Vaksin Oxford Selesai Uji Coba, Hasilnya Memuaskan
INDEX

BISNIS-27 555.695 (12.56)   |   COMPOSITE 6537.09 (82.91)   |   DBX 1185.45 (4.25)   |   I-GRADE 192.346 (4.58)   |   IDX30 559.887 (14.06)   |   IDX80 149.821 (2.81)   |   IDXBUMN20 454.506 (9.99)   |   IDXESGL 154.417 (2.37)   |   IDXG30 151.04 (3.24)   |   IDXHIDIV20 490.586 (12.63)   |   IDXQ30 156.252 (4.15)   |   IDXSMC-COM 301.613 (0.45)   |   IDXSMC-LIQ 382.211 (0.35)   |   IDXV30 157.186 (1.27)   |   INFOBANK15 1083.88 (30.87)   |   Investor33 472.674 (10.59)   |   ISSI 194.508 (1.25)   |   JII 694.836 (6.78)   |   JII70 242.811 (1.92)   |   KOMPAS100 1324.28 (21.59)   |   LQ45 1037.35 (23.63)   |   MBX 1819.69 (25.48)   |   MNC36 350.082 (7.57)   |   PEFINDO25 343.337 (-0.23)   |   SMInfra18 332.762 (3.61)   |   SRI-KEHATI 404.998 (10)   |  

Vaksin Oxford Selesai Uji Coba, Hasilnya Memuaskan

Senin, 23 November 2020 | 19:44 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Beritasatu.com - Vaksin virus corona yang dikembangkan oleh University of Oxford, Inggris, dinyatakan sukses mencegah penggunanya mengalami gejala Covid-19, Senin (23/11/2020) setelah uji coba yang melibatkan responden dalam jumlah besar.

Data sementara menunjukkan tingkat proteksi yang diberikan mencapai 70%, tetapi para peneliti mengatakan angka itu bisa mencapai 90% dengan menambah dosis.

Hasil penelitian dan pengembangan ini bisa dibilang sukses, meskipun sudah didahului oleh vaksin buatan perusahaan farmasi Pfizer dan Moderna dengan tingkat keberhasilan 95%.

Namun, seperti diberitakan BBC, patut dicatat bahwa vaksin buatan Oxford lebih murah dan lebih mudah penanganannya dibandingkan dua vaksin tersebut sehingga juga lebih mudah didistribusikan ke seluruh dunia.

Vaksin Oxford ini dinilai akan menjadi kunci penanganan pandemi Covid-19 secara global, kalau sudah disetujui oleh lembaga berwenang.

"Pengumuman hari ini membawa kita selangkah lebih dekat menuju era di mana kita bisa menggunakan vaksin untuk mengakhiri bencana yang disebabkan oleh virus ini," kata kepala pengembangan vaksin Oxford Profesor Sarah Gilbert.

Pemerintah Inggris Raya telah memesan 100 juta dosis vaksin Oxford. Perusahaan mitra produksi AstraZeneca menyampaikan mereka akan memproduksi 3 miliar dosis untuk penggunaan global mulai tahun depan.

Perdana Menteri Boris Johnson menyebut perkembangan ini sebagai “kabar yang sangat menggembirakan” dan “fantastis”.

Vaksin ini dikembangkan dalam 10 bulan, proses yang umumnya butuh satu dekade.

Uji coba melibatkan lebih dari 20.000 sukarelawan di Inggris Raya dan Brasil.

Secara keseluruhan, ada 30 kasus Covid di antara responden yang mendapat dua dosis dan 101 kasus di antara mereka yang hanya mendapat suntikan vaksin palsu. Ini merupakan praktik standar untuk memberikan vaksin palsu di antara responden dan mereka tidak diberi tahu mana yang dapat bakal vaksin asli mana yang palsu untuk menjamin hasil yang independen.

Para peneliti yang terlibat mengatakan 70% sukarelawan akhirnya terproteksi oleh vaksin tersebut, lebih efektif dibandingkan vaksin flu biasa.

Dari hasil keseluruhan, tidak seorang pun dari responden dengan bakal vaksin asli yang terkena gejala Covid parah atau harus opname.

Profesor Andrew Pollard, yang mengepalai penelitian ini. mengatakan dia sangat gembira dengan hasilnya, dan menyimpulkan dengan kalimat: "Ini artinya kita sudah punya vaksin untuk dunia.”

Tingkat proteksi ini bahkan mencapai 90% pada sekitar 3.000 responden khusus yang pertama menerima dosis separuh dan baru mendapat dosis penuh untuk yang kedua kalinya.

Pollard menjanjikan akan lebih banyak lagi dosis yang diproduksi untuk didistribusikan ke seluruh dunia.

Jumlah pengidap tanpa gejala yang mendapat vaksin ini juga berkurang drastis.

Lebih Murah
Vaksin Oxford diberi label harga £ 3 (Rp 57.000), jauh lebih murah dibandingkan vaksin buatan Pfizer (sekitar £ 15/Rp 284.000) atau Moderna (£ 25/Rp 477.000).

Teknologi Oxford juga lebih mapan karena sudah puluhan tahun terlibat dalam proyek vaksin yang terbukti keampuhannya di dunia dan bisa dengan mudah diproduksi massal.

AstraZeneca sebelumnya mengatakan akan ikut dalam proyek nirlaba untuk distribusi vaksin.

Vaksin Oxford juga punya kelebihan penting karena hanya butuh suhu kulkas rumahan untuk menyimpannya, tidak seperti vaksin Pfizer/BioNTech dan Moderna yang menuntut suhu jauh lebih rendah.

Artinya, vaksin Oxford jauh lebih mudah didistribusikan ke seluruh pelosok dunia.

Di Inggris, sudah ada 4 juta dosis vaksin Oxford yang siap dibagikan. Namun, hal itu belum bisa dilakukan sebelum ada persetujuan dari pihak regulator yang akan mengecek ulang keamanan, keefektifan, dan standar produksi vaksin ini. Proses tersebut akan mulai bergulir beberapa pekan mendatang.

Inggris tengah mempersiapkan diri untuk vaksinasi massal di mana kaum manula dan staf medis akan mendapat giliran pertama.

Bagaimana Cara Kerja Vaksin Oxford?
Ternyata berbeda sama sekali dengan vaksin Pfizer dan Moderna, yang menginjeksi bagian dari kode genetik virus corona ke tubuh pasien.

Vaksin Oxford menggunakan rekayasa genetik virus flu yang sering menginfeksi simpanse.

Genetik virus ini diubah untuk mencegah infeksi pada manusia tetapi dia membawa cetak biru dari pucuk protein virus corona.

Begitu cetak biru ini masuk tubuh, dia akan mulai memproduksi pucuk protein virus corona, sehingga memicu sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi dan berusaha mengalahkannya.

Jadi, ketika virus corona yang asli menginfeksi, sistem kekebalan tubuh pasien sudah tahu bagaimana cara menghadapinya.



Sumber: BBC


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Perekonomian Singapura Terkontraksi 4,8%

Perekonomian Singapura mengalami kontraksi 4,8% di triwulan ketiga 2020. Angka ini lebih baik dari estimasi pemerintah sebelumnya: kontraksi 7%

DUNIA | 23 November 2020

Pemimpin G20 Sepakati Akses Setara untuk Perangkat Covid-19

Inti dari deklarasi itu antara lain menjamin kepastian akses yang berkeadilan untuk pendistribusian perangkat Covid-19 mencakup vaksin, tes, dan perawatan.

DUNIA | 22 November 2020

KTT G20, Presiden Jokowi Dorong Transformasi Besar Pasca Pandemi

Jokowi menegaskan bahwa pemulihan dari pandemi Covid-19 hanya bisa diwujudkan jika terdapat visi, aksi, dan perubahan besar.

DUNIA | 22 November 2020

Menlu: Indonesia Jadi Ketua G-20 Tahun 2022

Menlu Retno Marsudi mengungkapkan bahwa Indonesia akan memegang presidensi G-20 pada tahun 2022.

DUNIA | 22 November 2020

Presiden Jokowi Ikuti Rangkaian Agenda Hari Kedua KTT G20

Presiden Jokowi menghadiri rangkaian KTT G20 Tahun 2020 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

DUNIA | 22 November 2020

Pemulihan Kunjungan Hong Kong dan Singapura Ditunda Dua Pekan

Pemulihan kunjungan antara dua kota yakni Hong Kong dan Singapura saat pandemi batal terjadi karena adanya lonjakan infeksi Covid-19.

DUNIA | 22 November 2020

Infeksi Covid-19 di AS Lampaui 12 Juta Kasus

Banyak warga AS tidak mengikuti panduan perjalanan dan tetap bepergian untuk merayakan Thanksgiving.

DUNIA | 22 November 2020

Mulai 2 Desember, Inggris Akhiri Penguncian

Kebijakan itu akan diambil setelah data statistik yang menunjukkan infeksi virus corona di negara itu telah stabil.

DUNIA | 22 November 2020

Pengadilan Pennsylvania Tolak Gugatan Trump dengan Kalimat Pedas

Kubu Trump menuntut pengadilan untuk menggugurkan hampir 7 juta suara masuk di Pennsylvania.

DUNIA | 22 November 2020

G-20 Berjanji Lindungi si Miskin dari Pandemi

G-20 berjanji akan memastikan distribusi vaksin, obat, dan pengetesan Covid-19 yang adil di seluruh dunia dan membantu negara miskin pulih dari pandemi.

DUNIA | 22 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS