Penyakit Jantung Koroner Cukup Terapi Optimal Obat-Obatan
INDEX

BISNIS-27 503.6 (2.5)   |   COMPOSITE 5652.76 (48.27)   |   DBX 1032.04 (3.25)   |   I-GRADE 164.451 (1.87)   |   IDX30 490.95 (3.33)   |   IDX80 128.766 (0.95)   |   IDXBUMN20 358.484 (4.17)   |   IDXG30 133.521 (0.92)   |   IDXHIDIV20 437.723 (3.27)   |   IDXQ30 142.408 (1.41)   |   IDXSMC-COM 239.978 (2.77)   |   IDXSMC-LIQ 292.98 (3.3)   |   IDXV30 120.747 (2.08)   |   INFOBANK15 969.323 (8.87)   |   Investor33 424.184 (2.73)   |   ISSI 165.497 (1.49)   |   JII 607.992 (3.57)   |   JII70 207.954 (1.77)   |   KOMPAS100 1151.81 (10.08)   |   LQ45 901.663 (6.22)   |   MBX 1571.94 (14.64)   |   MNC36 316.426 (2.22)   |   PEFINDO25 300.975 (9.54)   |   SMInfra18 283.853 (1.3)   |   SRI-KEHATI 362.321 (2.15)   |  

Penyakit Jantung Koroner Cukup Terapi Optimal Obat-Obatan

Senin, 2 Desember 2019 | 00:00 WIB
Oleh : Siprianus Edi Hardum / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Penderita penyakit jantung koroner (PJK) stabil atau stable coronary artery disease, tidak perlu pasang stent dan operasi bypass. Cukup terapi dengan mengoptimalkan obat-obatan. Informasi ini menjadi kabar baik dalam dunia medis, khususnya penderita PJK stabil di belahan dunia manapun.

Perhimpunan Ahli Jantung Amerika atau American Heart Association (AHA) merilis studi terbaru terkait pengobatan PJK stabil berbasis bukti (evidence based study) yang dinamakan “Ischemia”.

Hasil studi menunjukan bahwa tindakan pemasangan stent melalui kateter balon atau tindakan bedah pintas pada pasien-pasien dengan PJK stabil adalah tindakan berlebih. Tindakan itu tidak lebih efektif daripada terapi optimal obat-obatan atau optimal medical therapy (OMT).

Apabila para dokter spesialis jantung menerapkan hasil studi ini kepada pasien PJK stabil, maka keselamatan pasien akibat kemungkinan komplikasi operasi akan terjaga. Selain itu, biaya pengobatan akan jauh lebih murah. Dengan demikian, tidak perlu menaikkan iuran BPJS yang hanya membebani anggaran negara.

Dokter spesialis jantung, Frans Santosa, mengatakan, studi tersebut mempunyai nilai evidence based 1a karena didesain dengan baik secara multicenter dan multination. Hal ini sudah dilakukan selama lima tahun hingga beberapa bulan lalu.

Metodologi studi tersebut menggunakan studi komparatif yang membandingkan satu kelompok pasien yang menggunakan metode terapi tindakan invasif kardiologi, berupa pemasangan stent atau metode bedah pintas, dengan pasien yang hanya diberikan obat-obatan optimal.

Hasilnya, selama pengobatan pada kedua kelompok tidak temukan perbedaan signifikan. Pada pasien yang diberikan obat-obatan secara optimal tidak ditemukan kematian akibat serangan jantung, komplikasi, serta dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

“Kesimpulannya, pemasangan stent lewat balon kateter atau operasi bedah pintas jantung tidak lebih efektif daripada pasien yang hanya meminum obat-obatan secara optimal, sesuai rekomendasi dokter,” kata Frans kepada wartawan di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Ketua Senat Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta ini berharap, hasil studi ini dapat diterima kalangan dokter spesialis jantung sehingga dapat menghilangkan kontroversi yang selama ini terjadi. Sebab, selama dua dekade terakhir, ahli jantung telah menerapkan metode pengobatan ini pada penderita PJK stabil.

Sebelumnya, para ahli jantung sudah melakukan studi serupa. Studi tersebut dinamakan antara lain MASS, RITA, RITA 2-3, Bari, Bari 2D, COURAGE, FAME, FAME II. Hasilnya, para ahli merekomendasikan metode OMT pada penderita PJK stabil.

Penderita PJK stabil adalah penderita yang tidak mempunyai keluhan sama (asimptomatik), keluhan ringan (simtomatik), sedang, berat di bagian dada. Baik saat istirahat, sedang beraktivitas atau saat treadmill (stable angina pectoris). Kelompok pasien ini tidak termasuk dalam kriteria kegawatan medis sesuai pedoman studi central cord syndrome (CCS).

Sejauh ini, kata Frans, telah banyak penderita PJK stabil datang ke rumah sakit hanya untuk medical check up (MCU). Tapi setelah didiagnosa oleh dokter, pasien justru dianjurkan untuk memasang stent. “Padahal, menurut berbagai hasil studi, cukup dilakukan diagnostik non invasive saja, atau maksimal semi invasive. Jika ditemukan ada indikasi, dianjurkan OMT,” katanya.

Sedangkan penderita PJK tidak stabil (Unstable CAD) adalah kasus emergency atau kegawatan serangan akut infark (penyumbatan) jantung. Pada situasi ini, pasien mengeluh nyeri hebat, rasa panas, sesak seperti ada beban pada daerah dada, keringat dingin, gelisah atau unstable angina pectoris (UAP), disertai perubahan grafik elektrokardiografi (EKG) dan kenaikan enzim jantung. Di sinilah indikasi absolut untuk dilakukan segera mungkin pemasangan stent melalui balon kateter atau bedah pintas.

Paradigma lama menyebutkan bahwa serangan jantung koroner terjadi akibat timbunan plaque (aterosklerosis) antara dinding dalam dan tengah yang tumbuh terus bertahun-tahun yang mengakibatkan lubang pembuluh darah kemudian tersumbat.

Sementara paradigma baru menyebutkan bahwa serangan jantung koroner terjadi akibat timbunan plaque dan lapisan dinding dalam pembuluh darah robek diikuti proses agregasi trombosit yang menyebabkan penyumbatan lubang pembuluh darah secara akut (aterotrombosis).

“Pengetahuan yang didapat berkat paradigma baru inilah yang menimbulkan inovasi teknik industri farmasi untuk mengembangkan obat-obatan modern, berbasis studi ilmiah guna mencegah proses aterosklerosis jantung koroner berlanjut yang mengandung statin atau PCSK9,” pungkas Frans.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Hari AIDS Sedunia Bukan Saatnya untuk Merayakan

Saat ini, bukan waktunya untuk sebuah perayaan. Negara ini sedang menghadapi krisis.

KESEHATAN | 1 Desember 2019

Atasi Fraud, Menkes Kumpulkan Kepala Dinas Kesehatan

Menkes Terawan Agus Putranto mengumpulkan semua kepala dinas kesehatan (dinkes) untuk membahas tata kelola pencegahan dan penanganan kecurangan JKN-KIS.

KESEHATAN | 30 November 2019

Kenali Bahaya Penyakit Otak Lewat Film 3D Brain Education

Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan menyelenggarakan edukasi tentang fungsi otak dan penyakit-penyakit yang mungkin ditimbulkan akibat gangguan otak.

KESEHATAN | 1 Desember 2019

Periksakan Mata Anak, Waspadai Gangguan Pengelihatan

Oleh karena itu, mata anak perlu diperiksa berkala untuk mewaspadai gangguan pengelihatan.

KESEHATAN | 30 November 2019

Angka Kematian Disebabkan Kanker Paru Terus Meningkat

MRCC Siloam MRCCC Siloam Hospitals gelar seminar sehari bulan peduli kanker paru

KESEHATAN | 30 November 2019

Alternatif Makanan Bagi Penyandang Diabetes

Masyarakat perlu terus disadarkan akan dampak dan risiko komplikasi akibat diabetes.

KESEHATAN | 30 November 2019

Siloam Hospitals Lippo Village Gelar Pelatihan Tanggap Bencana

Pelatihan diadakan bersama pihak pemadam kebakaran Kabupaten Tangerang, Makorem 052 Wijayakrama dan Mapolsek Kelapa Dua.

KESEHATAN | 29 November 2019

Wujud Komitmen Pelayanan, Cordlife Raih Akreditasi AABB

Cordlife Indonesia berhasil meraih akreditasi sertifikasi prestisius dari American Association of Blood Banks (AABB).

KESEHATAN | 29 November 2019

Solusi Digital Posyandu Cicendo untuk Pencegahan Stunting

Posyandu Cicendo memperkenalkan solusi digital pencegahan stunting yakni Si Aplod dan Si Centring untuk mencegah permasalahan kesehatan stunting.

KESEHATAN | 29 November 2019

Tips Memilih Stroller untuk Balita

Stroller menjadi salah satu perlengkapan balita yang sangat dibutuhkan.

KESEHATAN | 29 November 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS