Perbanas: Digitalisasi Tak Membuat Perbankan Kurangi Karyawan
INDEX

BISNIS-27 448.146 (0.31)   |   COMPOSITE 5091.82 (20.37)   |   DBX 966.643 (7.34)   |   I-GRADE 139.941 (-0.23)   |   IDX30 428.154 (0.15)   |   IDX80 113.358 (0.41)   |   IDXBUMN20 291.199 (0.73)   |   IDXG30 119.599 (-0.42)   |   IDXHIDIV20 379.423 (-0.2)   |   IDXQ30 124.629 (0.03)   |   IDXSMC-COM 218.961 (1.24)   |   IDXSMC-LIQ 257.997 (1.39)   |   IDXV30 107.251 (0.23)   |   INFOBANK15 832.7 (-1.05)   |   Investor33 373.408 (0.72)   |   ISSI 150.953 (0.22)   |   JII 549.986 (0.88)   |   JII70 187.543 (0.51)   |   KOMPAS100 1019.5 (2.84)   |   LQ45 788.563 (1.25)   |   MBX 1407.83 (4.87)   |   MNC36 279.661 (0.67)   |   PEFINDO25 277.129 (5.34)   |   SMInfra18 242.149 (-0.57)   |   SRI-KEHATI 316.134 (0.38)   |  

Perbanas: Digitalisasi Tak Membuat Perbankan Kurangi Karyawan

Sabtu, 4 Juli 2020 | 18:27 WIB
Oleh : Lona Olavia / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Kian masifnya layanan digital yang dikembangkan oleh perbankan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat akibat pandemi Covid-19, tidak akan membuat industri ini mengurangi jumlah alias melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para karyawannya.

Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sekaligus Pengurus Pusat Perbanas Vera Eve Lim mengatakan, para pekerja di dunia perbankan tidak perlu khawatir dengan munculnya era digitalisasi seperti saat ini. Berdasarkan pengalamannya di BCA, semakin banyak produk digital yang diluncurkan justru akan semakin banyak karyawan yang dibutuhkan.

"Jangan khawatir dengan adanya digital, justru dengan adanya digital kita dituntut untuk lebih kreatif dalam bekerja. Saya pun tidak melihat ini peluang kehilangan pekerja. Di BCA ada 25.000 karyawan dan dengan banyaknya platform yang diluncurkan pekerjaan makin bertambah," ujarnya dalam Webinar Perbankan Series VI dengan Tema “Next Level of Bank Digitalization for the New Era” yang diselenggarakan Perbanas Institute Jakarta via Aplikasi ZOOM, Jumat (3/7/2020) sebagaimana dalam siaran persnya, Sabtu (4/7/2020).

Vera menambahkan, semakin banyak produk yang diluncurkan, maka spektrum akan makin luas. Dengan demikian, pada era digital ini job desk karyawan akan lebih fokus kepada penyelesaian masalah yang tidak dapat ditangani oleh layanan digital.

"Karyawan tetap dibutuhkan untuk menangani hal-hal yang tidak bisa dilayani dengan digital. Justru skill karyawan akan kita upgrade," tegasnya.

Pihak perbankan pun menyadari, tak semua hal dapat dilakukan oleh teknologi digital, misalnya yang berkenaan dengan transaksi di atas Rp 1 triliun. Untuk itu, digitalisasi harus diikuti dengan membangun bisnis model yang cocok dengan nasabah.

"Harus fokus dulu membangun bisnis model yang cocok dengan nasabah. Punya aplikasi mobile bukan berarti sudah digital. Yang paling penting bisnis model yang cocok dan lakukan analisis yang baik agar customer experience juga berkembang," ujarnya.

Terkait persaingan dengan fintech dalam hal digitalisasi, diakui Vera, hal tersebut mendorong perbankan untuk terus berinovasi. Namun, di sisi lain, kehadiran fintech mempercepat edukasi ke nasabah. "Intinya kalau ekosistem terus berkembang, kita juga harus terus berubah. Bagaimana bisnis bank kembali ke customer service mindset supaya tepat sasaran ke nasabah," kata dia.

Hal senada disampaikan Direktur IT PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sekaligus Pengurus Pusat Perbanas Rico Usthavia Frans. Menurutnya, fungsi teller dan customer service bank akan berganti dari hanya menghitung uang dan melayani administrasi nasabah, menjadi penyelesai masalah di era digital.

Oleh karena itu, karyawan bank dituntut ke depannya harus memiliki skill yang lebih mengarah kepada pelayanan untuk menyelesaikan masalah berat nasabah yang berkaitan dengan fraud transaksi digital.

Lebih lanjut, kemajuan teknologi yang begitu pesat membuat perbankan semakin giat mengembangkan digitalisasinya. Selain efisien karena mampu menghemat hingga ratusan miliar rupiah, nasabah pun makin mudah untuk bertransaksi meskipun di kondisi pandemi ini. Setidaknya ada 10 hal yang harus diperhatikan perbankan dalam mendigitalisasikan layanan keuangannya.

"Digitalisasi ini penting karena Fintech ini tumbuh cepat dan ada Gojek, Tokopedia, Traveloka dan kalau dilihat fungsinya dengan perbankan lama-lama mirip semua, dulu kalau bayar tagihan lewat bank sekarang tersaingi. Ditambah kemampuan marketing mereka yang agresif itu bisa jadi ancaman buat perbankan kalau kita tidak mengantisipasi dengan baik," katanya.

Ke-10 hal tersebut antara lain, perbankan harus berpikir sebagai perusahaan teknologi yang diikuti oleh perubahan paradigma dari pimpinan, perbankan juga jangan terbelenggu oleh banyaknya sistem, dan digitalisasi harus diikuti oleh perubahan proses bisnis. "Perbankan jangan takut berbuat salah, kita harus prototype, semakin banyak salah, semakin banyak belajar. Ini bagian yang harus dibina," kata dia.

Selain itu, sambung Rico, perbankan harus mengetahui dan mengupdate data nasabah dengan baik. Perbankan juga harus membangun platform yang membuat nilai nasabah meningkat, memperkuat keamanan IT, memperkuat rekrutmen sesuai kebutuhan nasabah, serta mengikuti regulator untuk mewujudkan visi.

Apalagi, saat ini jumlah pengguna mobile phone sudah ada 371 juta dan 69% diantaranya smartphone, diikuti dengan 171 juta pengguna internet, 80% diantaranya memiliki akun sosial media.

"Dari sisi transaksi, di Bank Mandiri saja 97% transaksi sudah melalui e-channel sedangkan di cabang cuma 3% kurang, ATM dari 60% ke 48%, EDC yang mesin gesek 13% flat, internet dan mobile banking naik kencang dari 20% jadi 40%. Diprediksi mungkin tahun ini ATM dengan mobile dan internet banking harusnya sama, bila dilihat dari kacamata ritel, yang wholesale lebih besar lagi karena transaksi lewat internetnya lebih besar lagi. Ini background kenapa bank butuh digital," sebutnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Hippindo Sebut RUU Cipta Kerja Jadi UU Bisa Dongkrak Ekonomi di Masa Sulit

Para pebisnis minta RUU Cipta Kerja segera disahkan menjadi UU.

EKONOMI | 4 Juli 2020

Kebangkrutan Pizza Hut AS Tidak Berdampak ke Pizza Hut Indonesia

PT Sarimelati Kencana Tbk merupakan pemegang hak lisensi waralaba tunggal Pizza Hut di Indonesia dan perseroan tidak memiliki hubungan afiliasi dengan NPC Inc.

EKONOMI | 4 Juli 2020

Kinerja Positif, Alma Corp Bakal Buka 6 Hotel Baru

Alma Corp telah menjalin kerja sama pengelolaan 6 hotel baru di tahun ini.

EKONOMI | 4 Juli 2020

Perbankan Semakin Tersaingi Perusahaan Fintech

"Kemampuan marketing mereka (perusahaan fintech dan aplikasi super) yang agresif itu bisa jadi ancaman buat perbankan," kata Rico Usthavia.

EKONOMI | 4 Juli 2020

Ajak Konsumen Peduli Kualitas Udara, Pertamina Uji Emisi Gratis

Uji emisi selain untuk menjaga kondisi kualitas udara, sekaligus berguna untuk mengetahui kondisi kendaraan.

EKONOMI | 4 Juli 2020

Jokowi: Indonesia Bisa Lewati Middle Income Trap

Jokowi mengatakan untuk keluar dari middle income trap, dibutuhkan infrastruktur dan sumber daya manusia unggul.

EKONOMI | 4 Juli 2020

Perbanas: Digitalisasi Tak Membuat Perbankan Kurangi Karyawan

Semakin banyak produk digital yang diluncurkan justru akan semakin banyak karyawan yang dibutuhkan.

EKONOMI | 4 Juli 2020

Hadiah HUT ke-73 Koperasi, Kemkop dan UKM Keluarkan Peraturan tentang Penyaluran Pinjaman

Hadiah HUT Koperasi ke-17, Kemkop dan UKM keluarkan Permen Penyaluran Kredit.

EKONOMI | 4 Juli 2020


Penghambat Investasi Diadukan ke Polda Jatim

PT SER laporkan penghambat investasi ke Polda Jatim.

EKONOMI | 4 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS