Dampak RUU Antimonopoli AS, dari Ponsel Kosong hingga Larangan Akuisisi
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Dampak RUU Antimonopoli AS, dari Ponsel Kosong hingga Larangan Akuisisi

Minggu, 20 Juni 2021 | 20:05 WIB
Oleh : Grace Eldora Sinaga / FMB

Washington, Beritasatu.com - Rancangan undang-undang antimonopoli AS, jika diberlakukan, dapat berdampak reorganisasi atau pecahnya raksasa seperti Google, Facebook, Apple, dan Amazon. RUU ini akan menjalani proses voting di Parlemen pada Rabu (23/6/2021) waktu setempat.

RUU ini akan menghentikan raksasa teknologi dari mengoperasikan platform untuk pihak ketiga, sambil menawarkan layanan yang bersaing secara tidak sehat di platform tersebut. Dengan demikian akan memberikan pukulan besar bagi Apple dan Amazon.

Anggota parlemen juga berusaha melarang perusahaan teknologi memprioritaskan produk atau layanan mereka sendiri. Hal ini berdampak pada layanan mesin pencarian Google.

RUU ini juga memudahkan "portabilitas" dan "interoperabilitas" data. Contohnya, memudahkan orang untuk keluar dari Facebook, tetapi masih bisa menyimpan data dan kontak mereka.

Perusahaan teknologi terbesar juga akan dilarang mengakuisisi pesaing mereka.

Fiona Scott Morton, profesor Universitas Yale dan mantan pejabat AS yang telah banyak menulis tentang Big Tech, mengatakan UU tersebut berasal dari kegagalan penegakan antimonopoli di AS untuk mengurangi dominasi perusahaan teknologi besar.

"Ini adalah peraturan, bukan tentang monopoli lagi," kata Morton, Minggu (20/6/2021).

Jika RUU diberlakukan, katanya, Apple mungkin harus melepas atau menutup layanan musiknya (iTunes) sehingga tidak mendiskriminasi saingannya seperti Spotify.

"Apple harus memilih," imbuhnya.

"(Persyaratan interoperabilitas) memiliki dampak mendalam bagi konsumen, karena akan memungkinkan orang bergabung dengan jejaring sosial selain Facebook dan Instagram (yang juga milik Facebook) dan tetap berhubungan dengan teman-teman mereka," Morton mengatakan.

RUU itu muncul di tengah sikap pemerintah AS yang lebih agresif terhadap perusahaan teknologi yang mendominasi. Presiden AS Joe Biden mencalonkan Lina Khan, salah satu orang yang sangat vokal terhadap Big Tech, untuk mengepalai Komisi Perdagangan Federal (FTC), salah satu lembaga yang ditugasi untuk penegakan antimonopoli.

Jalur 'Berisiko'
Komite Yudisial DPR telah menjadwalkan pemungutan suara RUU antimonopoli perusahaan teknologi pada Rabu. RUU mendapat beberapa dukungan dari Partai Republik dan Demokrat di tingkat DPR. Namun dukungan di Senat belum jelas terlihat.

Langkah-langkah tersebut diambil setelah penyelidikan 16 bulan di DPR yang dipimpin oleh ketua subkomite antimonopoli David Cicilline. Pihaknya menyimpulkan bahwa raksasa teknologi menyalahgunakan posisi dominan mereka dan memiliki terlalu banyak kekuatan dalam perekonomian.

Profesor Christopher Sagers, spesialis undang-undang antimonopoli dari Universitas Negeri Cleveland, mengatakan RUU itu adalah pendekatan radikal dalam menghadapi kekuatan perusahaan teknologi yang meningkat.

"(RUU itu) akan memaksa perusahaan teknologi bekerja seperti maskapai penerbangan atau perusahaan listrik, yang harus menyediakan layanan mereka kepada siapa pun yang menginginkannya, dan tidak memberi siapa pun (atau diri mereka sendiri) keuntungan yang diskriminatif," jelas Sagers.

"Undang-undang ini juga bisa mengakhiri beberapa produk yang sangat populer," tambahnya.

"Saya tidak yakin bagaimana Apple dapat terus menjual perangkat lunak selulernya sendiri, misalnya, jika perangkat iOS atau App Store disebut 'platform tertutup'. Dan mungkin ada konsekuensi untuk produk seperti Amazon Prime, Google Maps, buku yang didigitalkan dalam proyek Google Book, dan entah apa lagi," kata dia.

Tetapi Sagers mengatakan dampaknya mungkin tidak buruk dalam jangka panjang. "Pasar mengatur ulang diri mereka sendiri dan pesaing baru muncul untuk menggantikan mereka... Tetapi mengatakan bahwa UU ini tampaknya berisiko dan saya menemukan konsekuensinya sulit diprediksi," Sagers melanjutkan.

Ponsel Pintar Kosong?
Iain Murray, rekan senior di Competitive Enterprise Institute, mengatakan, jika RUU itu disahkan, perusahaan seperti Apple perlu menutup App Store. Dengan demikian, Apple akan mengirimkan "ponsel kosong" tanpa aplikasi apa pun, atau memisahkan divisi telepon.

"Sebagian besar, rata-rata konsumen akan melihat pengalaman penggunanya (user experience) sangat menurun," katanya dalam sebuah pernyataan.

UU tersebut meniru Undang-Undang Pasar Digital Eropa dan kemungkinan akan "mendistorsi" persaingan. Hal ini disampaikan Aurelien Portuese dari Information Technology and Innovation Foundation, sebuah think tank industri teknologi dan komunikasi.

Portuese mengatakan RUU tersebut muncul di tengah sentimen kebencian terhadap Big Tech. Pada akhirnya, konsumen yang akan dirugikan karena RUU ini memberi ruang bagi perusahaan yang kurang efisien untuk bersaing.

"Konsumen mungkin tidak lagi bisa mendapatkan keuntungan dari skala ekonomi perusahaan besar," ujar Portuese dalam sebuah pernyataan.

RUU itu juga mengungkapkan kurangnya pemahaman praktis tentang bagaimana cara industri teknologi beroperasi agar tetap kompetitif, relevan, menguntungkan, dan inovatif, kata analis Olivier Blanchard di Futurum Research dalam sebuah unggahan blog.

"Apakah perusahaan Big Tech memegang terlalu banyak kekuasaan? Anda bisa memperdebatkannya, tetapi tentu saja," tukasnya.

"Tetapi jika tujuannya adalah untuk mengendalikan perusahaan yang sangat besar dan sangat kuat, Kongres dapat mengatasi masalah tersebut dengan cara melindungi konsumen dan persaingan, tanpa merusak sistem secara keseluruhan," jelas dia.



Sumber: AFP


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Vaksinasi Covid-19 Tiongkok Tembus Satu Miliar

Tiongkok telah memberikan lebih dari satu miliar vaksin Covid-19 sejak dimulainya program vaksinasi.

DUNIA | 20 Juni 2021

Israel Nyatakan Prihatin Atas Kemenangan Ebrahim Raisi

Israel menyatakan masyarakat internasional harus memiliki keprihatinan serius tentang pemilihan presiden terpilih baru Iran, Ebrahim Raisi.

DUNIA | 20 Juni 2021

Saudi Cegat 11 Drone Bersenjata Houthi

Pertahanan udara Arab Saudi pada Sabtu (19/6/2021i) menghancurkan 11 drone atau pesawat nirawak bersenjata milik pemberontak Houthi.

DUNIA | 20 Juni 2021

Filipina Sepakati Pembelian 40 Juta Vaksin Covid-19 Pfizer-Biontech

Filipina telah menandatangani perjanjian pembelian 40 juta dosis vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer dan Biontech.

DUNIA | 20 Juni 2021

AS Kirim 2,5 Juta Dosis Vaksin Covid-19 ke Taiwan

Amerika Serikat (AS) mengumumkan pada Sabtu (19/6/2021) bahwa 2,5 juta dosis vaksin Covid-19 sedang dalam perjalanan ke Taiwan.

DUNIA | 20 Juni 2021

Temukan Satu Kasus Covid-19, Bandara Shenzen Batalkan Ratusan Penerbangan

Ratusan penerbangan dibatalkan di bandara internasional di kota Shenzhen, Tiongkok selatan

DUNIA | 20 Juni 2021

India Minta Negara Bagian Hati-hati Buka Karantina Covid-19

Pemerintah pusat India pada Sabtu (19/6/2021) mendesak negara-negara bagian untuk berhati-hati dalam membuka kembali karantina Covid-19.

DUNIA | 20 Juni 2021

Peru Tangguhkan Lagi Penerbangan dari Brasil, Afsel dan India

Peru memperpanjang penangguhan penerbangan dari Brasil, Afrika Selatan, India hingga 11 Juli.

DUNIA | 20 Juni 2021

WHO: Varian Delta Mendominasi Kasus Covid-19 Global

Varian Delta dari virus corona menjadi jenis yang dominan secara global.

DUNIA | 20 Juni 2021

Dua Cuitan Elon Musk Ini Termahal dalam Sejarah

Salah satu cuitannya pernah membuat Tesla kehilangan Rp 230 triliun dalam sehari saja.

DUNIA | 20 Juni 2021


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS