Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

AAJI Proyeksikan Asuransi Jiwa Tumbuh Lebih Hati-hati

Senin, 28 November 2022 | 05:08 WIB
Oleh : Prisma Ardianto / WBP
Ilustrasi asuransi.

Jakarta, Beritasatu.com- Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memperkirakan perusahaan asuransi jiwa bakal mencatatkan pertumbuhan bisnis di tahun 2023. Namun perusahaan asuransi jiwa diimbau lebih hati-hati karena sejumlah tantangan yang semakin nyata.

Berdasarkan data AAJI, total pendapatan premi asuransi jiwa dibukukan mencapai Rp 143,75 triliun atau turun 3,8% year on year (yoy) hingga kuartal III 2022. Namun pendapatan premi dari bisnis syariah, tradisional asuransi kumpulan, serta pembayaran reguler masih mencatatkan pertumbuhan.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon, tantangan ke depan sudah terlihat cukup berat dengan inflasi dan lainnya. Indonesia secara umum meski di bawah tekanan, tetapi pertumbuhan masih bisa dijaga pemerintah. Hal ini menjadi salah satu sumber harapan bagi industri asuransi jiwa.

Berikutnya, dasar harapan untuk bisa tumbuh di tahun depan bahwa kesadaran asuransi terus meningkat terutama dari sisi produk kesehatan. Selain itu, kanal distribusi agensi untuk pertama kalinya sejak 2 tahun terakhir tumbuh positif.

"Kalau ada satu atau dua kata yang bisa mencerminkan semangat industri asuransi jiwa untuk tahun depan adalah growth, tetapi prudent. Tebakan saya, tidak banyak perusahaan asuransi jiwa yang berani mencanangkan target pertumbuhan yang tinggi, tapi pasti masih mencanangkan pertumbuhan positif," kata Budi, baru-baru ini.

Dia mengimbau agar perusahaan asuransi lebih hati-hati di tahun depan karena tantangan kian nyata. Alasan untuk tumbuh selalu ada, khususnya potensi besar dari tingginya masyarakat yang membayar sendiri biaya kesehatan tanpa didukung BPJS Kesehatan.

Kepala Departemen Hubungan Dalam Negeri AAJI Kustiawan mengungkapkan, masyarakat Indonesia sudah lebih sadar untuk mendapatkan proteksi asuransi jiwa. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah tertanggung perseorangan mencapai 26 juta orang sampai September 2022. Kemudian konsistensi pertumbuhan pembayaran premi reguler mengindikasikan masyarakat Indonesia telah memahami unsur utama produk asuransi jiwa sebagai proteksi keuangan.

Ke depan, kondisi market terakhir untuk indeks Indonesia masih sideways, sementara Standards & Poor's (S&P) 500 Index naik tapi terlihat kecil dibandingkan penurunan di tahun lalu. Kemudian rupiah masih melemah tapi terjadi penguatan dalam seminggu terakhir, pasar obligasi mulai membaik dilihat dari yield yang sudah mulai turun.

"Proyeksi ke depan akan mempengaruhi proyeksi asuransi jiwa. Pasar modal Indonesia dapat membaik atau minimal tidak seburuk pasar global. Untuk perusahaan asuransi jiwa ke depan, mungkin hal ini akan membuat semakin banyak kesadaran masyarakat untuk mulai berinvestasi atau membeli produk tradisional. Ini kita harapkan demikian," ujar Kustiawan.

Ketua Bidang Operasional Excellence, IT, & Digital Customer Centricity Edy Tuhirman mengatakan, jumlah agen bertambah sedikit, tetapi preminya bertambah signifikan. Ini ada indikasi bahwa agen yang sebelumnya kurang aktif mulai mencari pekerjaan lain. Bisa jadi karena faktor pendapatan yang dinilai tidak sesuai.

"Butuh waktu yang lama untuk bisa mencapai stabilitas pendapatan sebagai agen. Ini seleksi alam terjadi, orang-orang yang tidak begitu aktif mulai mencari pekerjaan lain. Sementara orang-orang yang aktif, karena ada demand, mereka produktivitasnya meningkat," jelas Edy.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI