Masalahnya Adalah, Jack Ma Dianggap Lebih Terkenal dari Rezim Tiongkok
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 502.788 (4.65)   |   COMPOSITE 6122.88 (45.91)   |   DBX 1370.08 (6.4)   |   I-GRADE 175.932 (2.01)   |   IDX30 492.65 (5.36)   |   IDX80 132.743 (1.46)   |   IDXBUMN20 383.43 (5.77)   |   IDXESGL 136.189 (1.17)   |   IDXG30 136.661 (1.31)   |   IDXHIDIV20 439.142 (4.16)   |   IDXQ30 142.658 (1.28)   |   IDXSMC-COM 284.07 (1.29)   |   IDXSMC-LIQ 340.315 (4.03)   |   IDXV30 130.843 (1.67)   |   INFOBANK15 1002.8 (10.83)   |   Investor33 425.077 (4.4)   |   ISSI 180.015 (1.37)   |   JII 610.57 (6.12)   |   JII70 214.597 (2.04)   |   KOMPAS100 1179.92 (12.31)   |   LQ45 924.668 (10.2)   |   MBX 1646.91 (13.21)   |   MNC36 314.484 (3.35)   |   PEFINDO25 314.75 (0.73)   |   SMInfra18 301.265 (1.98)   |   SRI-KEHATI 359.316 (3.43)   |  

Masalahnya Adalah, Jack Ma Dianggap Lebih Terkenal dari Rezim Tiongkok

Jumat, 8 Januari 2021 | 09:54 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Beritasatu.com - Triliunrer Jack Ma adalah sosok langka di Tiongkok -- pengusaha karismatik yang bicara apa adanya dan menyingkirkan batasan-batasan di sekelilingnya.

Karakter unik pendiri Alibaba ini membuatnya terkenal di dalam dan luar negeri. Namun, hal itu juga yang menempatkan kerajaan bisnisnya -- dan dirinya sendiri -- dalam risiko besar.

Masalah dimulai pada akhir Oktober 2020 setelah Ma mengkritik pihak regulator Tiongkok dalam sebuah konferensi di Shanghai.

Di saat perusahaan teknologi miliknya Ant Group bersiap melakukan penawaran saham perdana (IPO) yang diprediksi akan memecahkan rekor nilai tertinggi di dunia, dia menuduh penguasa menghambat inovasi dan menyebut perbankan di Tiongkok punya mentalitas seperti rumah gadai.

Beijing segera membalas. Dalam hitungan hari, regulator membatalkan IPO itu, setelah memanggil dan menginterogasi Ma dan manajemen Ant Group.

Pekan-pekan berikutnya, regulator memerintahkan Ant untuk merestruktur manajemen. Mereka bahkan memperluas cakupan penyelidikan ke Alibaba, yang sekarang menjadi sorotan karena dugaan monopoli.

Ma sendiri tidak pernah muncul di muka umum sejak pidatonya di Shanghai dan hal itu segera menjadi perhatian dunia mengingat reputasinya selama ini.

"Menurut saya inti dari pesan yang ingin disampaikan [Partai Komunis Tiongkok] adalah boleh saja para pengusaha teknologi menjadi orang paling glamor dan paling disukai di dunia. Namun, tidak ada seorang pun atau satu perusahaan pun yang boleh lebih hebat dari Partai Komunis Tiongkok,” kata Rana Mitter, profesor bidang sejarah dan politik Tiongkok di Oxford University, seperti dikutip CNN.

Banyak pemerhati masalah Tiongkok yang mengatakan Ma saat ini sedang “tiarap” karena penguasa sedang mengincar bisnisnya.

Beijing bisa jadi sedang bersikap adil dalam memberi sanksi keras bagi tokoh-tokoh kondang Tiongkok yang dinilai melawan kepentingan Partai Komunis.

Artis terkenal Fan Bingbing, misalnya, mendadak menghilang pada 2018 sebelum akhirnya muncul lagi tahun berikutnya untuk meminta maaf karena skandal pengemplangan pajak.

Pengusaha real-estate Ren Zhiqiang juga tidak terdengar lagi kabarnya selama berbulan-bulan tahun lalu setelah dia mengkritik kebijakan Presiden Xi Jinping dalam menangani wabah virus corona. Dia akhirnya diganjar hukuman penjara 18 tahun dengan tuduhan korupsi.

Mantan Guru
Ma dulu adalah guru Bahasa Inggris yang sederhana, sebelum kemudian tumbuh menjadi ikon tentang kemakmuran ekonomi dan kehebatan sistim kewirausahaan Tiongkok.

Dia membangun Alibaba menjadi perusahaan teknologi yang bernilai US$ 500 miliar serta mendulang kekayaan pribadi senilai US$ 50 miliar.

Seiring pertumbuhan perusahaan-perusahaan dia, Ma menjadi semacam duta yang mewakili sisi bersahabat Tiongkok bagi pengusaha dan investor dunia.

Dai kerap bertemu para kepala negara – makan siang dengan Barack Obama dan ber-swafoto dengan David Cameron — dan tahun lalu memberi bantuan kemanusiaan terkait pandemi Covid-19 ke seluruh dunia. Bahkan juga ke Amerika!

Gaya dia sebagai eksekutif Alibaba juga cukup flamboyan. Pernah dia tampil di atas panggung menyanyikan "Unchained Melody" dalam rapat perusahaan, atau hadir dengan kostum unik, atau muncul dalam acara yang melibatkan selebritas kondang seperti David Beckham dan Nicole Kidman.

Dalam tahap tertentu, penguasa di Tiongkok menyukai fakta bahwa Ma bisa mewakili versi Tiongkok yang kaya dan glamor.

"Karena salah satu hal yang nyaris tidak mungkin dilakukan Partai Komunis Tiongkok adalah menghadirkan soft power di dunia," kata Mitter, si profesor dari Oxford.

Soft power adalah kemampuan negara dalam menyebarkan pengaruh global melalui budaya, seni, olahraga atau hal-hal lain kecuali kekuatan militer dan dominasi politik. Misalnya Korea Selatan dengan K-Pop yang digandrungi anak muda di banyak negara di dunia.

Pemerintah Tiongkok memberi dukungan besar bagi pertumbuhan perusahaan Ma di dalam negeri seperti Alibaba, Ant Group, Tencent, dan Baidu, sembari menutup pintu bagi rival mereka asal Amerika.

Beragam perusahaan miliknya itu nyaris sudah menjadi urat nadi dalam interaksi sosial, hiburan, dan perdagangan di Tiongkok.

Terancam
Namun, para penguasa Tiongkok lambat laun mulai menilai bahwa pengaruh yang begitu kuat bisa berkembang menjadi ancaman terhadap stabilitas politik dan ekonomi negara itu.

Ant Group, misalnya, mampu melakukan pungutan pinjaman dengan relatif bebas aturan seperti yang berlaku bagi bank-bank komersial lain.

"Upaya mengerem perusahaan-perusahaan teknologi raksasa adalah bagian dari sebuah proses yang lebih luas oleh Partai Komunis untuk mengambil alih kendali, dan kembali lagi ke narasi bahwa inovasi teknologi di Tiongkok hanya boleh berjalan sesuai persyaratan yang dibuat partai itu," kata Mitter.

Dalam beberapa bulan terakhir, campur tangan pemerintah di industri ini makin terang-terangan. September lalu misalnya, Partai Komunis merilis panduan yang menyerukan para anggotanya untuk "mendidik para pengusahan swasta agar belajar tentang pemikiran ideologi sosialisme."

Dalam sebuah konferensi bulan lalu, Presiden Xi juga memberi sinyal akan menindak perusahaan teknologi dengan mengatakan negara harus memperkuat upaya memerangi monopoli dunia maya dan mencegah “ekspansi modal yang liar”.

Dalam beberapa pekan, undang-undang yang lebih ketat disahkan. Alibaba diselidiki, aturan yang lebih ketat diterapkan pada Ant Group dan selain itu penguasa memperingatkan perusahaan lain agar tidak menciptakan monopoli atau menyalahgunakan data konsumen untuk meraih profit.

Sengaja Menepi?
Ma, seorang anggota Partai Komunis, masih belum muncul. Laman sosial media dia juga masih sepi sejak Oktober, ditambah absennya dia dalam ajang adu bakat kewirausahaan di Afrika yang dia bentuk.

Alibaba mengatakan Ma absen karena bentrok dengan jadwal yang lain.

Beijing tidak pernah ragu dan menutupi berita kalau mereka mendenda atau bahkan memenjarakan pengusaha kondang yang berani mengkritik pemerintah. Misalnya dalam kasus Ren, yang dipenjara karena korupsi setelah dia membuat tulisan yang menyindir Xi sebagai “badut” yang haus kekuasaan.

Jadi, bisa saja Ma memang sengaja menyepi, setidaknya untuk saat ini.

Pemerintah Tiongkok tampaknya ingin agar versi mereka tentang IPO Ant Group yang mendominasi pemberitaan, kata Duncan Clark, penulis buku "Alibaba: The House that Jack Ma Built".

Ant Group tampaknya menyadari bahwa tidak ada gunanya kalau mereka memberi “pendapat berbeda”, kata Clark, yang juga pendiri perusahaan konsultan bisnis BDA China.

Ia menduga bahwa suatu saat nanti Ma akan muncul dan membuat statemen yang telah didikte sebelumnya tentang pentingnya kontribusi terhadap reformasi di Tiongkok.

"Ia sudah menerima sinyal kalau ‘saya bicara terlalu banyak, itu menjadi masalah jadi saya harus diam'," kata Angela Zhang, profesor di University of Hong Kong.

Satu-satunya
Ada satu hal yang kelihatannya sudah jelas.

Di tengah menguatnya tekanan penguasa Tiongkok atas perusahaan teknologi, dunia industri mulai menyadari bahwa tidak akan ada orang seperti Ma lagi di Tiongkok.

CEO Alibaba Daniel Zhang, yang menggantikan Ma pada 2019, lebih suka memakai pendekatan kompromistis. November lalu, dia menyebut upaya pemerintah membatasi perusahaan internet "tepat waktu dan penting."

Hilangnya sosok kritis seperti Ma bisa membawa konsekuensi sendiri bagi Beijing, kata Mitter.

Banyak negara, khususnya di dunia Barat, sudah menganggap Tiongkok dan semua bisnisnya sebagai potensi ancaman, karena semua korporasi besar Tiongkok dinilai bekerja untuk rezim.

Dengan membungkam para pengkritik di dalam negeri, pandangan dunia soal itu akan makin kuat.

"Kemampuan tokoh seperti Jack Ma untuk bicara keras makin susah, dan saya kira ini akan menjadi masalah juga bagi Tiongkok sendiri dalam menyebarkan soft power," kata Mitter.

"Tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang akan serius menanggapi tokoh-tokoh dari sebuah negara yang berkeliling dunia hanya untuk meneriakkan slogan pemerintahnya," imbuh dia.



Sumber: CNN


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Brasil Laporkan 200.000 Kematian saat Lonjakan Kasus Covid-19

Kondisi parah itu terjadi pascaperayaan Natal dan Tahun Baru, ketika banyak warga Brasil bertemu teman dan sanak keluarga.

DUNIA | 8 Januari 2021

Geser Jeff Bezos, Elon Musk Orang Terkaya di Dunia dengan Harta Rp 2.573 T

Kekayaan Musk pada awal tahun 2020 hanya sekitar US$ 27 miliar, dan hampir tidak termasuk dalam 50 orang terkaya dunia.

DUNIA | 8 Januari 2021

Elaine Chao Menteri Pertama Trump yang Mundur Setelah Kerusuhan

Mundurnya Chao setelah beberapa pejabat administrasi Trump yakni penasihat ekonomi dan keamanan nasional melakukan hal yang sama.

DUNIA | 8 Januari 2021

Partai Republik Semakin Menjauhi Trump

Kata-kata Trump telah menghasut massa, tidak memadai, dan tidak bisa ditoleransi.

DUNIA | 8 Januari 2021

Jepang Terapkan Lagi Keadaan Darurat, Dubes RI Imbau WNI Patuhi Aturan

Pemerintah Jepang memberlakukan status keadaan darurat untuk Tokyo, Kanagawa, Saitama, dan Chiba.

DUNIA | 7 Januari 2021

Biden Sah Jadi Presiden, Trump Jamin Transisi Damai

"Saya menjamin akan ada transisi pemerintahan yang tertib pada 20 Januari," kata Trump.

DUNIA | 7 Januari 2021

Para Pemimpin Dunia soal Kerusuhan AS: "Memalukan, Memprihatinkan"

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kerusuhan di Washington sebagai insiden yang "memalukan".

DUNIA | 7 Januari 2021

Capitol Rusuh, Warganet Tiongkok Ejek sebagai "Pemandangan Indah"

Warganet Tiongkok mengolok-olok demokrasi Amerika Serikat (AS) setelah aksi kekerasan di Gedung Capitol,

DUNIA | 7 Januari 2021

Sebar Hoax, Akun Facebook dan Twitter Trump Dikunci

Twitter dan Facebook mengunci akun Presiden Donald Trump setelah dia berulang kali menyebarkan hoax soal Pemilihan Presiden AS 2020.

DUNIA | 7 Januari 2021

Setelah Capitol Kacau, Trump Baru Bujuk Para Pendukungnya Pulang

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru memberi tahu para pendukung untuk pulang setelah korban jatuh saat kerusuhan di Gedung Capitol,

DUNIA | 7 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS