Kemperin Terus Berbenah Sesuaikan Kebijakan Sektor Industri
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Kemperin Terus Berbenah Sesuaikan Kebijakan Sektor Industri

Kamis, 28 Mei 2020 | 19:57 WIB
Oleh : Siprianus Edi Hardum / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemperin) terus memperbarui aturan yang dapat mendukung sektor industri dalam kesiapan menerapkan tataran new normal atau kenormalan baru, yang menjadi salah satu upaya untuk mengantisipasi dampak pandemi Covid-19.

Dalam hal ini, perlunya penyesuaian kebijakan dan target dengan situasi terkini, terutama yang terkait dengan kondisi sektor manufaktur yang sedang mengalami tekanan besar. “Kondisi kenormalan baru ini membuat kami harus menghitung ulang dengan baik, target-target yang sebelumnya sudah direncanakan,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara halalbihalal bersama wartawan secara virtual di Jakarta, Kamis (28/5/2020).

Menurut Agus, kenormalan baru dalam industri manufaktur dapat berpengaruh pada aspek produktivitas hingga daya saingnya. Salah satu target yang bakal disesuaikan adalah pengurangan impor hingga 35 persen, yang awalnya diproyeksi tercapai pada akhir tahun 2021. “Target tersebut kami sesuaikan untuk bisa dicapai pada akhir 2022,” ungkapnya.

Agus menyebutkan, saat ini telah terjadi berbagai tatanan baru dalam aktivitas industri. Misalnya, sebelum pandemi Covid-19, industri yang beroperasi dapat mengoptimalkan 100 persen atau seluruh pekerjanya. Namun, dengan penerapan protokol kesehatan seperti aturan physical distancing, industri melakukan penyesuaian karyawannya hingga 50 persen.

“Mungkin pengurangan tidak terlalu signifikan bagi industri yang sudah menerapkan prinsip industri 4.0. Tetapi akan lebih terasa oleh industri yang melibatkan banyak sumber daya manusia (SDM) atau industri padat karya. Ini harus dikaji lagi lebih dalam,” terangnya.

Agus juga mengemukakan, sebagian industri mengalami perlambatan atau penurunan utilitas akibat dampak pandemi Covid-19. Namun, bagi mereka yang masih mendapat izin beroperasi, penerapan protokol kesehatan harus tetap diutamakan.

Kemudian, dalam upaya berbenah menghadapi kondisi new normal, Kemenperin akan kembali menyesuaikan kebijakan operasional industri seiring dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.

“Kami akan menyusun pedoman yang dirangkum dari surat-surat edaran Menteri Perindustrian yang sudah dikeluarkan selama pandemi serta berdasarkan keputusan terbaru dari Menteri Kesehatan yang kami lihat sangat komprehensif,” jelasnya.

Agus menambahkan, dengan berbagai upaya penyesuaian untuk menghadapi kondisi new normal, pihaknya memprediksi angka pertumbuhan industri manufaktur pada triwulan II 2020 diperkirakan mencapai 2 hingga 2,7 persen.

Target tersebut bisa terpenuhi dengan syarat apabila di triwulan kedua ini kasus positif Covid-19 melandai dan tidak ada second wave atau kejadian susulan yang serupa.

Syarat lainnya adalah apabila masyarakat produktif dan aman terhadap Covid-19 sehingga bisa menjalankan aktivitas ekonominya kembali. Namun, selama syarat-syarat pokok tersebut tidak terpenuhi, pertumbuhan sektor industri pada triwulan II bisa lebih rendah dari realisasi triwulan I 2020.

"Kita belum tahu akan seperti apa, namun ketika pembatasan sudah mulai dikurangi, tentu akan secara bertahap kita bisa memperbaiki ekspektasi terhadap pertumbuhan sektor industri,” paparnya



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Kempupera Terus Sempurnakan Penerapan Pelatihan Jarak Jauh

Kempupera terus berupaya menyempurnakan penerapan metode pembelajaran jarak jauh.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Indonesia Berpeluang Tampung Relokasi Investasi dari Tiongkok

Indonesia memiliki peluang untuk menarik investasi yang akan keluar dari Tiongkok.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Alami Surplus Januari-April 2020, Ekspor Industri Pengolahan Naik 7%

Ekspor hasil industri pengolahan membaik.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Bendungan Meninting Tambah Pasokan Air Irigasi di Lombok

Kempupera tengah menyelesaikan pembangunan Bendungan Meninting di Lombok Barat.

EKONOMI | 28 Mei 2020

KKP Usulkan Tambahan Anggaran Stimulus Nelayan Rp 1,024 Triliun

KKP menyatakan, tambahan anggaran stimulus nelayan ditujukan untuk beberapa sektor.

EKONOMI | 28 Mei 2020

PTPN XII Siap Terapkan Skenario New Normal

PTPN XII tengah fokus pada penerapan new normal sesuai arahan Menteri BUMN.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Pelindo III Sediakan 50.000 Rapid Test Gratis

Pelindo III akan melakukan sistem jemput bola dalam pelaksanaan bantuan rapid test gratis.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Kempupera Salurkan Bantuan 40 Rusus untuk Masyakat Papua Barat

Kempupera membangun 40 Rusus tipe 36 tersebut dengan total anggaran Rp 7,64 miliar.

EKONOMI | 28 Mei 2020

Rupiah Melemah Tipis ke Rp 14.715

Pelemahan rupiah sejalan dengan pelemahan mata uang negara Asia lainnya

EKONOMI | 28 Mei 2020

BI Optimistis Defisit Transaksi Berjalan di Bawah 2% PDB

Defisit transaksi berjalan pada triwulan I 2020 mencapai US$ 3,9 miliar atau 1,42% dari PDB

EKONOMI | 28 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS