Vietnam: Kekuatan Ekonomi Digital Baru di Asia Tenggara
Dalam beberapa tahun terakhir ini, Vietnam telah menjadi bintang yang sedang menanjak di Asia Tenggara. Negara tersebut telah melewati transformasi ekonomi yang dramatis dan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan paling kencang di dunia. Iklim usaha yang sehat juga mendorong kemunculan ekonomi digital dan memperluas ekosistem usaha rintisan atau startup. Gelombang baru pandemi Covid-19 yang terjadi belakangan justru memperkokoh tren digital yang mempercepat jalan Vietnam sebagai pusat ekonomi digital baru di Asia Tenggara.
Meskipun sejarah terbentuknya Vietnam sudah berlangsung ribuan tahun, negara tersebut baru mulai membuka ekonominya sejak 1986, tahun ketika reformasi Doi Moi diluncurkan dan sejak itu merebak dengan cepat. Menurut Bank Dunia, Vietnam sekarang memiliki lebih dari 745 perusahaan terdaftar di bursa saham yang mencakup 68,6% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2020. Ini merupakan lompatan besar dibandingkan hanya 24 perusahaan terdaftar pada 2004.
Lingkungan Makro yang Stabil
Setelah 35 tahun, perekonomian Vietnam melesat dan menarik banyak investor. Vietnam telah menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan paling tinggi di dunia selama 30 tahun, mengalahkan negara-negara tetangganya. Pada periode 2009-2019, PDB Vietnam tumbuh rata-rata 7% per tahun. Pada 2020, Vietnam menjadi salah satu dari sedikit negara yang mampu mencatat pertumbuhan PDB, yaitu 2,9%. PDB per kapita Vietnam tumbuh menjadi US$ 2.800 dibandingkan hanya US$ 422 pada 1986.

Jika ditelaah lebih jauh motor pertumbuhan PDB Vietnam, akan terlihat bahwa negara itu telah bergeser dari sektor pertanian menuju industri dan jasa yang saat ini mencakup 75% PDB mereka. Ketika negara-negara di Asia Timur makin maju dan berdampak pada kenaikan upah, industri manufaktur global terpikat pada upah buruh yang rendah dan nilai tukar yang stabil di Vietnam. Di samping itu, inflasi terus dijaga di bawah 4% yang menjadi target pemerintah. Ketika faktor-faktor itu digabungkan, hasilnya adalah lonjakan ekspor. Dalam satu dekade terakhir, ekspor oleh perusahaan-perusahaan domestik melonjak 137%, sementara ekspor oleh perusahaan-perusahaan asing melesat hingga 422%.

Penunjang lain bagi pertumbuhan ekonomi Vietnam adalah struktur populasi yang sedang di masa emasnya. Populasi Vietnam sekitar 97 juta orang, di mana penduduk usia kerja (15-60 tahun) mencakup 68,5%. Ini mengindikasikan bahwa dari dua atau lebih orang yang bekerja, hanya satu orang yang bergantung pada mereka.


Negara itu sudah masuk periode demografi yang menguntungkan sejak 2009 dan diproyeksikan akan berlanjut hingga 2036. Setiap tahun, kami memperkirakan bahwa lebih dari 1,5 juta orang akan masuk ke angkatan kerja. Seiring pertumbuhan ekonomi, urbanisasi juga meningkat 37% dan membentuk kota-kota baru seperti Ho Chi Minh, Ha Noi, Da Nang, Hai Phong, Bien Hoa, dan Can Tho.

Pada akhirnya, lingkungan makro yang positif membuat Vietnam menjadi tujuan yang atraktif bagi para investor asing. Vietnam digolongkan dalam 20 besar negara penerima investasi asing langsung (FDI) dengan dana masuk mencapai US$ 16 miliar, melampaui negara-negara tetangganya dan makin mendekati kekuatan lainnya seperti Singapura dan Indonesia. Pada 2021, meskipun terjadi dampak parah Covid-19, komitmen FDI ke Vietnam tetap tumbuh 22% y-o-y.
Proliferasi Ekonomi Digital di Vietnam
Saat ini, ekonomi digital diharapkan memainkan peran sentral untuk menjaga momentum pertumbuhan negara tersebut. Meskipun masih dalam tahap awal, ekonomi digital di Vietnam menunjukkan potensi luar biasa karena dukungan pemerintah, meningkatnya pemanfaatan digital dalam populasi, dan pandemi yang mempercepat tren digital.
1. Upaya pemerintah melakukan transformasi digital
Menyadari pentingnya ekonomi digital, pemerintah telah melancarkan berbagai inisiatif untuk mendorong pertumbuhan di sektor ini. Pada 2020, Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc menandantangani Peraturan No.749/QD-TTg untuk mengesahkan program Transformasi Digital Nasional pada 2025 dan menetapkan tujuan-tujuan yang hendak diraih sampai 2030.
Itu termasuk peningkatan infrastruktur internet dan akses ke layanan 5G, digitalisasi layanan pemerintah, dan penerapan teknologi di berbagai sektor ekonomi-sosial. Pada 2030 nanti, pemerintah memproyeksikan bahwa ekonomi digital akan mencakup 30% PDB Vietnam, target yang sangat ambisius jika melihat porsi ekonomi digital dalam PDB sekarang yang baru mencapai 8,2%. Betapa pun, kebijakan pemerintah itu menunjukkan pandangan optimistis pemerintah terhadap ekonomi digital Vietnam dan tekad untuk mendukung ekosistem digital.
2. Populasi gemar teknologi dan tren digital meningkat
Vietnam adalah satu dari 10 negara dengan jumlah smartphone terbanyak di dunia, tercatar 63,1 juta smartphone yang dipakai di negara itu. Hanya saja, tingkat penetrasi digital di Vietnam masih tertinggal dari beberapa negara di kawasan pada angka 73%.

Namun, negara itu diprediksi bakal menandingi para pesaing regionalnya karena mayoritas populasi di Vietnam masih muda dan berada di usia kerja, mewakili konsumen yang melek teknologi dan juga lebih permisif untuk berpindah ke layanan daring. Hal-hal itu menentukan pertumbuhan ekonomi digital dan arahnya, didasarkan pada perilaku mereka secara daring. Berikut ini ringkasan dari tren-tren yang sedang berlangsung.
Tren #1: Media Sosial
Dalam hal aktivitas daring, rata-rata warga Vietnam memakai internet 3 jam 12 menit per hari. Media sosial (medsos) telah menjadi ajang aktivitas paling populer dengan rata-rata waktu yang dihabiskan mencapai 2 jam per hari. Fakta menunjukkan tingkat penetrasi medsos di Vietnam (73,7%) melampaui rata-rata global (53,6%). Aplikasi paling banyak digunakan adalah Facebook (95% pengguna internet punya akun Facebook), diikuti situs lokal Zalo.
Tren #2: E-Commerce
Dengan berbagai tawaran keuntungan termasuk diskon bulanan, dan juga kemudahan serta layanan pengiriman yang cepat, e-commerce mulai mendapat tempat di kalangan konsumen, dibuktikan oleh pertumbuhan yang signifikan sebesar 46% periode 2019-2020. Menurut laporan Google, Bain & Co., dan Temasek, akumulasi bruto nilai pembelian konsumen atau gross merchandise value (GMV) e-commerce di Vietnam diperkirakan akan mencatat tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 31%, yang bakal melampaui angka di negara-negara ASEAN lainnya dan meningkatkan nilai GMV e-commerce menjadi US$ 26 miliar pada 2025. Pemain regional, Shopee, saat ini mendominasi pangsa pasar sekitar 15-20%. Tiki, pemain asli e-commerce Vietnam, dan Lazada, pemain regional lainnya, bersaing ketat di posisi kedua jika terkait pangsa pasar. Sendo, pemain e-commerce lokal, berada di posisi empat dan fokus pada konsumen di kota-kota kecil.

Tren #3: Pembayaran Non-Tunai
Tren lain yang mengemuka di kalangan generasi muda adalah pembayaran non-tunai atau cashless. Belum lama ini, sebuah penelitian oleh Visa menunjukkan peningkatan signifikan jumlah pengguna e-wallet dan aplikasi pembayaran pada 2020, dan lebih dari 85% konsumen memiliki paling tidak satu tipe pembayaran non-tunai serta 71% dari mereka menggunakan aplikasi itu paling tidak sekali dalam sepekan. Namun, dengan adanya pertumbuhan impresif dua digit dalam e-commerce, pembayaran di tempat atau cash on delivery (COD) masih menjadi bentuk pembayaran yang lebih disukai. Menurut survei Statista, 78% pembeli daring lebih memilih pembayaran tunai dalam transaksi daring. Dengan begitu, tren pembayaran non-tunai ini masih punya peluang sangat besar untuk tumbuh. Dengan lebih dari 40 e-wallet berlisensi yang ada di Vietnam, pasar pembayaran digital berkembang lebih cepat dari sebelumnya, dan muncul nama-nama yang diuntungkan seperti Momo, Shopeepay, ZaloPay, Viettel Pay, dll.

3. Pandemi Percepat Peralihan ke Digital
Saat tren-tren yang sekarang masih berlangsung, munculnya pandemi mempercepat proses peralihan karena pembatasan sosial memicu perilaku baru di kalangan konsumen. Vietnam telah melewati empat gelombang Covid-19 sejak 2020 dan aturan pembatasan sosial mengurangi aktivitas tatap muka di sekolah, kantor, pusat perbelanjaan, perawatan medis non-Covid-19, dan bank. Gelombang ke-4 Covid-19 adalah yang paling berat karena dua kota terbesar Ha Noi dan Ho Chi Minh City benar-benar dikarantina, sementara 25 wilayah lainnya juga dikenakan pembatasan sosial yang ketat.
Hikmah yang bisa dipetik dari gelombang pandemi ini adalah dorongan bagi masyarakat untuk beralih ke alternatif lain dengan metode daring dan memunculkan kebiasaan baru yang memprioritaskan layanan-layanan daring. Begitu perilaku konsumen berubah menjadi kebiasaan, dia akan menempel lama dan kemungkinan bakal terus melanjutkan pemakaian layanan daring untuk kebutuhan sehari-hari.
Meskipun masih banyak yang harus dibenahi dalam ekonomi digital, sektor ini mampu menghasilkan GMV sebesar US$ 14 miliar pada 2020, dengan CAGR 30% sejak 2015. Potensi ekonomi digital Vietnam telah memikat perhatian sejumlah pemodal ventura sehingga negara itu menjadi area investasi yang aktif bagi perusahaan-perusahaan teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode 2018-2020, modal yang ditanamkan di Vietnam mencapai US$ 1,2 miliar. Selain ke ekonomi digital, investasi juga mengalir deras ke sektor fintech, ritel dan pendidikan. Mayoritas kesepakatan adalah pre-seed (pendanaan startup di muka), seed (pendanaan ketika startup sudah berdiri) dan Series A (pendanaan ketika startup sudah mencatat pertumbuhan yang sehat).

Pemodal ventura terus menunjukkan komitmen mereka seperti terlihat pada pembentukan aliansi pemodal ventura Vietnam yang berjanji untuk menggelontorkan modal US$ 800 juta bagi startup pada 2021-2025.
Vietnam Bakal Jadi Pusat Startup di Asia Tenggara
Dalam upaya merebut peluang di sektor ekonomi digital, ekosistem startup di Vietnam makin cepat tumbuh dan berkembang dan menempatkan negara itu sebagai calon pusat startup di Asia Tenggara. Hal tersebut bisa dikaitkan pada kelebihan-kelebihan yang mereka miliki sebagai berikut.
Dukungan Makro
Seperti disebutkan sebelumnya, lingkungan ekonomi makro yang stabil di Vietnam mendukung pengembangan ekonomi digital dan ekosistem startup. Dengan pertumbuhan PDB yang tinggi, Vietnam dibanjiri kelompok kelas menengah dengan jumlah pendapatan tersisa yang makin bertambah dan mengindikasikan naiknya tuntutan untuk kualitas hidup yang lebih baik. Hal ini membuka pasar yang lebih besar untuk dimanfaatkan para startup.

Pembibitan Talenta Teknologi
Vietnam memiliki para talenta bidang inovasi teknologi yang berlimpah. Menurut peringkat Global Innovation Index 2021 oleh World Intellectual Property Organization (WIPO), Vietnam adalah negara paling inovatif di kelompok negara berpendapatan menengah-bawah, lebih baik peringkatnya dari negara-negara tetangga seperti Indonesia, Thailand, dan Filipina. Industri teknologi informasi masih di tahap awal tetapi berkembang dengan cepat dan sudah memperkerjakan lebih dari 440.000 orang pada 2013. Salah satu penyebabnya adalah kurikulum sekolah yang menekankan pada sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM (science, technology, engineering, and mathematics). Menurut riset World Economic Forum, Vietnam adalah satu dari 10 negara dengan jumlah lulusan insinyur paling banyak di dunia (100.390 insinyur pada 2015).
Selain itu, nilai standar internasional pendidikan Vietnam atau program for international student assessment (PISA) termasuk yang paling tinggi di dunia. Menurut Kementerian Pendidikan, Vietnam memiliki skor 505 untuk reading comprehensive, berada di urutan 13 dari 79 negara yang berpartisipasi. Di bidang matematika, para pelajar Vietnam memiliki skor 496, atau ranking 24. Di bidang sains, skornya 543, atau ranking ke-4. Ini merupakan hasil yang luar biasa mengingat Vietnam masih masuk kategori pendapatan per kapita yang lebih rendah dari para negara peserta (US$ 4.098 pada 2010).
Hal lain yang berkontribusi pada munculnya talenta-talenta di Vietnam adalah kepulangan para diaspora Vietnam (Viet Kieu) dengan membawa investasi besar di bidang pendidikan dan keahlian di bidang teknik. Jaringan Vietnamese Diaspora terdiri atas jaringan kontak bisnis, asosiasi profesional, dan lembaga-lembaga independen yang berdedikasi. Vietnam juga salah satu penerima remitansi terbesar di dunia, senilai US$ 17 miliar pada 2019 atau setara 6% dari PDB.
Kebijakan Pemerintah yang Ramah Startup
Pemerintah Vietnam punya pandangan optimistis terhadap ekosistem startup. Mereka menargetkan untuk bisa memiliki delapan unicorn pada 2030 nanti. Untuk mendorong pertumbuhan ini, mereka telah meluncurkan beragam inisiatif dan mengesahkan banyak undang-undang yang mendukung startup dan UMKM serta menyediakan modal dan insentif pajak berbasis lokasi bagi inovasi.
Contohnya adalah VinFast, perusahaan pembuat mobil listrik lokal, yang diuntungkan oleh potongan pajak besar termasuk pajak korporasi yang berlaku selama 15 tahun pertama operasi perusahaan. Pemerintah juga mempertimbangkan untuk memangkas uang pendaftaran hingga 50% untuk mobil yang diproduksi lokal.
Unicorns dan Soonicorns Memberi Jalan Bagi yang Lain
Vietnam saat ini memiliki tiga unicorn, bukti bahwa iklim digital di Vietnam sekarang bisa menjadi lahan bagi startup untuk makin berkembang di tahun-tahun mendatang.
VNG: Didirikan pada 2004 dengan nama Vinagame sebelum berubah menjadi VNG pada 2008, perusahaan ini telah bertransformasi dari perusahaan online gaming pertama di Vietnam menjadi salah satu perusahaan penyedia layanan TI dan hiburan paling terkemuka di negara tersebut. VNG memiliki beragam produk dari entertainment, jejaring sosial, e-commerce, hingga e-payment.
VNPay: Dibentuk pada 2007, VNPay telah beroperasi hampir 14 tahun untuk mengembangkan solusi pembayaran elektronik bagi warga Vietnam dan merevolusi industri keuangan dan perbankan. VNPay sekarang menyediakan layanan e-payment bagi lebih dari 40 bank, lima perusahaan telekomunikasi, dan lebih dari 20.000 korporasi lainnya.
Sky Mavis (pengembang Axie Infinity): Sky Mavis berdiri pada 2018 dan yang paling cepat meraih status unicorn di Vietnam. Axie Infinity diperkenalkan sebagai cara baru bagi siapa pun yang ingin menggunakan waktu luang untuk menghasilkan uang lewat aplikasi Play to Earn, di mana para gamer memanfaatkan kemampuan dan waktu mereka untuk menghasilkan uang dan hak distribusi bagi item-item gim yang memakai token.
Momo: Didirikan pada 2007, Momo mulai meluncurkan layanan e-wallet pada 2010 dan secara bertahap berkembang dan mendiversifikasi produknya untuk bisa bersaing dengan aplikasi-aplikasi super milik kompetitor. Jumlah pengguna Momo sudah menembus 25 juta dan memiliki lebih dari 120.000 rekanan yang menerima poin Momo di seluruh penjuru negeri. Startup ini mengembangkan layanan agar bisa menjadi aplikasi super, termasuk credit scoring, tabungan, dan Beli Sekarang Bayar Nanti. Momo sudah meraih pendanaan Series D dan bakal menjadi unicorn fintech baru di Vietnam.
Tiki: Terinspirasi oleh Amazon, Tiki didirikan pada 2010 dan awalnya hanya menjual buku. Sejak itu perusahaan tumbuh menjadi horizontal marketplace yang melayani penjual pihak ketiga dan menawarkan berbagai kategori. Tiki mampu membangun kredibilitas di kalangan konsumen terkait keaslian dan kualitas produk. Tiki adalah pemain e-commerce pertama di Vietnam dan meraih status unicorn pada 2021 setelah mendapatkan pendanaan Series E.
KiotViet: KiotViet berawal dari perusahaan penyedia sistem point-of-sale berbasis komputasi awan yang dikembangkan oleh Citigo Software, berdiri sejak 2014. Sekarang ini perusahaan menyediakan jasa bisnis omnichannel dan solusi manajemen perangkat lunak dengan harga terjangkau untuk membantu UMKM masuk ke era digital. Dalam waktu tujuh tahun, KiotViet sudah melayani lebih dari 110.000 UMKM di seluruh penjuru Vietnam. Setelah sukses meraih pendanaan Series B, KiotViet makin agresif mengembangkan layanannya ke digital payment dan pinjaman daring, didukung oleh meningkatnya kesejahteraan UMKM di Vietnam.
Rangkuman
Ekonomi digital akan menjadi salah satu faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Vietnam dalam beberapa tahun mendatang. Didukung oleh fondasi makro ekonomi yang solid, pemerintah yang progresif, dan meningkatnya populasi muda dan melek teknologi, ekonomi digital menawarkan potensi besar bagi para startup untuk berkembang dan menciptakan nilai tambah. Dengan momentum yang impresif saat ini, Vietnam berada di jalurnya untuk menjadi kekuatan ekonomi digital baru di Asia Tenggara.
Catatan redaksi: artikel ini disadur dari laporan Venturra berjudul "Vietnam: Southeast Asia's Next Digital Powerhouse" yang ditulis oleh Valerie Vu dan Quyen Nguyen.
Sumber: BeritaSatu.com
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI
Dipinang Sandiaga Uno Masuk Tim Pemenangan Ganjar, Khofifah Tak Mau Buru-buru
Mahasiswa UI Dibunuh, Ketua Himpunan Sastra Rusia Tak Sangka Stafnya Tewas di Tangan Teman Kontrakannya
Soal Maju Jadi Cawapres, Khofifah Belum Dapat Lampu Hijau dari PBNU
Wisata Taman Rekreasi Pesawat, Nikmati Detik-Detik Pesawat Terbang dan Kuliner Seru
B-FILES
Urgensi Mitigasi Risiko Penyelenggara Pemilu 2024
Zaenal Abidin
Identitas Indonesia
Yanto Bashri
Jokowi Apa Kehendakmu?
Guntur Soekarno
Hasil Arsenal vs Man City: Dramatis, Meriam London Juara Community Shield Lewat Adu Penalti




