Di Facebook, Kamala Harris Diserang Pesan Rasis
INDEX

BISNIS-27 540.837 (-8.19)   |   COMPOSITE 6428.31 (-54.9)   |   DBX 1183.86 (16.52)   |   I-GRADE 188.148 (-2.58)   |   IDX30 539.476 (-8.89)   |   IDX80 144.979 (-1.68)   |   IDXBUMN20 440.639 (-3.89)   |   IDXESGL 147.926 (-1.09)   |   IDXG30 146.726 (-1.41)   |   IDXHIDIV20 473.385 (-7.91)   |   IDXQ30 152.644 (-1.92)   |   IDXSMC-COM 299.578 (-0.96)   |   IDXSMC-LIQ 376.282 (-1.41)   |   IDXV30 152.705 (-1.81)   |   INFOBANK15 1086.82 (-23.03)   |   Investor33 459.04 (-6.31)   |   ISSI 190.39 (-0.94)   |   JII 671.594 (-3.85)   |   JII70 236.079 (-1.46)   |   KOMPAS100 1294.89 (-15.54)   |   LQ45 1002.38 (-13.63)   |   MBX 1785.38 (-21.17)   |   MNC36 340.467 (-4.76)   |   PEFINDO25 342.936 (-2.7)   |   SMInfra18 325.457 (-0.02)   |   SRI-KEHATI 391.973 (-5.4)   |  

Di Facebook, Kamala Harris Diserang Pesan Rasis

Rabu, 18 November 2020 | 08:54 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / WIR

Washington, Beritasatu.com- Raksasa media sosial, Facebook, telah menghapus serangkaian pesan, meme, dan komentar tentang wakil presiden terpilih AS, Kamala Harris. Jejaring sosial itu telah menghapus konten setelah BBC News menyampaikan peringatan kepada tiga kelompok yang secara teratur memuat ujaran kebencian di halaman mereka.

Pesan kebencian itu termasuk tuduhan bahwa Harris bukan warga negara AS karena ibunya berasal dari India dan ayahnya dari Jamaika. Komentar lainnya menyebut dia “tidak cukup hitam” untuk Demokrat.

Pesan lainnya mengatakan dia harus dideportasi ke India, sedangkan sejumlah meme telah mengejek nama Harris.

Facebook menyatakan akan menghapus 90% ujaran kebencian sebelum menandainya. Salah satu media menggambarkan halaman tersebut didedikasikan untuk fitnah rasis dan misogini (kebencian kepada perempuan dan anak perempuan).

Sekalipun menghapus pesan tersebut, Facebook menyatakan tidak akan mengambil tindakan kepada kelompok itu.

Salah satu halaman yang memuat pesan kebencian kepada Harris memiliki 4.000 anggota, halaman lainnya 1.200 anggota. Pesan berisi grafis seksual dan misogini juga telah dihapus.

Facebook telah berulang kali dikritik oleh para pengiklan dan kelompok hak-hak sipil karena tidak melakukan apa pun untuk mengatasi ujaran kebencian.



Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Biden Desak Kongres AS Siapkan Bantuan Ekonomi

Joe Biden mendesak Kongres agar menyiapkan bantuan stimulus ekonomi senilai dalam Rancangan Undang-undang (RUU) Heroes senilai US$ 3 triliun (Rp 42.172 triliun)

DUNIA | 18 November 2020

Pfizer Gelar Uji Coba Pengiriman Vaksin Covid-19

Pfizer berupaya mengatasi tantangan distribusi vaksin Covid-19 yang dihadapi terkait persyaratan penyimpanan ultra-dinginnya.

DUNIA | 18 November 2020

Tak Butuh Suhu Ekstrem, Vaksin Moderna Jadi Solusi Negara-negara Miskin

Bukan hanya soal persentase efektivitas, vaksin Moderna dapat disimpan di lemari pembeku konvensional selama enam bulan dan di lemari es hingga 30 hari.

DUNIA | 18 November 2020

Kasus Harian Covid-19 di India Menurun

Kasus infeksi harian Covid-19 di India mengalami titik terendah pertama kalinya dalam empat bulan atau sejak pertengahan Juli menjadi di bawah 30.000.

DUNIA | 18 November 2020

Bill Gates: Perjalanan Bisnis Akan Berkurang 50% Akibat Pandemi

Filantropis dan pendiri Microsoft mengatakan wabah Covid-19 akan mengubah cara orang berpergian dan berbisnis, bahkan setelah pandemi ini berakhir.

DUNIA | 18 November 2020

Trump Sudah Disejajarkan dengan Pemimpin Sekte

Pemilih Trump sekarang 10 juta lebih banyak dibandingkan pada 2016.

DUNIA | 17 November 2020

Korsel Akan Perketat Aturan Jarak Sosial

Akan terjadi krisis yang lebih besar jika upaya pencegahan penyebaran Covid-19 gagal meredam lonjakan baru.

DUNIA | 17 November 2020

Francisco Sagasti Jadi Presiden Sementara Peru

Sagasti merupakan presiden ketiga yang memimpin Peru dalam seminggu ini.

DUNIA | 17 November 2020

Obama: Trump Rusak Norma Demokrasi

Mantan presiden AS Barack Obama memperingatkan Presiden Donald Trump bahwa upaya untuk menolak hasil pemilu adalah pelanggaran demokrasi yang serius

DUNIA | 17 November 2020

Para Dokter AS Ingin Mundur karena Stres Pandemi Covid-19

Banyak dokter di Amerika Serikat (AS) menyerukan keinginan untuk mengundurkan diri karena merasakan stres akibat situasi pandemi di negara itu.

DUNIA | 17 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS