Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Harga SUN Menguat Terbatas karena Fed Rate Melandai

Senin, 28 November 2022 | 06:12 WIB
Oleh : Muawwan Daelami / WBP
Ilustrasi Obligasi.

Jakarta, Beritasatu.com- Harga Surat Utang Negara (SUN) pekan depan diprediksi mengalami penguatan dengan imbal hasil (yield) di bawah 7,0%. Penguatan harga didorong melandainya kenaikan suku bunga the Fed (Fed rate) dan derasnya aliran masuk modal asing.

Seniot Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana mencermati bahwa harga SUN akan menguat karena melemahnya sentimen Fed rate hike dan sentimen positif net buy asing pada pekan lalu yang mencapai Rp 11 triliun. "Jadi, dua hal itu akan mendorong SUN pada awal pekan ini menjadi relatif baik dan yield akan menurun," ucapnya kepada Investor Daily, Minggu (27/11/2022).

Di balik diproyeksi penguatan harga SUN, Fikri menyarankan investor waspada terhadap tekanan yield yang berpotensi terjadi pada pertengahan pekan ini atau Kamis nanti yang memunculkan risiko inflasi akibat terganggunya rantai pasok.

Sentimen lain, yang perlu dicermati meningkatnya kasus Covid-19 di Tiongkok dan kebijakan lockdown di Beijing yang berpotensi memberikan dampak kepada Indonesia. "Karena itu, awal pekan saya berharap, yield bisa mendekati di bawah 7,0. Namun mungkin pada akhir pekan karena ada risiko tekanan inflasi, saya khawatir yield bisa mendekati 7,2%. Jadi, mungkin rentang yield antara 7,0% sampai 7,2%," ungkapnya.

Seiring agresifnya aliran modal asing (capital inflow) di pasar SUN, menurut data Bank Indonesia, capital outflow justru berpeluang terjadi di pasar saham atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini.

Fikri berpendapat, sentimen the Fed yang cenderung mereda bakal memacu investor global melirik emerging market sebagai instrumen investasi. Alhasil, capital inflow di pasar SUN akan menjadi lebih agresif meski dibayang-bayangi data inflasi. Geliat investor asing ini diproyeksi bakal tercermin dari aktivitas lelang yang digelar pemerintah pada 29 November.

Fikri melihat lelang tersebut akan menarik karena kemungkinan menjadi lelang terakhir pada tahun ini dilihat dari kebutuhan fiskal yang sekarang masih surplus. "Saya optimistis dengan lelang kali ini dibandingkan lelang minggu sebelumnya. Tapi, apakah incoming bids-nya akan sama dengan incoming pada awal-awal tahun, saya pikir belum. Tapi yang jelas, partispasi investor asing pada lelang ini akan naik dari penawaran sebelumnya," imbuh Fikri.

Mengingat lelang tersebut menjadi lelang terakhir atau menuju penutupan pada tahun ini, maka window dressing akan membuat pasar sekunder menjadi lebih ramai. Keramaian itu juga disebabkan langkah BI yang akan memanfaatkan dana burden sharing sekitar Rp 70-80 triliun pada awal Desember.

"Karena sentimen the Fed mulai turun, saya pikir BI juga akan melakukan hal serupa. Jadi, saya pikir tekanan kenaikan cost of fund akan melandai setelah the Fed rate hike yang kemungkinan terjadi pada pertengahan Desember dan di Bank Indonesia terjadi seminggu setelahnya. Mungkin, hal itu juga bisa mendorong sentimen window dressing pada akhir Desember menjadi lebih kencang," ungkap Fikri.

Secara terpisah, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario juga Maruto memprediksi bahwa harga SUN pekan depan akan melanjutkan penguatan meskipun terbatas dengan yield sekitar 6,9%.

Menurut Ramdhan, penguatan tersebut berkat tumbuhnya minat investor asing terhadap pasar Indonesia, sehingga hal ini memberi keyakinan kepada asing untuk masuk setelah sebelumnya mengalami tekanan kenaikan suku bunga the Fed dan BI rate. "Dengan kondisi makroekonomi domestik yang cukup solid dan meredanya potensi resesi walaupun suku bunga tetap tinggi, paling tidak sudah membuat kepercayaan investor masuk ke emerging market Indonesia kembali tinggi sehingga menambah likuditas di pasar SUN," ujar Ramdhan kepada Investor Daily, Minggu (27/11/2022).

Kendati begitu, Ramdhan juga mengingatkan investor untuk selalu mewaspadai kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian akibat kenaikan suku bunga dan tekanan inflasi lantaran melonjaknya harga-harga komoditas.

Sentimen lain yang perlu dicermati, sebut Ramdhan, yaitu pergerakan US treasury yang kemungkinan terus membayangi pergerakan pasar SUN. Sebab, jika US treasury mengalami kenaikan, SUN akan melemah. Sebaliknya, jika US treasury menurun, pasar akan bertahan dan cenderung menguat.

Sementara terkait window dressing, Ramdhan menilai, hal itu tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pergerakan yield. "Yield kita di sekitar 7% sudah cukup baik untuk kondisi sekarang. Karena suku bunga global masih cukup tinggi dan BI juga melakukan penyesuaian. Harapannya, yield SUN spread kita dengan yield US treasury semakin kecil," katanya.

Pasalnya, ia melihat potensi memperkecil selisih yield itu tetap ada sepanjang posisi likuiditas tinggi. Apalagi, akhir tahun nanti secondary market diprediksi menguat meski potensi penguatannya tidak signifikan akibat ketidakpastian global.

Kemudian terkait lelang, Ramdhan mengaku optimistis target indikatif akan tercapai karena berkaca dari keberhasilan lelang pekan lalu yang realisasinya menembus di atas Rp 30 triliun berkat kondisi pasar yang jauh lebih kondusif. "Menurut saya lelang pekan ini akan masuk di atas Rp 10 triliun karena pasarnya confidence untuk menguat," tutup Ramdhan



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI