Hampir Mustahil Gugatan Trump Bisa Gagalkan Kemenangan Biden
Logo BeritaSatu

Hampir Mustahil Gugatan Trump Bisa Gagalkan Kemenangan Biden

Senin, 9 November 2020 | 07:53 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / AB

Jakarta, Beritasatu.com - Pada Senin (9/11/2020) waktu setempat, seperti janji Presiden Amerika Serikat Donald Trump, berbagai gugatan akan dilancarkan untuk membeberkan tuduhan kecurangan dalam pemilihan presiden (pilpres), yang menurut proyeksi media berdasarkan hasil penghitungan suara di berbagai negara bagian telah memberikan kemenangan untuk Joe Biden.

Trump mengatakan “pemilihan masih jauh dari selesai” dan dia benar ketika menegaskan bahwa hasil yang muncul sekarang baru didasarkan pada proyeksi media, serta lembaga pemilihan belum membuat keputusan.

Namun, proyeksi media itu didasarkan pada analisis ilmiah tentang jumlah suara masuk, margin perolehan suara, dan jumlah suara tersisa per negara bagian. Pada titik tertentu keunggulan satu kandidat tidak akan bisa dikejar lagi dan saat itulah hasilnya disimpulkan. Setelah itu diakumulasi seluruh negara bagian dan jika ada kandidat yang memperoleh minimal 270 suara elektoral akan disimpulkan dan diberitakan sebagai pemenang pilpres.

Jika margin keunggulan sangat jauh, tetapi jumlah suara yang sudah dihitung baru 60%, maka terlalu dini untuk disimpulkan atau too early to call. Sebaliknya, meskipun 99% suara sudah dihitung, tetapi margin keunggulan di bawah 1%, maka terlalu ketat untuk disimpulkan atau too close to call. Praktik ini sudah berlangsung selama puluhan tahun dalam sejarah modern politik Amerika dan tidak pernah keliru.

Kandidat dan seluruh rakyat Amerika selalu menunggu kesimpulan dari media karena tidak ada lembaga pemilihan nasional yang bertugas mengumumkan dan menyimpulkan hasil pemilihan. Selain itu, setiap negara bagian sibuk dengan pemilihan di tempat mereka sendiri dan tidak ada yang melakukan akumulasi hasil dari tiap negara bagian, kecuali media dan lembaga riset.

Bagaimana kalau hasilnya salah? Itu hampir tidak mungkin karena setiap penghitungan suara dicantumkan terbuka di situs resmi negara bagian yang bisa diakses semua orang, sehingga pengawasan dan koreksi mudah dilakukan.

Jika menunggu hasil resmi, artinya baru muncul pada pekan pertama Januari tahun depan. Para elector di setiap negara bagian baru akan berkumpul pekan kedua Desember untuk memutuskan hasilnya, lalu mengirimnya ke Senat. Pada awal Januari, Senat akan bersidang mengumpulkan suara elektoral dari seluruh seluruh negara bagian dan mengumumkan pemenangnya. Tidak ada yang bersedia menunggu selama itu, kecuali Trump pada 2020. Namun pada 2016, Trump langsung merayakan kemenangan setelah pengumuman media tanpa menunggu hasil resmi.

Trump mungkin kandidat pertama di pihak yang kalah yang menolak memberi selamat setelah pengumuman media. Hillary Clinton menelepon dia untuk memberi selamat pada malam seusai pemilihan 2016, setelah hasilnya dirilis media. Bahkan Al Gore--yang menggugat perolehan suara George W Bush pada 2000--juga sempat memberi selamat kepada lawannya sebelum kemudian menyadari hasil di Florida sangat ketat dan bisa membalikkan hasil nasional kalau dia menang gugatan.

Hitung Ulang
Tim kampanye Trump membidik negara bagian tertentu di mana hasilnya sangat ketat, seperti Wisconsin, Pennsylvania, Georgia, Michigan, Nevada, dan Arizona. Paket gugatan itu salah satunya berisi tuntutan penghitungan suara ulang. Trump beruntung di Georgia, karena tanpa diminta pun pemerintah negara bagian memutuskan melakukan hitung ulang. Alasannya, hasil yang terlalu ketat, bukan karena dugaan kecurangan seperti klaim Trump.

Trump juga menuntut hitung ulang di Wisconsin. Di sini, dia tertinggal sekitar 20.000 suara dari kandidat Partai Demokrat tersebut. Hukum di Wisconsin membolehkan kandidat mengajukan permohonan hitung ulang jika selisih suara dalam rentang 1%. Biden sudah dinyatakan menang di Wisconsin dengan margin 0,6%.

Tuntutan hitung ulang Michigan mungkin sulit terwujud karena Biden unggul sekitar 150.000 suara. Syarat hitung ulang di sana adalah jika selisih maksimal 2.000 suara. Namun, seorang kandidat boleh mengajukan permintaan hitung ulang jika punya bukti kecurangan atau kesalahan sistem.

Para pengacara Trump pasti menyadari hasilnya tidak akan berdampak, tetapi mereka harus bekerja agar dibayar.

Berdasarkan sejarah, selama 50 tahun terakhir jarang ada hitung ulang yang mengubah perolehan suara kubu pemenang. Pada 2016, Wisconsin melakukan hitung ulang setelah Trump mengalahkan Hillary Clinton dengan lebih dari 20.000 suara. Hasil hitung ulang cuma beda 131 suara saja.

Dalam sejarah hitung ulang di Pennsylvania, Georgia, Michigan, North Carolina, Nevada, dan Arizona selama 20 tahun terakhir, tidak ada yang akhirnya mengubah pemenangnya.

Pada pilpres 2000, Bush menang atas Al Gore di Florida dengan selisih kurang dari 2.000 suara. Mahkamah Agung akhirnya tetap memutuskan Bush sebagai pemenang di Florida dengan selisih 537 suara dan memastikan tambahan 29 suara elektoral dari sana sekaligus kursi presiden.

Tanpa Dasar
Hanya tim hukum Trump yang tahu perincian isi gugatan, tetapi Trump di akun Twitter mengungkap banyak tuduhan dari pihaknya. Misalnya, dia mengatakan ada puluhan ribu suara tidak sah karena baru diterima setelah pukul 20.00 waktu setempat pada 3 November atau hari pemungutan suara di sejumlah negara bagian yang menjadi penentu, termasuk Pennsylvania. Jangankan pengadilan, bahkan Twitter langsung menandainya sebagai cuitan dengan kategori berpotensi menyesatkan.

Di Amerika, kertas suara yang dikirim via pos tetap dianggap sah walaupun masuk setelah hari pemilihan, asalkan cap pos yang tertera menunjukkan tanggal paling lambat 3 November. Memang tenggat waktu bisa berbeda di tiap negara bagian, misalnya di Pennsylvania harus masuk paling lambat 6 November, di Nevada 10 November. Namun intinya, di 22 negara bagian memang dibenarkan surat suara masuk antara 3 November sampai tenggat waktu yang ditetapkan masing-masing.

Kubu Partai Republik meminta fatwa Mahkamah Agung agar surat suara masuk setelah pukul 20.00 waktu setempat pada Selasa (3/11/2020) sampai pukul 17.00 waktu setempat pada Jumat (6/11/2020) tidak dimasukkan dalam perolehan suara di Pennsylvania yang menjadi penentu akhir kemenangan Biden.

Sekretaris negara bagian Pennsylvania, Kathy Boockvar, mengatakan kepada CNN bahwa hanya sejumlah kecil surat suara yang datang pada periode itu, terlalu kecil untuk bisa membalikkan hasil di sana.

Bahkan jika undng-undang dikesampingkan dan tuntutan kubu Trump ini dipenuhi, hasil akhir di Pennsylvania juga tidak berubah. Sebelumnya Trump menuntut dihentikannya penghitungan suara, yang bahkan para pendukungnya sendiri menilai terlalu berlebihan untuk negara sedemokratis Amerika.

Trump, seperti digambarkan Wali Kota Philadelphia Jim Kenney, membuat rumit sistem demokrasi yang menjadi fondasi Amerika sejak didirikan. Philadelphia adalah kota terbesar di Pennsylvania yang terus menjadi sasaran tembak oleh Trump.

"Ketika sebagian orang termasuk presiden terus menyemburkan tuduhan tak berdasar tentang terjadinya kecurangan, apa yang kami lihat di sini di Philadelphia semata hanyalah demokrasi yang berjalan apa adanya dan simple saja," kata Kenney.
"Menurut saya, yang perlu dilakukan presiden sekarang adalah bersikap dewasa. Dia harusnya mengakui telah kalah dan mengucapkan selamat kepada pemenang," imbuhnya.



Sumber: CNN, NBC, BBC


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

George W Bush Akui Kemenangan Joe Biden

Mantan Presiden AS George W. Bush mengatakan bahwa Biden menang secara sah dalam Pemilu AS yang dilakukan secara bebas dan adil.

DUNIA | 9 November 2020

Jill Biden Ingin Mengubah Peran Ibu Negara AS

Setelah Joe Biden memenangkan Gedung Putih, Jill, istrinya yang berusia 69 tahun itu, memiliki kesempatan mendorong peran ibu negara abad ke-21

DUNIA | 8 November 2020

Palestina: Trump Presiden AS Terburuk di Zaman Modern

Trump merusak hubungan dan politik internasional.

DUNIA | 8 November 2020

Jokowi Harap Kemitraan Strategis RI-AS Makin Kuat

Jokowi juga menyampaikan harapan untuk bisa bekerja sama erat dalam memperkuat kemitraan strategis Indonesia-AS.

DUNIA | 8 November 2020

Jokowi Ucapkan Selamat kepada Biden dan Harris

Jokowi mengatakan tingkat partisipasi yang tinggi dalam Pemilu AS merupakan refleksi atas harapan akan demokrasi.

DUNIA | 8 November 2020

Biden: Saya Presiden yang Mempersatukan

Biden menyebut rakyat AS telah memberikan kemenangan yang meyakinkan.

DUNIA | 8 November 2020

Lima Faktor Penentu Kemenangan Biden

Pesan yang disampaikan dalam kampanye Biden sederhana saja, bahwa “dia bukan Trump".

DUNIA | 8 November 2020

Kamala Harris Singgung Keyakinan Sang Ibu

Sejarah Amerika melibatkan peran perempuan yang berjuang untuk menjamin dan melindungi hak politik kaumnya.

DUNIA | 8 November 2020

Pidato Pertama, Presiden Terpilih Joe Biden Ajak Warga AS Bersatu

"Saya akan bekerja sebagai presiden yang menyatukan bukan memisahkan. Saya tidak akan memandang negara bagian 'merah' atau 'biru'," kata Biden.

DUNIA | 8 November 2020

Kamala Harris: Amerika Memasuki Kehidupan Baru

Kamala menegaskan, dia bukanlah wapres perempuan terakhir.

DUNIA | 8 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS