2021

Jokowi Sebut Inklusivitas Prioritas Utama Kepemimpinan Indonesia pada G-20

Jokowi menegaskan, Indonesia akan berupaya agar G-20 dapat bekerja untuk kepentingan semua negara dan menjadikan inklusivitas sebagai prioritas utama.

DUNIA | 23 September 2021

Pidato di PBB, Jokowi Sampaikan Pandangan Soal Pandemi hingga Perdamaian Dunia

Jokowi menyampaikan pandangannya soal penanganan pandemi, pemulihan perekonomian global, ketahanan iklim, hingga perdamaian dalam keberagaman.

DUNIA | 23 September 2021

Inggris Sebut Penularan Covid-19 Tertinggi pada Anak 12-15 Tahun

Penasihat kesehatan Pemerintah Inggris Chris Whitty mengatakan penularan Covid-19 saat ini tertinggi pada anak berusia 12 hingga 15 tahun.

DUNIA | 23 September 2021

Emir Qatar Desak Dunia Gandeng Taliban

Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani telah meminta para pemimpin dunia untuk tetap terlibat dengan Taliban di Afghanistan.

DUNIA | 23 September 2021


TAG POPULER

# Rocky Gerung vs Sentul City


# Hari Libur Nasional 2022


# Toko Obat Ilegal


# Joe Biden


# Piala Sudirman



TERKINI
Matahari Gandeng Grup GoTo Bangun Rumah Oksigen Gotong Royong

Matahari Gandeng Grup GoTo Bangun Rumah Oksigen Gotong Royong

MEGAPOLITAN | 4 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings