Harga Rokok Naik, Indonesia Bakal Kebanjiran Hadiah
INDEX

BISNIS-27 448.028 (-0.11)   |   COMPOSITE 5099.84 (-3.39)   |   DBX 964.111 (2.27)   |   I-GRADE 139.821 (-0.42)   |   IDX30 426.948 (0.39)   |   IDX80 113.317 (0.11)   |   IDXBUMN20 291.67 (1.28)   |   IDXG30 118.931 (0.18)   |   IDXHIDIV20 379.8 (-0.77)   |   IDXQ30 124.715 (-0.33)   |   IDXSMC-COM 219.701 (0.45)   |   IDXSMC-LIQ 255.871 (2.67)   |   IDXV30 106.644 (1.52)   |   INFOBANK15 836.821 (-6.19)   |   Investor33 373.706 (-0.97)   |   ISSI 150.561 (0.36)   |   JII 547.285 (1.18)   |   JII70 187.054 (0.33)   |   KOMPAS100 1020.57 (-1.1)   |   LQ45 786.439 (0.76)   |   MBX 1410.93 (-1.57)   |   MNC36 280.006 (-0.59)   |   PEFINDO25 280.13 (0.18)   |   SMInfra18 241.99 (-0.13)   |   SRI-KEHATI 316.197 (-0.37)   |  

Harga Rokok Naik, Indonesia Bakal Kebanjiran Hadiah

Selasa, 29 September 2020 | 16:03 WIB
Oleh : Dwi Argo Santosa / DAS

Jakarta, Beritasatu.com- Indonesia akan mendapatkan berbagai hadiah bernilai bila pemerintah menaikkan tarif cukai produk tembakau yang akan diikuti kenaikan harga rokok di pasaran.

Hadiah itu adalah pemulihan ekonomi dan kesehatan dari dampak pandemi Covid-19, meningkatnya kualitas hidup petani melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), mendorong pencapaian target rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) dan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Bukan hanya itu, naiknya cukai dan harga rokok berarti negara memberikan perlindungan kelompok rentan yakni anak-anak, perempuan, serta keluarga miskin.

Hadiah turunannya adalah penurunan prevalensi perokok anak, penekanan stunting dan penyakit-penyakit tidak menular berisiko kematian, serta peningkatan pembangunan daerah melalui pajak rokok daerah.

Demikian benang merah “Simposium Menuju Pemilu Harga: Hadiah untuk Indonesia” yang diselenggarakan Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), Komnas Pengendalian Tembakau, Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) UI, dan Yayasan Lentera Anak, seperti disampaikan melalui keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Selasa (29/9/2020).

Para penanggap dari pemerintah yang hadir dalam simposium, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Rizkiyana Sukandhi Putra, Direktur Tanaman Semusim & Rempah, Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro, Kepala Subbidang Penyakit Tidak Menular, Kemenko Pemberdayaan Masyarakat dan Kebudayaan, Ari Wulan Sari, Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian PPN Bappenas Pungkas Bahjuri Ali, Kabid Insentif dan Analisis Kebijakan Fiskal, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Desi Zulfiani, Asisten Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Hendra Jamals, Analis Kebijakan Ahli Muda, BKF, Kementerian Keuangan, Sarno, serta Pemeriksa Bea & Cukai Madya/Ahli Madya DTFC, Kementerian Keuangan, Hary Kustowo.

Simposium bertujuan untuk mengumpulkan dukungan masyarakat untuk kenaikan harga rokok melalui kebijakan cukai demi melindungi masyarakat dari konsumsi rokok yang merugikan kesehatan dan ekonomi.

Disebutkan dalam simposium, kebijakan cukai produk tembakau sebagai pungutan terhadap barang yang konsumsinya harus dikendalikan adalah kebijakan strategis yang dapat mempengaruhi penentuan harga rokok di pasaran.

Indonesia adalah negara dengan konsumsi rokok kedua tertinggi di dunia, yakni 62,9% laki-laki usia di atas 15 tahun adalah perokok. Selain itu, 9,1% anak usia 10-18 tahun juga telah mulai merokok.

Tingginya konsumsi rokok di Indonesia disinyalir memperparah kondisi kemiskinan karena mayoritas perokok termasuk dalam golongan ekonomi menengah ke bawah, sementara adiksi rokok mendorong perokok untuk terus mengorbankan belanja kebutuhan primer untuk membeli rokok.

Keluarga penerima bantuan sosial yang merokok cenderung memiliki kondisi sosio-ekonomi yang lebih buruk dibandingkan dengan penerima bantuan sosial yang tidak merokok. Studi lanjutan PKJS-UI terhadap 10 anggota keluarga penerima bantuan sosial di Kota Malang dan Kabupaten Kediri menunjukkan bahwa keluarga penerima Program Keluarga Harapan masih belum mampu memenuhi kebutuhan penting akibat tingginya pengeluaran untuk belanja rokok.

Selain menjadi beban bagi keluarga miskin, tingginya konsumsi rokok dalam jangka panjang akan menyebabkan penyakit kronis tidak menular yang membutuhkan biaya pengobatan yang tinggi. Seperti hasil kajian CISDI menggunakan data tahun 2019, beban ekonomi merokok yang mencakup biaya langsung (direct cost) dan tidak langsung (indirect cost), mencapai Rp 446,73 triliun atau sama dengan 2,9% pendapatan nasional bruto. Beban biaya ini diperkirakan akan terus meningkat jika prevalensi perokok saat ini tidak dikendalikan.

Salah satu faktor penyebab tingginya konsumsi rokok di Indonesia adalah tingkat keterjangkauan yang tinggi. Rokok dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja, bahkan oleh anak-anak dan remaja, dan keluarga miskin, dengan harga yang sangat murah.

Dengan Rp 1.000 saja per batang, rokok dapat dibeli secara eceran. Sementara menurut hasil survei yang dilakukan oleh PKJS UI (2018), perokok berpikir untuk berhenti merokok jika harga rokok dinaikan hingga Rp 70.000 per bungkus. Angka ini tentu masih jauh dari kenyataan.

Selama ini, proses penentuan tarif cukai dilakukan Kementerian Keuangan seperti diatur dalam UU No 39/2007 tentang Cukai. Seperti yang digambarkan dalam CISDI Magazine vol.1, penentuan tarif cukai rokok di Indonesia setiap tahunnya selalu diwarnai perdebatan antara pendukung upaya pengendalian tembakau dan pendukung industri rokok.

Keengganan Kementerian Keuangan untuk mengambil kebijakan cukai yang efektif kebanyakan dikarenakan kekhawatiran akan rokok ilegal dan dampaknya terhadap industri kecil serta pekerja dan petani yang bergantung pada industri tembakau.

Untuk mendukung pemerintah dan membuktikan bahwa kekhawatiran-kekhawatiran tersebut tidak benar, dalam simposium ini masyarakat diajak untuk memberikan dukungan melalui PulihKembali.org dan meyakinkan pemerintah bahwa menaikkan cukai produk tembakau adalah pilihan mutlak bagi Indonesia, terutama di masa sulit menuju resesi saat ini. Semakin tinggi kenaikan cukai, semakin besar hadiah yang didapatkan.



Sumber:PR


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Pembangunan Perpustakaan Daerah Tingkatkan Literasi Masyarakat

Perpustakaan berperan menjadi sarana munculnya inovasi baru yang berkualitas.

NASIONAL | 29 September 2020

Jokowi: Tol Manado-Bitung Terintegrasi dengan Kawasan Industri dan Pariwisata

Gubernur diperintahkan agar dapat menarik investor sebanyak-banyak untuk masuk Sulawesi Utara .

NASIONAL | 29 September 2020

Bubarkan Acara KAMI, IPW Apresiasi Polda Jatim

Kasus di Surabaya perlu menjadi warning buat KAMI, agar lebih memperhitungkan situasi jika ingin menggelar kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan massa.

NASIONAL | 29 September 2020

Ganjar Dukung Pemidanaan Wakil Ketua DPRD Kota Tegal

Penetapan status tersangka tersebut membuktikan bahwa hukum juga berlaku tegak pada pejabat publik.

NASIONAL | 29 September 2020

Langgar Protokol Kesehatan, 15.000 Warga Bengkulu Terjaring Operasi Yustisi

Ada 15.709 warga Bengkulu terjaring Operasi Yustisi karena tidak memakai masker dan melanggar protokol kesehatan lainnya saat berada di tempat umum.

NASIONAL | 29 September 2020

Ketua DPR Sampaikan Dukacita atas Longsor di Tarakan

Basarnas Kota Tarakan melaporkan, bencana longsor yang terjadi pada 28 September 2020 itu menyebabkan belasan orang tewas.

NASIONAL | 29 September 2020

Pimpinan KPK Khawatir "Sunatan Massal" Koruptor Munculkan Kecurigaan Publik

Berdasarkan catatan KPK, sepanjang 2019 hingga saat ini, terdapat 20 perkara korupsi yang dikurangi melalui putusan Peninjauan Kembali (PK) MA.

NASIONAL | 29 September 2020

Polri Serahkan Sanksi Pelanggaran Protokol Kesehatan dalam Pilkada ke KPU

Bawaslu menemukan 18 pelanggaran terhadap protokol pencegahan Covid-19 selama dua hari masa kampanye Pilkada 2020 yakni pada 26 dan 27 September.

NASIONAL | 29 September 2020

Fitnah PDIP, Oknum ASN Pemkot Kota Bogor 'Dipolisikan'

Dukungan kepada Pasangan Calon Pilkada Sukabumi, Abu Bakar-Sirojudin.

NASIONAL | 29 September 2020

Kemendikbud Salurkan Bantuan Kuota Internet Tahap 2

Penyaluran kuota internet gratis tahap dua akan berlangsung hingga 30 September.

NASIONAL | 29 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS