Pengamat: Pendidikan Indonesia Belum Memiliki Konsep yang Baik
INDEX

BISNIS-27 446.998 (3.66)   |   COMPOSITE 5103.41 (22.92)   |   DBX 961.91 (2.39)   |   I-GRADE 139.433 (1.14)   |   IDX30 425.424 (3.73)   |   IDX80 112.732 (0.9)   |   IDXBUMN20 290.237 (3.92)   |   IDXG30 119.067 (0.52)   |   IDXHIDIV20 380.466 (2.42)   |   IDXQ30 124.992 (0.94)   |   IDXSMC-COM 219.453 (0.5)   |   IDXSMC-LIQ 253.905 (3.07)   |   IDXV30 105.587 (1.13)   |   INFOBANK15 830.947 (11.32)   |   Investor33 371.883 (3.69)   |   ISSI 150.117 (0.53)   |   JII 544.402 (1.55)   |   JII70 185.969 (0.84)   |   KOMPAS100 1019.44 (6.38)   |   LQ45 783.452 (7)   |   MBX 1412.54 (6.76)   |   MNC36 280.287 (2.27)   |   PEFINDO25 278.026 (3.1)   |   SMInfra18 241.756 (0.32)   |   SRI-KEHATI 314.153 (3.5)   |  

Pengamat: Pendidikan Indonesia Belum Memiliki Konsep yang Baik

Jumat, 14 Agustus 2020 | 21:59 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerhati Pendidikan Indonesia, Indra Charismiadji mengatakan, pendidikan Indonesia hingga saat ini belum memiliki konsep yang baik. Pasalnya, program-program pendidikan dari tahun ke tahun hanya berupa rutinitas dan tidak dievaluasi.

Dengan begitu, kata Indra, berapapun anggaran yang dialokasikan untuk meningkatkan mutu pendidikan akan sulit terwujud, karena pemegang kebijakan masih sulit terlepas dari kebiasaan business as usual with more money atau bisnis seperti biasa dengan lebih banyak uang.

“Seharusnya setiap kebijakan itu dievaluasi untuk memperbaiki mutu pendidikan, bukan membuat kebijakan rutinitas dengan mengganti nama,”ucap Indra kepada Suara Pembaruan, Jumat(14/8/2020).

Kebijakan sekedar rutinitas ini, lanjut Indra, terlihat dari capaian pendidikan Indonesia yang selama 20 tahun terakhir stagnan. Ini terlihat dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) sejak 2000 yang mengukur kemampuan anak di dunia.

Bahkan, dari hasil PISA terakhir, dari 77 negara terlibat, posisi Indonesia berada di 72 dengan hasil kompetensi generasi bangsa di bidang matematika, reading, dan sains berada pada level 0-2. “Ini menunjukan kebijakan pendidikan selama ini belum mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Indra.

Direktur Eksekutif Center of Education Regulations and Development Analysis (Cerdas) juga menyebut, hingga saat ini tak ada tanda-tanda dari pemerintah ingin mengubah sistem pendidikan Indonesia agar menjadi lebih baik.

“Jadi buat saya enggak penting anggaran berapa, karena yang jelas anggaran kita memang terlihat besar, tetapi hanya isinya ya cuma business as usual with more money. Sama saja dari dulu hingga sekarang hanya nama diganti. Jadi pekerjaan rumah kita itu besar. Tetapi mau enggak pemerintah memperbaiki ini,” ujarnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Partai Demokrat Harap Pemerintah Tetap Bekerja Maksimal

Partai Demokrat berharap Jokowi tetap bekerja maksimal.

NASIONAL | 14 Agustus 2020

Diduga Keracunan Makanan, Puluhan Santri di Bengkuli Dilarikan ke Rumah Sakit

Puluhan Santri di Bengkulu keracunan dibawa ke Rumah Sakit.

NASIONAL | 14 Agustus 2020

Pilkada Desember 2020, Jangan Kotori Demokrasi dengan Politik Uang

Demokrasi mulai melenceng ketika politik uang terjadi.

NASIONAL | 14 Agustus 2020

Ribut dengan Pimpinan KPK di Pesawat, Mumtaz Rais Jual Nama Wakil Ketua Komisi III

Mumtaz Rais jual nama Wakil Ketua Komisi III DPR ketika ribut di pesawat.

NASIONAL | 14 Agustus 2020

Hikmahanto: MA Harus Kembali Jadi Benteng Terakhir Pencari Keadilan

Pimpinan MA harus terus mendorong budaya transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi sekaligus memperkuat akar dan fondasi prinsip supremasi hukum.

NASIONAL | 14 Agustus 2020

UGM Terima 2.518 Mahasiswa Jalur SBMPTN

UGM terima mahasiswa baru melalui jalur SBMPTN 2020.

NASIONAL | 14 Agustus 2020

Nawawi Pomolango Tegur Mumtaz Rais Selaku Penumpang Pesawat

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nawawi Pomolango menegur Mumtaz Rais dalam posisinya sebagai salah satu penumpang pesawat.

NASIONAL | 14 Agustus 2020

Picu Keributan di Pesawat, Mumtaz Rais Dikecam

Perilaku Ahmad Rais, putra dari Amien Rais yang memicu keributan di pesawat Garuda Indonesia dinilai memalukan.

NASIONAL | 14 Agustus 2020

Serius Berantas Korupsi, Sikap Jokowi Harus Dijalankan Aparat Negara

Berantas korupsi tanpa pandang bulu sulit dijalankan aparat penegak hukum.

NASIONAL | 14 Agustus 2020

Korupsi Proyek Fiktif, KPK Periksa Direktur Waskita Beton Precast

Munib Lusianto bakal diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi terkait pelaksanaan pekerjaan subkontraktor fiktif.

NASIONAL | 14 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS