Anggota Komisi Debat Tegur Trump
Logo BeritaSatu

Anggota Komisi Debat Tegur Trump

Jumat, 23 Oktober 2020 | 07:35 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / WIR

Washington, Beritasatu.com- Anggota Komisi Debat Presiden Amerika Serikat (AS), John Danforth, menegur kandidat petahana Partai Republik, Presiden Donald Trump, yang menuding debat final pada Kamis (22/10) malam telah “sangat diatur”.

Trump juga mengintimidasi moderator Kristen Welker dengan tidak adil dan seperti sebagian besar reporter berita palsu.

Danforth adalah seorang Republik dan mantan senator AS dari Missouri yang telah menjadi anggota komisi debat sejak 1994. Dia menyampaikan teguran kepada Trump bahwa serangan kepada komisi debat adalah serangan kepada pemilu itu sendiri.

“Strategi nyata presiden adalah menantang validitas pemilu jika dia kalah,” kata Danforth lewat tulisan opini di surat kabar Washington Post, Rabu (21/10).

Danforth mengatakan strategi Trump awalnya mengklaim bahwa pemungutan suara lewat pos adalah alat untuk penipuan pemilu yang masif. Saat ini, ujarnya, Trump juga menyatakan perdebatan telah dicurangi oleh komisi untuk kepentingan mantan wakil presiden Joe Biden yang merupakan kandidat presiden Demokrat.

Menurut Danforth, seperti seluruh anggota Komisi Debat Presiden, dirinya berusaha mempertahankan sumpah tidak menyuarakan perasaan pribadinya tentang kampanye presiden saat ini. “Namun sekarang setelah Presiden Trump dan beberapa pendukungnya yang gigih telah menyerang integritas komisi, saya merasa terdorong untuk menanggapinya,” katanya.

Kampanye Trump memprotes topik debat yang diumumkan Welker dan mendesak perdebatan agar lebih ditekankan kepada kebijakan luar negeri. Meskipun, topik debat dan moderator telah disepakati kedua kubu kampanye berminggu-minggu sebelumnya.

Danforth juga menyinggung serangan Trump kepada moderator debat pertama, presenter Fox News, Chris Wallace, yang disebutnya “buruk dan bias”. Penasihat senior kampanye Trump Steve Cortes juga menuding komisi tentang “skema untuk melindungi kandidat yang disukai”.

Menurut Danforth, kesimpulan bahwa setiap anggota komisi debat akan mengelak bermain adil untuk mendorong posisi partisan, secara halus, ironis. Dia membandingkannya seperti menuntut calon hakim Mahkamah Agung (MA) dari kalangan konservatif yang ditunjuk Trump, Amy Coney Barrett, akan mengesampingkan keyakinan pribadinya di persidangan.

“Tapi yang paling penting, serangan itu pada dasarnya salah,” tandas Danforth.



Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

BPOM AS Setujui Remdesivir Sebagai Obat Virus Corona

Obat tersebut hanya boleh diberikan di rumah sakit melalui infus.

DUNIA | 23 Oktober 2020

Sudah Negatif Covid, Trump Siap Debat

Melania juga sudah sembuh dan menemani Trump ke lokasi debat.

DUNIA | 23 Oktober 2020

Para Kepala Negara ini Punya Pertaruhan Besar dalam Pilpres AS

Xi Jinping misalnya, kalau Trump menang sengketa dagang dan pertikaian diplomatik sengit akan terus berlanjut.

DUNIA | 23 Oktober 2020

Pukulan Terakhir Trump dan Biden

Dalam debat hari ini di Belmont University, Nashville, Tennessee, panitia akan mematikan mikrofon kandidat yang tidak mendapat giliran bicara.

DUNIA | 23 Oktober 2020

Fakta Seputar Debat Final Presiden AS

Debat final presiden Amerika Serikat (AS) akan digelar Kamis (22/10/2020) di Universitas Belmont di Nashville, Tennessee.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Menlu AS Mike Pompeo Akan Hadiri Forum Pemuda Ansor

Pompeo dijadwalkan akan melakukan sejumlah acara termasuk menghadiri forum Gerakan Pemuda Ansor mengenai dialog agama dan peradaban.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Menkes Jerman Positif Covid-19

Namun, hingga saat ini tidak ada anggota kabinet Kanselir Angela Merkel lainnya yang akan diisolasi untuk menghindari penyebaran virus.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Infeksi Covid-19 India Mencapai 7,7 Juta Kasus

Pandemi Covid-19 terus menyebar di India dengan total mencapai 7.708.947 kasus per Kamis (22/10/2020) sore.

DUNIA | 22 Oktober 2020

PM Thailand Cabut Status Keadaan Darurat di Bangkok

Jenderal Prayut mengatakan, situasi kekerasan telah berakhir dan pejabat pemerintah dapat menegakkan hukum yang relevan untuk menyelesaikan masalah.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Rakyat Thailand Tak Lagi Takut Memprotes Raja

Salah satu alasan besarnya, rakyat Thailand tidak menyukai raja saat ini. Raja kali ini, beda dengan ayahnya, Bhumibol Adulyadej.

DUNIA | 22 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS