AS Bergabung dalam Pembicaraan Nuklir Iran
Logo BeritaSatu

AS Bergabung dalam Pembicaraan Nuklir Iran

Selasa, 6 April 2021 | 21:29 WIB
Oleh : Grace Eldora Sinaga / EHD

Wina, Beritasatu.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) memulai pembicaraan dengan negosiator Uni Eropa (UE) pada Selasa di Ibukota Austria, Wina. Tujuannya untuk menyelamatkan perjanjian internasional tentang program nuklir Iran, yang ditarik oleh AS pada 2018.

Presiden AS Joe Biden mengatakan, dirinya siap untuk membalikkan keputusan pendahulunya Donald Trump dan kembali ke perjanjian 2015, yang seharusnya memastikan Iran tidak pernah mengembangkan program nuklir militer.

Tetapi pemerintah Iran menuntut diakhirinya sanksi melumpuhkan yang diberlakukan oleh Trump dan telah menolak bertemu dengan negosiator AS pada pembicaraan terakhir. Itu berarti pemain Eropa akan bertindak sebagai perantara.

Menjelang pembicaraan, utusan khusus AS Rob Malley menyiratkan pemerintah Amerika terbuka untuk mencabut sanksi dan kembali ke kesepakatan 2015. Komentar tersebut dinilai menjajikan oleh juru bicara pemerintah Iran, Ali Rabiei.

"Kami menemukan posisi ini realistis dan menjanjikan. Ini bisa menjadi awal untuk memperbaiki proses buruk yang terjadi dan membawa diplomasi ke jalan buntu," katanya kepada wartawan di Teheran, Selasa (6/4).

Pemerintah Iran mengkonfirmasi pada Januari bahwa pihaknya memperkaya uranium hingga kemurnian 20%, jauh melampaui ambang batas yang ditetapkan oleh kesepakatan.

Ali Vaez dari International Crisis Group, yang memantau konflik, mengunggah lewat media sosial Twitter bahwa pembicaraan tersebut mewakili penanda penting, pemerintah AS dan Iran serius dalam memecahkan kelembaman.

Sementara itu, karena tidak ada pihak yang tampaknya bersedia mengambil langkah pertama, para ahli seperti Vaez telah menyarankan negosiator membuat kesepakatan dengan isyarat-isyarat untuk memecahkan kebuntuan.

Rabiei menegaskan, pemerintah Iran siap untuk membalikkan langkah-langkah yang diambilnya segera setelah semua sanksi yang dijatuhkan pada pemerintahan Trump dicabut. "Kami tidak menerima pendekatan langkah demi langkah," tukasnya.

Momentum yang Sangat Dibutuhkan

Adapun UE akan memimpin pembicaraan antara anggota pakta 2015 yang ada, antara lain Iran, Tiongkok, Prancis, Jerman, Rusia, dan Inggris. Pembicaraan dijadwalkan berlangsung Selasa malam waktu setempat, di sebuah hotel mewah.

"Pertemuan bilateral persiapan sedang berlangsung," Mikhail Ulyanov, utusan Rusia yang berbasis di Wina untuk organisasi internasional, menulis di Twitter.

Delegasi AS akan bertemu di hotel yang berbeda dengan negosiator UE, yang bertindak sebagai mediator.

Pada saat yang sama, pertemuan ahli diharapkan berlangsung dan bisa memakan waktu 15 hari atau sebulan, namun belum bisa dipastikan, menurut seorang diplomat yang berbasis di Wina. Delegasi AS bukan bagian dari pertemuan itu, tetapi akan terus mendapat informasi perkembangan pembicaraan.

Direktur kebijakan non-proliferasi di lembaga pemikir Asosiasi Pengendalian Senjata Kelsey Davenport mengatakan, kurangnya pembicaraan langsung Iran-AS tidaklah ideal. Tetapi ia menambahkan bahwa UE berada pada posisi yang tepat untuk memecahkan kebuntuan.

Dia menyerukan langkah pertama yang berani dari kedua sisi, yang dia harap akan menyuntikkan momentum yang sangat dibutuhkan ke dalam proses.

Pemerintah AS, misalnya, dapat mencairkan dana Iran yang disimpan di bank asing dan memfasilitasi perdagangan kemanusiaan untuk memastikan pekerjaan eksportir dan perusahaan perdagangan di sektor makanan, farmasi, dan medis.

Di sisi lain, pemerintah Iran dapat menghentikan pengayaan uranium melebihi tingkat yang disepakati dalam perjanjian 2015, kata Davenport.

"Masalahnya adalah semua hal yang tidak dapat diubah, seperti aktivitas penelitian yang telah dilakukan Iran," diplomat tersebut mengatakan.

Menjelang pembicaraan, Malley yang adalah utusan khusus pemerintah AS untuk Iran, berbicara tentang pencabutan sanksi-sanksi yang tidak sesuai dengan kesepakatan.

"Jika kami realistis tentang apa yang harus dilakukan kedua belah pihak ... kami bisa sampai di sana," jelasnya kepada penyiar PBS AS.

"Tetapi jika salah satu pihak mengambil posisi maksimal dan mengatakan bahwa pihak lain harus melakukan segalanya terlebih dahulu sebelum bergerak satu inci, saya pikir sulit untuk melihat bagaimana ini berhasil," pungkasnya. (afp/eld)



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Lewat Covax, Iran Terima 700.000 Dosis Vaksin Covid-19 Astrazeneca

Pemerintah Iran telah menerima sekitar 700.000 dosis vaksin Oxford-Astrazeneca melalui inisiatif Covax, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

DUNIA | 6 April 2021

Presiden Israel Tunjuk Netanyahu untuk Bentuk Pemerintahan

Presiden Israel Reuven Rivlin telah memilih Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk membentuk pemerintahan, Selasa (6/4).

DUNIA | 6 April 2021

Menkes Jerman: Vaksinasi Covid-19 Tak Bisa Cegah Gelombang Ketiga

Kampanye vaksinasi yang sedang berlangsung di Jerman tidak akan cukup untuk menghentikan gelombang ketiga pandemi Covid-19.

DUNIA | 6 April 2021

Israel Tak Bayar Tagihan, Pfizer Berhenti Kirim Vaksin Covid-19

Pfizer hentikan pengiriman vaksin Covid-19 ke Israel setelah tagihan 2,5 juta dosis belum dibayar di tengah pertikaian politik negara itu.

DUNIA | 6 April 2021

Malaysia Tetap Gunakan Vaksin Covid-19 Astrazeneca

Malaysia akan terus menggunakan vaksin Astrazeneca dalam program vaksinasi Covid-19 nasional.

DUNIA | 6 April 2021

Minta Tolong di Kontes Kecantikan, Sang Ratu Myanmar Jadi Sorotan

Saat Miss Grand Myanmar, Han Lay tampil minta tolong, media massa menjadikannya berita besar.

DUNIA | 6 April 2021

Pertama di Dunia, Qatar Operasikan Penerbangan Standar Vaksinasi Covid-19

Maskapai Qatar Airways mengoperasikan penerbangan vaksinasi Covid-19 penuh pertama di dunia

DUNIA | 6 April 2021

Bahas Kudeta Myanmar, Pemimpin ASEAN Siap Gelar Pertemuan di Jakarta

Brunei Darussalam sebagai ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menyambut baik rencana pertemuan untuk membahas kudeta Myanmar.

DUNIA | 6 April 2021

Vaksin Covid-19 Astrazeneca Jadi Andalan Thailand

Vaksin virus corona atau Covid-19 yang dikembangkan oleh Astrazeneca dan Universitas Oxford akan menjadi vaksin andalan Thailand.

DUNIA | 6 April 2021

Penjara Diserang, Lebih 1.800 Napi di Nigeria Kabur

Lebih dari 1.800 narapidana telah melarikan diri dari penjara di Owerri, Nigeria setelah diserang oleh orang-orang bersenjata.

DUNIA | 6 April 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS