Kematian Terkait Pekerjaan Hampir Mencapai Dua Juta Orang Per Tahun
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Kematian Terkait Pekerjaan Hampir Mencapai Dua Juta Orang Per Tahun

Sabtu, 18 September 2021 | 20:33 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR

Jenewa, Beritasatu.com- Hampir 2 juta orang meninggal karena penyebab yang berhubungan dengan pekerjaan setiap tahun. Seperti dilaporkan Reuters, Jumat (17/9/2021), kematian itu juga termasuk akibat dari penyakit yang berhubungan dengan jam kerja yang panjang dan polusi udara.

Temuan itu terungkap dari studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO). Studi yang merupakan penilaian pertama dari jenisnya, menemukan bahwa penyakit dan cedera terkait pekerjaan bertanggung jawab atas kematian 1,9 juta orang pada tahun 2016.

"Sungguh mengejutkan melihat begitu banyak orang benar-benar terbunuh oleh pekerjaan mereka," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal WHO, seraya berharap laporan itu akan menjadi "seruan untuk membangunkan".

Studi ini mempertimbangkan 19 faktor risiko pekerjaan termasuk jam kerja yang panjang tetapi juga paparan tempat kerja terhadap polusi udara, asmagen, karsinogen, dan kebisingan.

Temuan ini menunjukkan bahwa jumlah kematian terkait pekerjaan yang tidak proporsional terjadi pada pekerja di Asia Tenggara dan Pasifik Barat, pada pria, dan pada mereka yang berusia di atas 54 tahun.

Studi ini didasarkan pada temuan WHO sebelumnya bahwa jam kerja yang panjang membunuh sekitar 745.000 orang per tahun melalui stroke dan penyakit jantung.

Laporan yang lebih luas, yang diterbitkan pada Jumat (17/9), menemukan bahwa pembunuh besar lainnya di tempat kerja adalah paparan polusi udara seperti gas dan asap, serta partikel kecil yang terkait dengan emisi industri.

Polusi udara bertanggung jawab atas 450.000 kematian pada tahun 2016, menurut laporan tersebut. Sementara cedera menewaskan 360.000 orang.

Laporan tersebut menemukan sisi positifnya, jumlah kematian terkait pekerjaan relatif terhadap populasi turun 14%% antara tahun 2000 dan 2016. Kondisi itu mungkin mencerminkan peningkatan kesehatan dan keselamatan di tempat kerja.

Namun, laporan juga menyatakan bahwa beban penyakit terkait pekerjaan mungkin "secara substansial lebih besar" dari yang diperkirakan.

Frank Pega, petugas teknis WHO, mengatakan bahwa kematian lain termasuk kematian akibat panas yang meningkat terkait dengan perubahan iklim saat ini tidak termasuk, dan juga bukan penyakit menular seperti Covid-19.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Pemimpin Junta Myanmar Salahkan Oposisi Atas Aksi Kekerasan

Pemimpin junta Myanmar Min Aung Hlaing menyalahkan oposisi atas aksi kekerasan yang terjadi.

DUNIA | 18 Oktober 2021

Israel Perkirakan 2.000 Serangan Roket Hizbullah Per Hari

Israel tidak ingin berperang dengan Hizbullah Lebanon tetapi siap menghadapi sekitar 2.000 roket sehari dari kelompok bersenjata itu jika konflik pecah

DUNIA | 18 Oktober 2021

PM Jepang: Pelepasan Air Limbah Fukushima Tidak Bisa Ditunda

PM baru Jepang Fumio Kishida mengatakan rencana pembuangan massal air limbah yang disimpan di pembangkit nuklir Fukushima tidak bisa ditunda

DUNIA | 18 Oktober 2021

Mantan Presiden AS Clinton Pulang dari RS California

Mantan presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton pada Minggu (18/10/2021) diizinkan pulang dari rumah sakit California Selatan.

DUNIA | 18 Oktober 2021

Serangan Koalisi Arab Tewaskan 165 Pemberontak Houthi

Koalisi Arab pimpinan Arab Saudi telah menewaskan 165 pemberontak Houthi yang didukung Iran.

DUNIA | 18 Oktober 2021

Anak Perempuan Afghanistan Kehilangan Harapan Bisa Sekolah Lagi

Anak perempuan Afghanistan mulai kehilangan harapan untuk bisa sekolah lagi.

DUNIA | 18 Oktober 2021

Meksiko Kedatangan 2.000 Migran Gelap dalam 24 Jam

Meksiko mencatat kedatangan hampir 2.000 migran di negara itu dalam satu hari secara tidak teratur.

DUNIA | 18 Oktober 2021


Tiongkok Kecam AS dan Kanada yang Kerahkan Kapal Perang ke Selat Taiwan

Tiongkok mengecam Amerika Serikat (AS) dan Kanada karena mengirim kapal perang ke Selat Taiwan

DUNIA | 18 Oktober 2021

Kongo Akan Dirikan Maskapai Penerbangan Nasional

Geng bersenjata menculik hingga 17 misionaris Kristen Amerika, termasuk anak-anak, di Haiti.

DUNIA | 18 Oktober 2021


TAG POPULER

# Jembatan Gantung


# Merah Putih


# Piala Thomas


# Luhut Pandjaitan


# Kasus Covid-19



TERKINI
BPJT Catat 1.409 Gerai UMKM Ramaikan Rest Area Jalan Tol

BPJT Catat 1.409 Gerai UMKM Ramaikan Rest Area Jalan Tol

EKONOMI | 54 detik yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings