Logo BeritaSatu

Kasus Covid Melonjak, Pemerintah Jerman Kampanyekan Vaksin Penguat

Sabtu, 6 November 2021 | 11:07 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR

Berlin, Beritasatu.com- Pemerintah Jerman menyerukan vaksin penguat Covid-19 untuk semua orang saat kasus infeksi melonjak. Seperti dilaporkan VOA, Jumat (5/11/2021), Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn mengatakan vaksin penguat tersedia bagi siapa saja yang telah divaksinasi penuh setidaknya enam bulan lalu.

Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan puncak dua hari di Bavaria dengan menteri kesehatan dari 16 negara bagian Jerman, Spahn mengatakan situasi Covid-19 Jerman memasuki periode yang sangat sulit. Institut Robert Koch di Jerman melaporkan rekor 37.120 kasus harian baru pada Jumat.

Spahn mengatakan gelombang keempat tidak hanya di sini, tetapi telah berada di sini untuk waktu yang lama. Gelombang keempat telah mendapatkan kekuatan dan jelas makin cepat.

Menteri mengatakan beberapa pemimpin negara bagian Jerman telah memperingatkan negara itu mungkin memerlukan karantina baru jika tindakan mendesak tidak diambil.

“Lonjakan di Jerman adalah bagian dari peningkatan kasus Covid-19 dan kematian di Eropa yang menjadikan kawasan itu sebagai pusat pandemi baru,” kata Hans Kluge, Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Eropa, Kamis.

Pada pengarahan Covid-19 reguler di kantor pusat badan di Jenewa, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dan para ahli lainnya membahas lonjakan di Eropa. Di sana, kasus telah meningkat 55% dalam empat minggu terakhir, meskipun ada banyak pasokan vaksin.

"Biar saya perjelas: Ini seharusnya tidak terjadi. Kami memiliki semua alat untuk mencegah penularan Covid-19 dan menyelamatkan nyawa, dan kami terus menyerukan semua negara untuk menggunakan alat itu," kata Tedros.

Dirjen WHO juga mengecam fakta bahwa negara-negara berpenghasilan rendah di dunia hanya menerima 0,4% dari vaksin Covid dunia. Dia mengatakan negara-negara itu hampir secara eksklusif bergantung pada vaksin Covid-19 yang didistribusikan melalui koperasi vaksin global yang dikelola WHO, Covax.

Tedros mengatakan tidak ada lagi vaksin yang harus diberikan ke negara-negara yang telah memvaksinasi lebih dari 40% populasi mereka dan tidak ada lagi vaksin penguat yang harus diberikan, kecuali kepada pasien yang kekebalannya terganggu. Kondisi itu berlaku sampai Covax mendapatkan vaksin yang dibutuhkan untuk menginokulasi negara-negara berpenghasilan rendah sampai ke tingkat 40%.

Secara terpisah, di Amerika Serikat, pemerintahan Biden mengatakan telah memutuskan hubungan dengan perusahaan AS yang diberikan kesepakatan anggaran US$ 628 juta (Rp 8,99 triliun) oleh pemerintahan Trump untuk memproduksi vaksin Covid-19.

Awal tahun ini, Emergent BioSolutions menemukan 15 juta dosis vaksin Johnson & Johnson yang tercemar dengan bahan-bahan yang ditujukan untuk vaksin Oxford-AstraZeneca. Food and Drug Administration kemudian membuang setidaknya 60 juta lebih banyak vaksin Johnson & Johnson yang diproduksi di pabrik Baltimore.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# MotoGP 2022


# Ukraina


# Persik


# Sirkuit Formula E


# Holywings


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Malaysia Open: Gregoria Langsung Bertemu Unggulan Pertama

Malaysia Open: Gregoria Langsung Bertemu Unggulan Pertama

SPORT | 1 jam yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings