Biden Segera Mengumumkan "Kabar Baik" tentang Dana Iklim PBB US$ 100 Miliar
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Biden Segera Mengumumkan "Kabar Baik" tentang Dana Iklim PBB US$ 100 Miliar

Rabu, 22 September 2021 | 00:40 WIB
Oleh : Grace El Dora / EHD

New York, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan segera mengumumkan apa yang disebutnya kabar baik, untuk mengatasi kekurangan dana iklim global sebesar US$ 100 miliar. Seorang pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan hal ini setelah pertemuan tertutup antara negara-negara di sela-sela sidang umum, Senin (21/9).

Biden akan menyampaikan pidato pertamanya kepada badan dunia sebagai pemimpin Amerika pada Selasa (22/9/2021). Ia diwakilkan oleh utusan iklim AS John Kerry pada pertemuan yang diadakan oleh pemerintah Inggris dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres.

Menjelang kesepakatan Paris (Paris Agreement), negara-negara maju berjanji untuk memobilisasi US$ 100 miliar per tahun sejak 2020. Tujuannya adalah mendukung negara-negara miskin dengan adaptasi iklim, tetapi saat ini ada kekurangan sekitar US$ 20 miliar.

"Kami memang mendengar dari perwakilan AS di ruangan itu bahwa ... beberapa kabar baik sudah dekat," pejabat PBB itu mengatakan, Senin (21/9). Ia menambahkan, ada pandangan dan sinyal yang sangat positif datang dari perwakilan AS.

"Kami tidak memiliki detailnya, tentu saja, tetapi mudah-mudahan ini akan membantu memberikan kejelasan tentang bagaimana AS bermaksud untuk meningkatkan dukungan mobilisasi US$ 100 miliar," imbuhnya.

Pengumuman itu menjadi sepotong harapan di bidang iklim, setelah banyak laporan ilmiah baru-baru ini memberikan gambaran suram tentang masa depan planet ini. Pasalnya, pencemar utama dunia terus memuntahkan gas rumah kaca pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson, yang menjadi tuan rumah bersama pertemuan itu, mengarahkan para pemimpin untuk membahas tugas atas kegagalan mereka menghormati janji bersama terkait dana tersebut. Padahal, penghimpunan dana dimaksudkan untuk memberikan US$ 100 miliar setiap tahun dari 2020 hingga 2025.

"Semua orang mengangguk dan kita semua setuju bahwa sesuatu harus dilakukan," kata Johnson. Negaranya akan menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi (KTT) iklim COP26 yang sangat penting di Glasgow pada November 2021.

“Namun saya akui saya semakin frustrasi karena sesuatu yang banyak dari Anda telah putuskan, tidak dilakukan sama sekali," tambahnya, dalam pernyataan sambutan yang dibagikan oleh perwakilan kantor PM.

Pekan lalu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mengkonfirmasi bahwa hanya US$ 79,6 miliar yang dimobilisasi pada 2019.

"Kami mendengar dari beberapa negara industri ... tanda-tanda kemajuan yang samar," kata Johnson kepada wartawan seusai pertemuan, menyebut Swedia dan Denmark.

Kedua negara telah mengumumkan bahwa mereka akan mengalokasikan 50% atau lebih, diambil dari pendanaan iklim negara, untuk adaptasi di negara berkembang. Ini merupakan salah satu tujuan utama PBB.

"Mari kita lihat apa yang akan dikatakan presiden Amerika Serikat besok," tambahnya, mengisyaratkan berita baik yang akan disampaikan.

Transisi dari Batubara

Pemerintah Inggris pada bagiannya mengumumkan janji pendanaan iklim senilai US$ 15 miliar selama lima tahun ke depan. Pihaknya juga mengumumkan pada Senin bahwa US$ 750 juta dari jumlah itu akan dialokasikan untuk mendukung negara-negara berkembang memenuhi kebutuhan target nol bersih dan mengakhiri penggunaan batubara.

"Kami adalah orang yang menciptakan masalah. Revolusi industri kurang lebih dimulai di negara kami," lanjut Johnson.

"Jadi tentu saja saya memahami perasaan ketidakadilan di negara berkembang ... Tapi saya katakan kepada mereka, itulah mengapa kita harus mendapatkan dana untuk membantu Anda membuat kemajuan yang Anda butuhkan," tuturnya.

Pertemuan itu dilakukan beberapa hari setelah Guterres memperingatkan dunia berada di jalur bencana hingga pemanasan 2,7 derajat Celaius, menyusul laporan mengejutkan terbaru oleh para ilmuwan PBB yang diluncurkan minggu lalu terkait pemanasan global.

Angka tersebut akan menghancurkan target suhu kesepakatan iklim Paris, yang bertujuan untuk pemanasan jauh di bawah 2 derajat Celcius dan sebaiknya dibatasi pada 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Guterres mengatakan kepada wartawan, dirinya menyebut konferensi dengan Johnson sebagai panggilan membangunkan untuk menanamkan rasa urgensi pada keadaan mengerikan dari proses iklim menjelang COP26.

Sementara mengakui negara-negara berkembang perlu memimpin, sekjen juga meminta beberapa negara berkembang untuk berusaha lebih keras.

Ini berarti panggilan untuk negara-negara Tiongkok, India, Brazil, Rusia, Indonesia, dan Afrika Selatan.

Perjanjian Paris menyerukan emisi nol bersih pada 2050, dengan pengurangan yang kuat pada 2030, untuk memenuhi sasaran 1,5 derajat Celcius.

Dengan hanya 1,1 derajat Celcius pemanasan sejauh ini, dunia telah menyaksikan semburan bencana cuaca mematikan yang diintensifkan oleh perubahan iklim dalam beberapa bulan terakhir. Mulai dari gelombang panas yang melelehkan aspal, hingga banjir bandang, dan kebakaran hutan yang tidak dapat dijinakkan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Tiongkok Rancang Aturan yang Bisa Hukum Orang Tua Atas Kelakuan Buruk Anaknya

Orang tua di Tiongkok yang anak-anaknya menunjukkan "perilaku yang sangat buruk" atau melakukan kejahatan dapat menghadapi hukuman.

DUNIA | 19 Oktober 2021

Tak Dilibatkan dalam Pembicaraan dengan Taliban, Utusan AS untuk Afganistan Mundur

Kepergian Khalilzad terjadi setelah ia tidak dilibatkan dalam pembicaraan resmi pertama antara pemerintah Joe Biden dengan Taliban.

DUNIA | 19 Oktober 2021


Komisi Eropa Apresiasi Komitmen Indonesia Atasi Perubahan Iklim Dunia

Timmermans mengungkapkan, ada ambisi yang jelas dari Indonesia, yaitu menjadi salah satu pemimpin iklim di ASEAN.

DUNIA | 19 Oktober 2021

Donald Trump Gugat Komite DPR yang Selidiki Kerusuhan di Capitol

Menurut Trump, komite itu meminta catatan Gedung Putih tentang dirinya secara tidak sah.

DUNIA | 19 Oktober 2021

Sudah Divaksin Lengkap Namun Meninggal, Ini Penjelasan Medis Dokter dari Kasus Colin Powell

Mantan Menlu AS Colin Powell meninggal karena komplikasi Covid-19. Keluarganya mengumumkan, dia telah divaksinasi lengkap.

DUNIA | 19 Oktober 2021

Setelah Dikeluarkan dari KTT ASEAN, Junta Myanmar Bebaskan Ratusan Tahanan Politik

Pemerintahan junta militer Myanmar telah membebaskan ratusan tahanan politik dari penjara Insein, termasuk juru bicara partai Aung San Suu Kyi.

DUNIA | 19 Oktober 2021

Tersangka Pembunuh yang Dapat Simpati Publik Tiongkok, Akhirnya Tewas dalam Pelarian

Tingkat simpati dan dukungan sangat tidak biasa bagi seorang tersangka pembunuh di Tiongkok, di mana pelaku pembunuhan dapat dihukum mati.

DUNIA | 19 Oktober 2021

5 Orang Tewas Diserang di Norwegia, Polisi: Korban Ditikam Bukan Dipanah

Korban, empat perempuan dan satu pria berusia 52-78 tahun tewas dalam serangan 13 Oktober di Kota Kongsberg, yang berjarak sekitar 70 km dari Ibu Kota Oslo.

DUNIA | 19 Oktober 2021


TAG POPULER

# Malala Yousafzai


# Tes PCR


# Liga Champions


# Singapura


# PPKM



TERKINI
Masuk PKPU, Perusahaan Pengembang Apartemen Gayanti

Masuk PKPU, Perusahaan Pengembang Apartemen Gayanti

NASIONAL | 47 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings