Kemperin Dorong Pengembangan Industri Recycle Baterai Kendararaan Listrik
INDEX

BISNIS-27 491.129 (11.99)   |   COMPOSITE 5612.42 (112.33)   |   DBX 1062.36 (4.11)   |   I-GRADE 161.886 (4.37)   |   IDX30 478.794 (12.21)   |   IDX80 126.714 (3.02)   |   IDXBUMN20 355.426 (9.57)   |   IDXG30 131.028 (2.32)   |   IDXHIDIV20 432.126 (9.85)   |   IDXQ30 139.823 (3.69)   |   IDXSMC-COM 243.691 (3.69)   |   IDXSMC-LIQ 294.252 (6.8)   |   IDXV30 122.487 (4.61)   |   INFOBANK15 946.8 (29.41)   |   Investor33 412.464 (10.19)   |   ISSI 165.112 (2.43)   |   JII 597.802 (9.53)   |   JII70 206.187 (3.44)   |   KOMPAS100 1134.88 (27.52)   |   LQ45 883.061 (21.77)   |   MBX 1552.46 (34.83)   |   MNC36 308.511 (7.09)   |   PEFINDO25 308.232 (9)   |   SMInfra18 281.756 (5.87)   |   SRI-KEHATI 352.482 (8.96)   |  

Kemperin Dorong Pengembangan Industri Recycle Baterai Kendararaan Listrik

Kamis, 29 Oktober 2020 | 00:28 WIB
Oleh : Siprianus Edi Hardum / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Salah satu esensi dari revolusi Industri 4.0 adalah industri yang ramah lingkungan dan sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Perindustrian (Kemperin) adalah dengan terus mendorong peningkatan nilai tambah terhadap pengolahan limbah melalui peran industri daur ulang atau recycle industry, khususnya pada industri kendaraan listrik berbasis baterai.

Langkah strategis yang dilakukan adalah dengan mendorong pengembangan teknologi baterai dalam negeri untuk mendukung pembangunan industri kendaraan listrik nasional.

Namun, dalam pelaksanaannya terdapat kendala terhadap penyediaan bahan baku mineral lithium. Untuk mengatasi hal tersebut, Kemperin mendorong proses recovery lithium dari recycle baterai bekas sebagai upaya substitusi impor komponen baterai, yang ditunjang oleh hilirisasi industri baterai lithium.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dimana industri yang menghasilkan substitusi impor akan didorong untuk tumbuh.

Untuk itu, Kemperin telah memetakan sektor-sektor yang perlu dipacu dalam target substitusi impor tersebut, di antaranya industri mesin, kimia, logam, elektronik, dan kendaraan bermotor.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) melalui unit satuan kerjanya Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Semarang melaksankaan kegiatan Webinar dengan Tema "Peluang dan Tantangan Industri Recycling Limbah B3 (Baterai Kendaraan Listrik), kemarin.

Dalam sambutannya, Kepala BPPI Kemperin, Doddy Rahadi, menyampaikan pentingnya penerapan kebijakan subtitusi impor pada industri.

“Dampak positif dari substitusi impor di sektor industri antara lain, adanya penyerapan tenaga kerja, peningkatan kemampuan belanja dalam negeri dengan semakin bertambahnya tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dari produk yang dihasilkan sektor industri, serta peningkatan pasar ekspor bagi produk industri dalam negeri dengan pendalaman struktur industri, sehingga kita tidak lagi bergantung pada negara lain,” kata Doddy.

Doddy menambahkan, strategi pemerintah untuk mendorong pengembangan baterai kendaraan listrik dalam negeri dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam memproduksi kendaraan listrik.

“Diperlukan upaya untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada sekaligus upaya untuk substitusi impor komponen baterai, yang ditunjang oleh hilirisasi industri baterai lithium. Hal ini merupakan tantangan bagi akademisi, pelaku industri, pemerintah, peneliti, perekayasa serta asosiasi dalam negeri untuk mewujudkan hal tersebut,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, pada webinar ini dihadirkan Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemperin, Gati Wibawaningsih.

Dalam pemaparannya, Gati menyampaikan dukungan pemerintah dalam pengembangan industri recycle di Indonesia. Dengan teknokogi yang tepat, industri recycle ini efisien dan menjadi jawaban untuk memperkuat ekosistem industri dan ekonomi sirkular, termasuk untuk baterai bekas kendaraan bermotor listrik yang saat ini kita bahas.

“Pemerintah serius dalam mengembangkan industri kendaraan listrik, hal ini diwujudkan dengan ditandatanganinya Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle). Regulasi tersebut mengatur terkait percepatan pengembangan industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBL-BB) dalam negeri melalui pemberian insentif, penyediaaan infrastruktur pengisian listrik dan pengaturan tarif tenaga listrik, pemenuhan terhadap ketentuan teknis KBL-BB, serta perlindungan terhadap lingkungan hidup,” papar Gati.

Indonesia sangat berpotensi dalam penumbuhan market kendaraan bermotor listrik, namun dalam hal produksi baterai kendaraan listrik terkendala dengan penyediaan sumber lithium. Sebagai salah satu produsen kendaraan listrik di dunia, PT. Hyundai Motor Manufacturing Indonesia melalui Director/External Affairs, Tri Wahono Brotosanjoyo, mengungkapkan solusi dalam penyediaan sumber lithium.

“Indonesia tidak memiliki sumber alam mineral lithium, untuk mengatasi hal tersebut, perlu ada proses recovery lithium dari recycle baterai bekas. Dengan inovasi tersebut nantinya Indonesia dapat memiliki cadangan lithium meski tidak terdapat tambang lithium dari alam. Upaya ini juga merupakan salah bentuk circular economy di bidang energi, khususnya pada kendaraan bermotor listrik,” ungkapnya.

Saat ini sudah terdapat perusahaan recycle baterai yaitu PT Indonesia Puqing Recycling Technology. Melalui General Manager, Li Liang, menyampaikan PT. Indonesia Puqing Recycling Technology telah memiliki teknologi recycle baterai kendaraan listrik.

Perusahaan ini telah mendirikan pabrik di Morowali, Sulawesi Tengah, dan siap menerapkan teknologi yang dimiliki untuk memproduksi baterai melalui proses recycle dari baterai bekas. Meskipun saat ini untuk menjalankan produksi masih terkendala dengan perijinan, mengingat baterai bekas tergolong ke dalam limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3).

Recycling limbah baterai kendaraan motor listrik memberikan kontribusi terhadap suatu Negara, khususnya dalam meningkatkan pendapatan ekonomi, penerapan stardar pengolahan, pengembangan teknologi dalam bidang recycle, serta meningkatkan ketersediaan bahan baku bagi industri baterai kendaraan motor listrik. Industri recycle baterai saat ini harus mengimpor bahan bakunya, karena baterai lithium bekas di dalam negeri tidak mencukupi. Untuk itu kami memerlukan izin impor karena baterai bekas tergolong jenis limbah B3." jelas Li Liang.

Terkait dengan permasalahan limbah B3 pada industri, Kepala BBTPPI, Ali Murtopo Simbolon, menyatakan kesiapannya untuk mendukung pengelolaan limbah baterai dalam rangka menyongsong era kendaraan listrik.

Dikatakan, BBTPPI memiliki kompetensi dalam teknologi pencegahan pencemaran industri. Melalui webinar ini kita dapat memetakan tata kelola baterai bekas di Indonesia dalam menciptakan ekosistem industri kendaraan bermotor listrik dengan memperhitungkan nilai keekonomian.

“Di samping itu, Kita bisa melihat best practise internasional dalam pengelolaan baterai bekas ini untuk selanjutnya kita bisa pertimbangkan diterapkan di Indonesia. Selanjutnya kita bisa menyusun kajian akademik sebagai masukan untuk regulasi yang dibutuhkan dalam pengelolaan baterai bekas tersebut. Untuk itu diperlukan kolaborasi dengan para stakeholder industry,” pungkasnya.

Apabila permasalahan daur ulang litium ini terselesaikan, maka daur ulang baterai bekas dari penggunaan kendaraan bermotor listrik secara massal di tahun- tahun mendatang dapat teratasi.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Studi Banding Antar Desa Diharapkan Mampu Percepat Pembangunan Desa

Mendes PDTT hadiri studi banding antar desa di Bantul, DIY.

EKONOMI | 29 Oktober 2020

UU Cipta Kerja Buka Ruang Konsolidasi Data Tunggal KUMKM

UU Cipta Kerja buka ruang bagi pemerintah untuk konsolidasi data tunggal mengenai koperasi dan UMKM.

EKONOMI | 29 Oktober 2020

Sandiaga Uno Dukung Pengembangan Budi Daya Ayam

Dengan adanya kolaborasi lewat nota kesepahaman yang bertajuk Satu Juta Ayam tersebut, akan melibatkan pengusaha di berbagai daerah mulai dari hulu ke hilir.

EKONOMI | 28 Oktober 2020

50 Bank Nasional Masuk Jajaran Iconomics Top Banks Award 2020

Iconomics merilis daftar 50 bank nasional yang masuk dalam jajaran Iconomics Top Bank Award 2020.

EKONOMI | 28 Oktober 2020

Tiga Hal yang Patut Disiapkan di Era Cashless Society

Cashless Society adalah sebutan untuk masyarakat atau komunitas yang lebih banyak menggunakan transaksi non-tunai dalam keagiatan ekonomi sehari–harinya.

EKONOMI | 28 Oktober 2020

Pemerintah Dorong Substitusi Impor Bahan Baku Baterai Kendararaan Listrik

Diperlukan upaya memanfaatkan sumber daya alam (SDA) untuk substitusi impor komponen baterai.

EKONOMI | 28 Oktober 2020

Sinergi Indonesia-Korsel Diharapkan Terus Berlanjut

Kolaborasi komprehensif yang dijalin oleh kedua negara ditujukan untuk memacu perekonomian yang saling menguntungkan.

EKONOMI | 28 Oktober 2020

Kasus Covid-19 Tembus Rekor, Wall Street Anjlok di Pembukaan

Dow Jones Industrial Average turun 2,1%, S&P 500 turun 1,8%, dan Nasdaq turun 1,7%.

EKONOMI | 28 Oktober 2020

Wacana Merger Inka-KAI Perlu Dikaji Mendalam

"Mungkin tujuannya benar tetapi menurut saya tidak tepat. Masa manufacturer digabung dengan operator?" kata Hendrowijono.

EKONOMI | 28 Oktober 2020

Menuju Indonesia Maju, Ekonomi dan Keuangan Syariah Terus Diakselerasi

Pemerintah terus berupaya untuk mengembangkan ekonomi syariah melalui pembentukan ekosistem industri halal dan penyederhanaan regulasi.

EKONOMI | 28 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS