Logo BeritaSatu

Uzbekistan, Gerbang Indonesia di Asia Tengah

Jumat, 28 Mei 2021 | 04:56 WIB
Oleh : Primus Dorimulu / HA

Tashkent, Uzbekistan, Beritasatu.com - Uzbekistan berpotensi besar menjadi gateway, pintu gerbang bagi produk Indonesia untuk memasuki Asia Tengah, Eropa Timur, Eropa Barat, dan Asia Selatan. Hubungan budaya dan ekonomi dengan Uzbekistan yang sedang dijalin Indonesia akan membuahkan hasil pada masa akan datang. Dengan menabur hari ini, Indonesia akan menuai di kemudian hari.

Uzbekistan dan negara Asia Tengah lainnya akan maju pesat di masa akan datang. Berbagai negara kini berusaha menjalin hubungan dengan negara-negara yang dulu menjadi bagian Uni Soviet itu.

“Saat ini adalah momentum yang tepat bagi Indonesia untuk mempererat kerja sama dengan Uzbekistan dan menjadikan negara ini pintu gerbang Indonesia ke negara Asia Tengah lainnya, juga ke Eropa,” kata Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel di Tashkent, Uzbekistan, Kamis (21/05/2021).

Selama lima hari di Uzbekistan, Minggu (16/05/2021) hingga Kamis (20/05/2021), Gobel dan sejumlah anggota DPR bertemu Deputi Perdana Menteri Uzbekistan Bidang Pariwisata dan Olahraga Aziz Abdukhakimov, Deputi Perdana Menteri Uzbekistan Bidang Investasi dan Perdagangan Luar Negeri Sardor Umurzakov Sardor Uktamovich, Ketua Senat Oliy Majlis Parlemen Uzbekistan Tanzia Kamalavina, Ketua Dewan Pimpinan Uzkimyosanoat Mirzamakhmudov, dan Direktur Uzkimyoimpex Rasulovich Mukhamedjanov Oybek Abdusanttorovich. Agenda utama adalah penjajakan kerja sama di bidang ekonomi dan kebudayaan.

Tidak lama lagi, Uzbekistan akan masuk kategori negara dengan pendapatan menengah-atas dan selanjutnya menjadi negara maju. Banyak faktor yang mempengaruhi, di antaranya akselerasi pembangunan yang terjadi di Uzbekistan, kerja sama regional sesama negara Asia Tengah, kerja sama negara-negara bekas Uni Soviet, dan program Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok -- jalur sutra maritim abad ke-21 dan sabuk ekonomi jalur sutra, yang sebelumnya disebut One Belt One Road (OBOR).

Asia Tengah merupakan old silk road, jalur sutra lama yang berjaya lebih dari satu milenium di masa lalu. Perdagangan dan penyebaran budaya sejumlah kerajaan besar di utara, selatan, timur, dan barat melintasi Asia Tengah. Negara-negara bekas Uni Soviet itu berusaha mengembalikan kejayaan Asia Tengah sebagai new silk road, jalur sutra baru yang menghubungkan berbagai negara. Mereka sudah merencanakan membangun infrastruktur transportasi —darat, udara, dan laut— agar negeri land lock itu tidak terus-menerus terisolasi. Tidak salah jika RRT yang berambisi menguasai ekonomi dunia, memanfaatkan momentum kebangkitan negara-negara Asia Tengah.

Tiongkok akan membangun infrastruktur transportasi — jalan tol dan rel kereta api (KA) — di Asia, Afrika, dan Eropa. Dari provinsi paling utara, Xinjiang, RRT akan membangun jalan raya dan rel KA ke Asia Tengah, Asia Selatan, Eropa Timur, Eropa Barat, dan Afrika. Rencana yang dilontarkan Presiden Xi Jingping tahun 2013 itu mengejutkan dunia. Ambisi besar Tiongkok untuk membangun infrastruktur transportasi darat dan laut di lebih dari 60 negara membetot perhatian dunia.

Selain Uzbekistan, terdapat lima negara yang terletak di Asia Tengah, yakni Azerbaijan, Kazakhstan, Turkmenistan, Kyrgystan, dan Tajikistan. Pada tahun 2015, wilayah seluas 4.497.500 km persegi itu didiami 77 juta penduduk. Sekitar 30 juta atau 40% penduduk Asia Tengah berada di Uzbekistan. Sedang negara di sana dengan wilayah terbesar adalah Kazakhstan dengan luas 2.724.900 km persegi atau lebih dari 60%.

Uzbekistan, Gerbang Indonesia di Asia Tengah

Peta Asia Tengah.

Selama 74 tahun, 1917-1991, enam negara Asia Tengah itu berada di bawah pendudukan Uni Soviet. Setelah negara adidaya ini hancur berkeping-keping tahun 1991, semua negara pendudukan mendeklarasikan kemerdekaan. Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Turkmenistan menjadi negara berdaulat sebagaimana sejumlah negara pendudukan Uni Soviet di Eropa Timur.

Dunia kini melihat Asia Tengah. Untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, pasar tradisional saja tidak lagi mencukupi. Berbagai negara berlomba mencari pasar baru dan enam negara Asia Tengah itu menjadi salah satu target. Di sinilah pentingnya kunjungan lima Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel dan rombongan ke Uzbekistan.

Working Group
Menindaklanjuti pertemuan dengan para pejabat Uzbekistan, khususnya saran dari Deputi PM Bidang Investasi dan Perdagangan Luar Negeri Sardor Umurzakov Sardor Uktamovich, demikian Gobel, pihaknya segera mengontak Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi untuk membentuk sebuah working group (kelompok kerja). Tugas utama working group adalah mempersiapkan sektor usaha dan berbagai bidang yang hendak dikerjasamakan antar-kedua negara. Berbagai potensi yang dimiliki kedua negara perlu dioptimalkan guna memberikan manfaat dan nilai tambah bagi kedua belah pihak.

Kelompok kerja terdiri atas pejabat Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Investasi, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, dan sejumlah lembaga terkait. Kelompok kerja akan menyusun sektor dan bidang usaha yang perlu dikerjasamakan, membuat perencanaan, lengkap dengan target yang hendak dicapai dan jadwal kegiatan.

Setelah siap, kelompok kerja kedua negara akan membahas lebih terperinci action plan (rencana aksi). Di bidang ekonomi, kerja sama sama tidak terbatas pada perdagangan dan pariwisata, tetapi juga investasi. Akan jauh lebih bagus, kata Gobel, jika pihak Uzbekistan membuka pintu bagi perusahaan Indonesia untuk berinvestasi. Untuk bahan baku pupuk, misalnya, akan lebih bagus bila perusahaan Indonesia diperkenan untuk berinvestasi di Uzbekistan.

Kerja sama Indonesia dan Uzbekistan tidak saja G-to-G, pemerintah dengan pemerintah, tapi juga B-to-B, korporasi dengan korporasi, dan G-to-B, pemerintah dengan korporasi, dan P-to-P, masyarakat dengan masyarakat. Kerja sama di bidang ekonomi akan berjalan bersamaan dengan kerja sama di bidang kebudayaan. Mayoritas bangsa Indonesia dan Uzbekistan mempunyai keyakinan yang sama, yakni agama Islam. Dengan common ground yang sama, kerja sama di bidang ekonomi akan lebih mudah.

Paralel dengan kegiatan working group, kerja sama di bidang kebudayaan dan ekonomi terus ditingkatkan. Selain pertukaran pelajar antarkeda negara, kata Gobel, pemerintah akan mengajak sejumlah ulama Indonesia berkunjung ke Uzbekistan. Ada sejumlah objek wisata religi di Uzbekistan di antaranya, makam dan museum Imam al-Bukhari -- ahli hadist Nabi Muhammad, Museum Raja Temurlenk, makam Abu Mansur Maturidi, Baha-us-Din Naqsband, Ulugh Beg Madrasa, dan Abdul Khalid Ghajadwani.

Uzbekistan, Gerbang Indonesia di Asia Tengah

Ulug Beg Madrasa, sebuah madrasah terbesar di Uzbekistan dengan tiga gedung megah dari marmer. (Foto: Primus Dorimulu)

“Penting sekali kerja sama people-to-people yang kemudian meningkat menjadi kerja sama heart-to-heart,” kata Gobel. Jika hubungan masyarakat kedua negara sudah di level dari hati ke hati, kerja sama ekonomi akan berjalan mulus.

Kedua negara sepakat untuk melakukan pertukaran pelajar dan pemuda. Langkah itu penting untuk mewujudkan saling pemahaman. Gobel menyarankan adanya sister city agar ada langkah kerja sama yang lebih konkret.

Investasi Langsung
Selain anggota dewan, kunjungan Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel dihadiri juga oleh Dirjen Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Muhammad Khayam, Dirut PT Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi, dan Staf Ahli Kementerian Perdagangan Bidang Hubungan. Internasional Arlinda Imbang Jaya. Salah satu agenda yang dibahas adalah kerja sama PT Pupuk Kaltim dengan BUMN Pupuk Uzbekistan.

Uzbekistan, Gerbang Indonesia di Asia Tengah

Rahmad Pribadi. (Foto: Primus Dorimulu)

Sedang anggota DPR RI yang ikut dalam rombongan ke Uzbekistan adalah Ketua Komisi VII Sugeng Suparwoto, Ketua Badan Legislatif (Baleg) Supratman Andi Agtas, Wakil Ketua Baleg Willy Aditya, Wakil Ketua Baleg Achmad Baidowi, Anggota Komisi XI Heri Gunawan, anggota Komisi IV Muhamad Syahruddin, dan anggota Komisi III Taufik Basari

Selama ini, Indonesia mengimpor dalam jumlah besar potasium klorida (KCl) sebagai bahan baku pupuk, sekitar 500.000 ton lebih setahun. Negara produsen terbesar KCl, kata Rahmad, adalah Kanada, Rusia, dan Belarusia.

“Ada sedikit dari Uzbekistan dan Laos, tapi terbesar dari tiga negara itu,” kata dirut Pupuk Kaltim kepada Beritasatu.com.

Setahun, Pupuk Kaltim membutuhkan sekitar 100.000-120.000 ton. Sedangkan produksi KCl Uzbekistan sekitar 500.000 ton dengan konsumsi dalam negerinya 300.000 ton lebih. Dengan kebutuhan kita yang besar, Uzbekistan sudah pasti tidak bisa memenuhi semuanya.

“Akan lebih menarik jika perusahaan Indonesia boleh ikut investasi potasium atau HCl di Uzbekistan. Ini baru menarik. Kita akan berusaha agar dalam kerja sama akan datang, kedua negara tidak hanya menjalin hubungan dagang, melainkan investasi langsung,” papar Rahmad.

Investasi langsung di Uzbekistan, kata Gobel, akan masuk dalam agenda working group. Pihak Uzbekistan juga akan diajak untuk investasi di Indonesia. Dengan menjadikan Uzbekistan sebagai pintu gerbang untuk memasuki Asia Tengah dan Eropa, investasi langsung merupakan pilihan strategis. Bukan hanya pupuk, industri makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, dan elektronik dari Indonesia juga bisa dibangun di Uzbekistan.

Pada tahun 2020, impor Indonesia dari Uzbekistan sebesar US$ 18,16 juta. Dari jumlah itu, sebanyak US$ 12,27 juta atau 66% adalah bahan baku untuk fertilizers atau pupuk. Selama kuartal pertama 2021, neraca perdagangan Indonesia surplus terhadap Uzbekistan. Tapi, kata Starlet Yuniati Koenaifi, Sekretaris Kedubes RI di Uzbekistan, kondisi itu bukan karena lonjakan ekspor Indonesia, melainkan belum ada ekspor dari Uzbekistan ke Indonesia.

Sejak 2018, defisit neraca perdagangan RI dan Uzbekistan mengecil. Pada tahun 2020, ekspor Indonesia ke Uzbekistan melonjak 40% ke US$ 18,16 juta. Potensi ekspor Indonesia ke negeri ini cukup besar karena Uzbekistan sedang dalam pembangunan yang cukup agresif.

Impor Uzbekistan dari Indonesia, antara lain, kopi, teh, CPO, rotan, mebel, ban mobil, berbagai jenis elektronik, terutama kulkas dan air conditioner (AC). Negeri empat musim ini didera suhu hingga 40-43 derajat setiap musim panas, April-Juli. Indonesia, kata Gobel, perlu meningkatkan ekspor buah-buahan tropis ke Uzbekistan, di antaranya pisang, nenas, dan manggis.

Uzbekistan, Gerbang Indonesia di Asia Tengah

Rachmat Gobel dan Umurzakov Sardor Uktamovich. (Foto: Primus Dorimulu)

Penerbangan Langsung
Selama ini, Uzbekistan menempatkan Indonesia sebagai salah target utama wisatawan untuk mengunjungi berbagai objek wisata di antaranya Makam Imam al Bukhari. Pada 4-6 September 1956, Presiden Soekarno mengunjungi makam ini setelah sebelumnya meminta pemerintah Uni Soviet untuk membantu penemuan dan pemugaran Makam Imam al Bukhari, ahli hadist kelahiran kota Bukhara, dekat Samarkhand, yang hidup dari tahun 810 hingga 870 M.

Saat diterima Deputi PM Uzbekistan Bidang Pariwsiata dan Olahraga di kantornya, Tashkent, Minggu (16/05/2021), koran lokal dengan headline kunjungan Soekarno ke Tashkent dan Samarkhand langsung ditampilkan d layar televisi. Para pejabat pemerintah dan ulama Uzbekistan sangat menghormati presiden RI pertama itu. Karena atas desakannya, Uni Soviet berusaha menemukan makam Imam al Bukhari.

Lebih dari itu, makam ahli hadis paling terkemuka di dunia itu menjadi objek wisata religi paling menarik. Saat Beritasatu.com mengunjungi Samarkhand, Rabu (19/5/2021), makamnya sedang dipugar. Sebuah masjid besar berkapasitas 10.000 jemaah sedang dibangun. Tidak jatuh dari makamnya sudah beroperasi sebuah sekolah dan lembaga riset bernama Imam Bukhari International Scientific-Research Center. Semua cerita dan dokumen tentang tokoh kelahiran Bukhara ini ada di sini.

Yang menarik, lurus dengan makam Imam al Bukhari ada gedung besar yang sedang dibangun dan sudah mencapai toping off. Andaikan tidak ada pandemi Covid-19, bangunan itu sudah trampung. “Itu adalah Hotel Sahid, patungan Sahid Jaya dengan perusahaan lokal di Samarkhand,” kata pemandu wisata setempat.

Dari semua negara asal wisman, demikian Aziz Abdukhakimov, Indonesia dikategorikan sebagai negara utama pemasok turis.

“Negara kita sama-sama mayoritas Islam. Soekarno punya tempat tersendiri di hati kami dan objek wisata religi cukup banyak di sini,” ujar Deputi PM itu.

Pada tahun 2019, wisatawan Uzbekistan ke Indonesia 2019 sebanyak 3.756 dan di tahun 2020, akibat pandemi, jumlahnya turun menjadi 1.534. Sedang pelancong asal Indonesia yang berkunjung ke Uzbekistan tahun 2019 sebayak 2.702 dan pada tahun 2020 hanya 51. “Pengaruh pandemi sangat signifikan,” kata Dubes RI untuk Uzbekistan Sunaryo Kartadinata di Tashkent, Rabu (19/05/2021).

“Potensi Indonesia dan Uzbekistan sangat besar. Selain punya kesamaan agama, kedua negara juga memiliki potensi ekonomi yang besar,” kata Deputi PM Uzbekistan. Tanpa ada langkah konkret, potensi besar negara, yang baru sedikit dieksploitasi, akan tetap menjadi potensi.

Fasilitas bebas visa diberikan Uzbekistan kepada Indonesa 10 Februari 2018. Langkah ini diikuti oleh penerbangan langsung Tashkent-Jakarta, sepekan dua kali. Dimulai 2 Mei 2019, penerbangan langsung ini hanya berlangsung kurang dari setahun akibat pandemi.

Gobel mengharapkan agar direct flight diadakan kembali, bukan hanya untuk turisme, melainkan juga untuk angkutan kargo. Indonesia memiliki banyak buah tropis seperti pisang dan manggis. Indonesia juga kaya akan ikan laut. Sebagai gambaran, maskapai Turki, Turkish Airlines, meraih kemajuan pesat berkat angkutan kargo.

Uzbekistan yang berpenduduk 34,2 juta dikunjungi oleh 6,7 juta orang pada tahun 2019, meningkat dari 5,3 juta tahun 2018. Sekitar 51% dari pengunjung berusia 31-55 tahun. Terbesar adalah wisman dari sesama negara Asia Tengah dan umumnya, sekitar 82% datang untuk mengunjungi keluarga. Hanya sekitar 500.000 pengunjung yang berasal dari luar Asia Tengah. Indonesia tercatat sebagai salah satu penyumbang wisman terbesar selain Eropa Barat, Jepang, dan Korsel.

Untuk mendongkrak turis dari Indonesia, Uzbekistan berencana memberikan subsidi kepada pengunjung. Bentuk subsidi akan diumumkan kemudian. Selain itu, media massa asal Indonesia akan diundang ke Uzbekistan untuk menulis tentang objek wisata.

Sebanyak 83,8% penduduk Uzbekistan adalah etnis Uzbek. Sisanya, 4,8% etnis Tajik, 2,5% Kazakh, 2,3% Russia, 2,2% etnis karakalpak, 1,5% Tatar, dan 2,9% lain-lain. Dari sisi agama, sebanyak 76,2% warga Uzbekistan beragama Islam. Sisanya, 18,1% tidak beragama, 0,8% Katolik Ortodoks Russia, dan 4,9% agama lainnya.

Setelah bertumbuh 1,6% tahun 2020, laju pertumbuhan ekonomi Uzbekistan tahun 2021 diperkirakan melesat 5,8%. Laporan Bank Dunia awal tahun ini menunjukkan, pandemi Covid-19 memberikan dampak sangat serius terhadap ekonomi Uzbekistan.

Laju pertumbuhan Uzbekistan didukung oleh sektor pertanian dan kebijakan kontrasiklikal yang diambil pemerintah. Pemerintah memberikan dana stimulus di bidang kesehatan dan ekonomi untuk meningkatkan permintaan. Dana stimulus fiskal mampu mendorong konsumsi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tingkat pengangguran tahun 2019 sebesar 9% meningkat menjadi 11,1% pada September 2020. Sedang angka kemiskinan naik mencapai 9%, jauh di atas perkiraan 7,4%. Sekitar 9% penduduk Uzbekistan hidup di bawah garis kemiskinan. Selama pandemi ada tambahan 1 juta warga Uzbekistan tergelincir dalam kemiskinan.

Defisit transaksi berjalan yang pada tahun 2019 sebesar 5,7%, pada tahun 2020 menyempit menjadi 5,2%. Kondisi ini disebabkan oleh lonjakan ekspor emas 18% tahun 2020. Dalam pada itu, impor turun sebesar 17%.

Pada tahun 2020, demikian Bank Dunia, produk domestik bruto (PDB) Uzbekistan US$ 57,7 miliar dengan PDB per kapita US$ 1.687. Usia harapan hidup orang Uzbekistan 71,6 tahun.

Gerbang ke Asia Tengah
Di timur, Asia Tengah berbatasan dengan Tiongkok dan Mongolia. Di timur laut dengan Rusia. Di selatan Asia Tengah ada Afghanistan dan Pakistan. Tenggara ada RRT, Nepal, India, Bangladesh, dan Asia Tenggara. Di utara, Asia Tengah berbatasan dengan Rusia. Di barat, ada Azerbaijan, Georgia, Turki, Rusia, Ukraina, dan negara-negara Eropa Timur. Di barat daya, ada Suriah, Irak, dan Iran. Terletak di jantung Asia, negara-negara Asia Tengah tercatat sebagai jalur sutra sejak ribuan tahun sebelum Masehi.

Uzbekistan dan negara-negara Asia Tengah lainnya merupakan jalur sutra yang ramai pada milenium pertama saat Kekaisaran Romawi dan Bizantium pertama, juga Dinasti Tang (618–907 M) di Tiongkok berjaya. Sejarah Dinasti Han, Tiongkok, (206 SM – 220 M), mencatat Asia Tengah sebagai lintasan perdagangan ke Eropa, Timur Tengah, dan Asia Selatan hingga Asia Tenggara.

Uzbekistan, Gerbang Indonesia di Asia Tengah

Lahan terbuka di Uzbekistan. (Foto: Primus Dorimulu)

Asia Tengah adalah episentrum gelombang pertama globalisasi yang menghubungkan pasar timur dan barat serta utara dan selatan. Selain menjadi jalur penyebaran kebudayaan dan agama, Asia Tengah adalah lintasan perdagangan sutra, rempah-rempah, batu giok, emas, gading, barang dari kaca, dan barang-barang berharga lainnya. Perang Salib abad 11-12, dan kemajuan bangsa Mongol, abad 12-14, menghambat kemajuan perdagangan Asia Tengah.

Setelah Kerajaan Mongol redup, muncul Timur Lenk, pemimpin dari Samarkhand, Uzbekistan, 1336-1405. Meski tidak sebesar dan selama Kerajaan Mongol, kekuasaan Timur Lenk sempat mencapai Moskow, Iran, Timur Tengah, dan Turki. Pemimpin Dinasti Timurid itu hanya berkuasa selama 35 tahun. Tapi, ia menjadi kebanggaan bangsa Uzbekistan. Selain menorehkan nama Uzbekistan dalam sejarah, Timur juga dikenal sebagai pemimpin yang berjasa menyiarkan agama Islam.

Uzbekistan, Gerbang Indonesia di Asia Tengah

Makam Raja Timur Lenk di Uzbekistan. (Foto: Primus Dorimulu)

Saat ini, negara-negara Asia Tengah yang terisolasi secara ekonomi akibat posisi geografisnya yang land lock atau wilayah tanpa laut mulai bangkit. Keenam negara Asia Tengah ini menyandarkan ekspor-impor mereka pada pelabuhan negara tetangga, di antaranya Chabahar di Irak, Lianyungan di Tiongkok, Mumbai di India, dan Gwadar, Qasim, dan Karachi di Pakistan. Program Belt and Road Inisiative (BRI), Jalur Sutra Maritim Abad 21 dan Sabuk Ekonomi Jalur Sutra yang digagas Tiongkok akan menambah akses transportasi Asia Tengah dan itu mendongrak kemajuan ekonomi negara-negara ini.

Asia Tengah kini semakin terintegrasi dengan perekonomian internasional. Sebelum BRI yang digagas Tiongkok, mereka sudah membentuk berbagai organisasi regional sebagai wadah kerja sama dengan negara Asia Selatan, Eropa, dan Asia Timur. Ada Commonwealth of Independent States (CIS), Central Asia Regional Economic Cooperation (CAREC), the Shanghai Cooperation Organisation (SCO), the EurAsian Economic Community (EurAsEC), Free Trade Area of Independent States (FTAIS), dan Economic Cooperation Organization (ECO).

Sebelum RRT mengumumkan BRI (sebelumnya OBOR), negara-negara Asia Tengah sudah menggagas Trans-Asia Railway Network dan Asian Highway. Infrastruktur ini dijadikan tulang punggung Asia Tengah untuk berhubungan dengan negara-negara sekitarnya. Dengan menjadikan Uzbekistan pintu gerbang, Indonesia akan mudah memasuki negara-negara Asia Tengah lainnya dan produk Indonesia akan mudah menjangkau Eropa Barat, Eropa Timur, dan Asia Selatan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

KPK Duga Lukas Enembe Naik Pesawat Pribadi dengan Layanan First Class

KPK mendalami dugaan Gubernur Papua Lukas Enembe menggunakan private jet atau pesawat pribadi dengan layanan first class.

NEWS | 4 Oktober 2022

AHY Hormati Kedaulatan Partai Nasdem Usung Anies Capres

AHY menegaskan pihaknya menghormati kedaulatan Partai Nasdem yang sudah mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres).

NEWS | 4 Oktober 2022

Penjelasan KPK soal Pertemuan dengan BPK Terkait Formula E

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membenarkan sudah melakukan koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait penelusuran kasus Formula E.

NEWS | 4 Oktober 2022

Bercanda Soal KDRT Lesti Kejora, Deddy Corbuzier Dikritik Netizen

Pada konten Somasi, Deddy Corbuzier bersama komedian Uus mengangkat kasus KDRT yang dialami penyanyi Lesti Kejora dengan bercanda.

NEWS | 4 Oktober 2022

Bharada E Siap Dipertemukan dengan Ferdy Sambo di Persidangan

Bharada E siap dipertemukan langsung dengan mantan Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo di persidangan.

NEWS | 4 Oktober 2022

Puan Maharani Harapkan Hak-hak Perempuan Kian Terjamin

Ketua DPR Puan Maharani berharap semua anggota Komnas HAM periode 2022-2027 dapat melindungi hak-hak rakyat secara maksimal, khususnya hak-hak perempuan.

NEWS | 4 Oktober 2022

Tingkatkan Pasokan Listrik, PLN Gandeng Kejari Kota Bekasi

PLN siap mendukung pertumbuhan industri dan bisnis di Jabodetabek melalui pembangunan SUTET 500 kV Bekasi – Muara Tawar.

NEWS | 4 Oktober 2022

Kasus Garuda, Eks Anggota DPR Chandra Tirta Wijaya Dicegah ke Luar Negeri

Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) mencegah eks anggota DPR Chandra Tirta Wijaya untuk berpergian ke luar negeri.

NEWS | 4 Oktober 2022

KPK Tegaskan Tak Terpengaruh Rumor Politisasi Kasus Formula E

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak terpengaruh soal mencuatnya rumor politisasi dalam mengusut kasus Formula E.

NEWS | 4 Oktober 2022

Dede Yusuf Pertanyakan Aksi Represif Aparat dalam Tragedi Kanjuruhan

Wakil Ketua Komisi X DPR, Dede Yusuf mempertanyakan aksi represif aparat keamanan dalam tragedi Kanjuruhan.

NEWS | 4 Oktober 2022


TAG POPULER

# Tragedi Kanjuruhan


# Lesti Kejora


# Pembantaian di Papua Barat


# Arema FC


# Raja Charles III


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
KPK Duga Lukas Enembe Naik Pesawat Pribadi dengan Layanan <em>First Class</em>

KPK Duga Lukas Enembe Naik Pesawat Pribadi dengan Layanan First Class

NEWS | 15 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings