Logo BeritaSatu

RS Myanmar Ditinggal Tenaga Medis Pro-Demokrasi, Setiap Hari Tim Relawan Angkut 30-40 Mayat

Senin, 19 Juli 2021 | 11:55 WIB
Oleh : Surya Lesmana / LES

Yangon, Beritasatu.com – Kondisi rumah sakit di Myanmar yang dikelola junta militer banyak yang kosong ditinggalkan staf medis pendukung demokrasi. Akibatnya tak bisa dihindari, kasus Covid-19 meningkat secara nasional di negara itu. Kini pemandangan sehari-hari yang terjadi di Myanmar menjadi tragis. Di mana tenaga sukarelawan datang dari rumah ke rumah untuk mengangkut korban yang meninggal.

Setiap pagi, telepon Than Than Soe mulai berdering dengan permintaan dari sejumlah orang yang anggota keluarganya telah meninggal di kota besar Yangon.

Dia terus menulis nama, alamat dan nomor kontak korban di buku besar dan mengirimkan tim ke rumah mereka yang menghubunginya.

"Kami menjalani layanan ini tanpa istirahat," katanya kepada AFP di kantor kelompok sukarelawan.

“Setiap hari tim saya mengumpulkan antara 30 sampai 40 mayat... Saya pikir tim lain akan sama seperti kita. Bahkan ada juga dua mayat di dalam satu rumah”.

Rumah sakit di seluruh negeri kosong dari dokter dan pasien karena pemogokan jangka panjang terhadap rezim militer yang merebut kekuasaan pada pemerintahan hasil pemilu awal Februari lalu.

Kemarahan yang meluas pada kudeta, dan ketakutan terlihat bekerja sama dengan rezim, juga menjauhkan banyak orang dari rumah sakit yang dikelola militer. Hal ini membuat banyak dari warga yang terpapar Covid-19 tak mendapatkan penanganan medis yang tepat, dan kesulitan memperoleh oksigen. Akhirnya yang tersisa adalah kerja para relawan mengangkut mayat untuk dikremasi.

Sann Oo, yang mulai bekerja sebagai pengemudi sukarelawan ketika gelombang pertama pandemi melanda Myanmar tahun lalu, mengatakan, ia biasanya bekerja selama 13 jam.

"Kami biasa mengirim pasien ke rumah sakit," katanya kepada AFP. "Kami biasa bertanya kepada pasien, Anda ingin pergi ke rumah sakit mana?”.

"Tapi sekarang berbeda. Saat kami menerima telepon masuk, kami harus bertanya, Kuburan yang mana?”.

Pihak berwenang melaporkan hampir 5.500 kasus pada hari Sabtu (17/7/2021), naik dari sekitar 50 per hari pada awal Mei. Tetapi para analis meyakini, jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

Dengan staf medis yang mogok melawan junta, para sukarelawan mengambil pekerjaan berisiko.

Di rumah salah satu korban, Sann Oo dan tim mengikat mayat ke tandu, menutupinya dengan selimut dan menyusuri tangga kayu sempit ke jalan.

Mereka membawa tandu ke mobil van sementara relawan lain memukul gong yang digunakan dalam upacara pemakaman Buddhis.

Saat mereka tiba di krematorium Kyi Su mereka harus antre. Karena setidaknya ada delapan ambulans lain yang sudah parkir di luar.

Pekerja medis yang berada di garis depan menghadapi Covid-19 Myanmar sebelum kudeta terjadi, telah menjadi sasaran setelah memimpin protes massal pada awal pemerintahan junta.

Pejabat tinggi kesehatan, termasuk kepala program vaksinasi Myanmar, telah ditahan dan ratusan lainnya bersembunyi untuk menghindari penangkapan junta.

Pekan lalu, Dewan Administrasi Negara, demikian junta menjuluki dirinya sendiri, menyerukan dokter dan perawat untuk menjadi sukarelawan melawan Covid-19. Mereka mengakui, menghadapi kesulitan dalam mengendalikan lonjakan.

Media pemerintah melaporkan pada hari Sabtu, pihak berwenang bergegas meminta pasokan oksigen dari negara tetangga Thailand dan Tiongkok.

Pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar pekan lalu memperingatkan negara itu berisiko menjadi negara super penyebar Covid-19.

Than Than Soe mengatakan, dua anggota timnya telah dites positif sejak lonjakan baru-baru ini, dan satu telah meninggal.

“Selalu yang saya dengar adalah kabar yang buruk,” ungkapnya.

“Ada saatnya saya tak mau mengangkat telepon untuk menjawab panggilan. Itu bukan karena saya tak mau bekerja...tetapi karena saya menderita setiap saat menerima kabar buruk”.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: AFP

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Tragedi Kanjuruhan, PSSI Hentikan Liga 1 Selama Sepekan

Buntut tragedi Kanjuruhan, PSSI memutuskan untuk menghentikan BRI Liga 1 2022/2023 selama satu pekan dan melarang Arema FC menjadi tuan rumah.

NEWS | 2 Oktober 2022

Korban Tewas dalam Tragedi Kanjuruhan Dikabarkan Bertambah Jadi 62 Orang

Korban tewas dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya dikabarkan bertambah menjadi 62 orang. 

NEWS | 2 Oktober 2022

Arema FC Akan Dilarang Jadi Tuan Rumah di Sisa Musim Liga 1

Komisi Disiplin PSSI menegaskan bahwa Arema FC bisa terkena sanksi tidak dapat menjadi tuan rumah di sisa laga BRI Liga 1 2022/2023.

NEWS | 2 Oktober 2022

Video: Gas Air Mata Bikin Massa di Kanjuruhan Panik

Insiden tragis pasca pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya, Sabtu (1/10/2022) diduga disebabkan karena penggunaan gas air mata di Kanjuruhan.

NEWS | 2 Oktober 2022

Tragedi Kanjuruhan, Ini Video Ribuan Suporter Merangsek Masuk Lapangan

Beredar video yang menunjukkan suporter merangsek masuk lapangan usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan.

NEWS | 2 Oktober 2022

Tragedi Kanjuruhan: Aturan FIFA, Gas Air Mata Terlarang

Insiden tragis pasca pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022) diduga disebabkan karena penggunaan gas air mata.

NEWS | 2 Oktober 2022

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, PSSI: Arema Bisa Kena Sanksi Keras

Kerusuhan terjadi di Stadion Kanjuruhan setelah laga BRI Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, Sabtu, 1 Oktober 2022.

NEWS | 2 Oktober 2022

Persebaya Berduka atas Korban Tewas dalam Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Persebaya Surabaya menyampaikan duka cita atas jatuhnya korban jiwa dalam kerusuhan usai laga melawan Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

NEWS | 2 Oktober 2022

Tragedi di Kanjuruhan, PSSI Segera Investigasi

PSSI segera melakukan investigasi terkait kerusuhan yang berujung tragedi di dalam Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022).

NEWS | 2 Oktober 2022

Gas Air Mata Dituding Penyebab Jatuhnya Korban di Kanjuruhan

Insiden tragis pasca pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya dipandang karena tembakan gas air mata di dalam Stadion Kanjuruhan.

NEWS | 2 Oktober 2022


TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Es Teh Indonesia


# Anies Baswedan


# Pertalite Boros


# Ketiak Basah


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Kepemilikan Satwa Liar, KLHK Minta Masyarakat Miliki Izin

Kepemilikan Satwa Liar, KLHK Minta Masyarakat Miliki Izin

NEWS | 34 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings