20 Tahun Dikeroyok Amerika dan NATO, Taliban Kembali Berkuasa
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

20 Tahun Dikeroyok Amerika dan NATO, Taliban Kembali Berkuasa

Rabu, 18 Agustus 2021 | 12:12 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Beritasatu.com – Setelah 20 tahun gempuran pasukan Amerika Serikat dan sekutu dekatnya, kelompok milisi Taliban tetap eksis dan bahkan berhasil merebut kembali kekuasaan di Afghanistan sejak hari Minggu (15/8/2021) yang lalu.

Hal itu dimungkinkan karena AS sendiri akhirnya tidak tahan menjalani perang terlama dalam sejarahnya yang menelan biaya ratusan miliar dolar dan menewaskan ribuan tentaranya.

Menurut riset Brown University, perang itu menewaskan sekitar 69.000 pasukan pemerintah Afghanistan, 51.000 warga sipil, 51.000 militan, dan lebih dari 3.500 tentara pasukan koalisi – sekitar duapertiganya tentara Amerika.

Sejak 2012, sekitar 5 juta warga Afghanistan dipaksa atau sengaja meninggalkan rumah dan tidak bisa pulang, sebagian mengungsi ke negara-negara lain.

Menurut Brown University, pengeluaran Amerika sepanjang konflik termasuk belanja militer dan dana rekonstruksi di Afghanistan dan Pakistan mencapai US$ 978 miliar.

Di era Presiden Donald Trump, dibuat kesepakatan dengan Taliban untuk menarik mundur seluruh pasukan Amerika.

Penarikan pasukan itu dituntaskan oleh presiden selanjutnya, Joe Biden, terutama dalam dua bulan terakhir ini.

Tanpa perlindungan militer AS, moral pasukan Afghanistan anjlok dan mudah dikalahkan Taliban di berbagai wilayah, dan akhirnya Presiden Ashraf Ghani melarikan diri ke luar negeri.

Biden berkeras dengan keputusannya, dengan mengatakan "rakyat Amerika tidak bisa dan tidak boleh tewas atau berperang di pertempuran di mana rakyat Afghanistan sendiri tidak bersedia angkat senjata."

Tayangan eksklusif televisi Al-Jazeera menunjukkan video dramatis pasukan Taliban yang menguasai istana kepresidenan di Kabul dengan menenteng senjata, Senin (16/8/2021).

Taliban berjanji bahwa mereka tidak akan lagi mengizinkan Afghanistan sebagai basis teroris dari kelompok mana pun yang mengancam negara-negara Barat.

Dalam wawancara telepon dengan BBC, juru bicara kelompok itu juga menjanjikan “alih kekuasaan secara damai” dan bahwa properti dan keselamatan seluruh rakyat Afghanistan tidak akan diganggu.

Pemicu Perang
Pada 11 September 2001, serangan teroris paling mematikan terjadi di Amerika. Empat pesawat penumpang yang dikuasai teroris melakukan serangan bunuh diri; dua menabrak menara kembar World Trade Center di New York, satu jatuh dekat Gedung Pentagon di Washington DC, dan satu lagi jatuh di Shanksville, Pennsylvania, kabarnya dalam perjalanan ke area Gedung Putih.

Hampir 3.000 orang tewas dalam tragedi tersebut.

Amerika mengindentifikasi para pelaku sebagai anggota kelompok al-Qaeda yang dipimpin Osama Bin Laden.

(AFP)

Bin Laden berada di Afghanistan di bawah perlindungan Taliban, yang sudah berkuasa di Afghanistan sejak 1996.

Pada tahun itu juga Presiden Amerika George W Bush mengultimatum Taliban untuk menyerahkan Bin Laden, dan kemudian melakukan aksi militer di Afghanistan setelah tuntutan itu tidak dipenuhi dengan tekad menyingkirkan Taliban, mendukung demokratisasi di Afghanistan dan membasmi ancaman teroris.

Negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bergabung dengan AS dan kemudian berhasil membentuk pemerintahan baru di Afghanistan pada 2004.

Meski tersingkir dari pemerintahan, Taliban masih gigih melawan. Di era Presiden Barack Obama, jumlah pasukan AS di Afghanistan meningkat pesat sejak 2009 dan mampu meredam perlawanan Taliban, tetapi tidak dalam waktu lama.

Pada 2014, pasukan multinasional NATO mengakhiri misi tempur di sana dan menyerahkan tugas kepada tentara Afghanistan sendiri.

Perkembangan itu menjadi momentum bagi Taliban untuk kembali merebut sejumlah wilayah.

Perundingan damai antara AS dan Taliban mulai dilakukan nyaris tanpa keterlibatan pemerintah Afghanistan, dan perjanjian penarikan pasukan AS diteken pada Februari 2020 di Qatar.

Amerika juga setuju membebaskan 5.000 tawanan perang Taliban -- mereka ini kembali terlibat dalam perebutan kekuasaan internal.

Perjanjian itu rupanya tidak mampu menghentikan serangan Taliban -- yang mengalihkan sasaran kepada angkatan bersenjata Afghanistan dan warga sipil, serta mengincar nyawa tokoh-tokoh tertentu. Wilayah kekuasaan mereka juga makin meningkat.

Di sisi lain, pemerintahan yang dipimpin Presiden Ashraf Ghani tidak dilibatkan dalam kesepakatan AS-Taliban dan mereka seperti sendirian menghadapi serangan balik Taliban sementara pasukan Amerika berangsur pulang ke negara mereka.

Pelatihan dan dana miliaran dolar yang diterima pasukan pemerintah Afghanistan dari AS seperti tidak berguna tanpa tekad dan keberanian untuk menghadapi Taliban dengan absennya bantuan pihak asing.

Amerika Pernah Bantu Mujahidin
Jika menengok sejarah lebih ke belakang, tentara Amerika Serikat sudah masuk ke Afghanistan pada 1980-an. Namun, alasannya ketika itu sangat bertolak belakang dengan invasi pada 2001.

Amerika datang justru untuk memberi bantuan dana, senjata, dan pelatihan militer bagi para gerilyawan Mujahidin Afghanistan yang berperang melawan pendudukan oleh Uni Soviet.

Dekade tersebut merupakan era Perang Dingin ketika Amerika dan sekutunya berjuang membendung ideologi komunisme dari Uni Soviet dan kelompoknya.

Uni Soviet menyerbu Afghanistan pada 1979 setelah terjadi perpecahan di Partai Komunis Afghanistan dan khawatir penguasa partai yang baru akan menjadi sekutu AS.

Setelah sekitar satu dekade, Uni Soviet akhirnya menarik pasukannya dan Presiden Ronald Reagan bisa mengklaim kemenangan Amerika dan “para pejuang Afghanistan yang gagah berani”.

Selepas perang dengan Uni Soviet, muncul kelompok-kelompok militan baru di Afghanistan dan Taliban akhirnya berkuasa pada 1996.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Dari Berbagai Sumber

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Geng Haiti “400 Mawozo” Ancam Bunuh Misionaris yang Diculik

Sebanyak 16 warga AS dan satu Kanada, termasuk lima anak-anak, dari Christian Aid Ministries sedang melakukan perjalanan ketika diculik.

DUNIA | 22 Oktober 2021

Gobel Lakukan Diplomasi Herbal di Belarusia

Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel melakukan diplomasi herbal melalui pertemuan dengan Ketua DPR Belarusia, Vladimir Andreichenko.

DUNIA | 22 Oktober 2021

India Berikan Satu Miliar Dosis Covid-19

India telah memberikan satu miliar dosis vaksin Covid-19 pada Kamis (21/10).

DUNIA | 22 Oktober 2021

Thailand Umumkan 45 Negara Bisa Masuk Tanpa Karantina, Indonesia Belum Termasuk

Dari daftar 45 negara, Indonesia belum termasuk. Sementara Singapura yang masuk kategori risiko tinggi Covid-19 oleh CDC AS masuk dalam daftar.

DUNIA | 22 Oktober 2021

Taiwan Siap Bekerja Sama untuk Capai Masa Depan Dunia yang Bersih

Menteri Chang Tzi-chin mengatakan, pihaknya siap menjalin kerja sama dengan negara lain untuk menciptakan dunia yang lebih bersih.

DUNIA | 22 Oktober 2021

Saham Evergrande Jatuh Setelah Gagal Diakuisisi

Harga saham raksasa properti Tiongkok Evergrande jatuh pada Kamis (21/10/2021) setelah melanjutkan perdagangan di Hong Kong.

DUNIA | 22 Oktober 2021

Bicara di PBB, Wanita Afghanistan Minta Taliban Tak Diberi Kursi Perwakilan

PBB perlu memberikan kursi itu kepada seseorang yang menghormati hak semua orang di Afghanistan.

DUNIA | 22 Oktober 2021

Jasad Pasangan Blogger Wisata Gabby Petito Ditemukan di Florida

Bagian tubuh manusia yang ditemukan di sebuah kawasan belantara di Florida, adalah jasad Brian Laundrie, pasangan blogger wisata Gabby Petito yang tewas.

DUNIA | 22 Oktober 2021

Barbados Pilih Presiden Pertama Ganti Ratu Inggris sebagai Kepala Negara

Barbados telah memilih presidennya yang pertama untuk menggantikan Ratu Inggris Elizabeth II sebagai kepala negara.

DUNIA | 22 Oktober 2021

Studi: Nyamuk Alien dari Asia Timur Kuasai Italia

Spesies nyamuk invasif dari Asia Timur perlahan menyebar ke seluruh Italia.

DUNIA | 21 Oktober 2021


TAG POPULER

# Aipda Ambarita


# WhatsApp


# Tes PCR


# Denmark Terbuka


# Antidoping



TERKINI
Implementasi Pajak Karbon Dimulai dari PLTU Batu Bara

Implementasi Pajak Karbon Dimulai dari PLTU Batu Bara

EKONOMI | 6 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings