Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Utang Tembus Rp 7.496 T, Kemenkeu Pastikan Masih Terkendali

Selasa, 29 November 2022 | 10:48 WIB
Oleh : Triyan Pangastuti / WBP
Ilustrasi rupiah.

Jakarta, Beritasatu.com- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut utang pemerintah hingga Oktober 2022 tercatat Rp 7.496,70 triliun atau naik Rp 76,23 triliun dari bulan sebelumnya sebesar Rp 7.420,47 triliun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan utang pemerintah masih terkendali dan dapat dikelola dengan baik. Hal ini tercermin dari rasio utang terhadap produk domestik bruot (PDB) masih jauh dari ambang batas ketentuan Undang-Undang (UU). "Pengelolaan utang secara hati-hati dapat dilihat dari rasio utang terhadap PDB jauh di bawah batasan yang ditetapkan dalam UU, yaitu sebesar 60% PDB," kata Suminto kepada Investor Daily, Selasa (29/11/2022).

Sebagai gambaran, rasio utang Oktober sebesar 39,69% terhadap PDB mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 39,30% terhadap PDB.

Sumito mengatakan pemerintah berupaya mengendalikan defisit APBN dalam jangka menengah panjang untuk menjaga kesinambungan fiskal.

Sebagaimana diketahui, tren surplus anggaran telah berakhir karena pada Oktober 2022 APBN tercatat defisit untuk pertama kalinya di tahun 2022 senilai Rp 169,5 triliun atau setara dengan 0,91% terhadap PDB. Defisit karena realisasi pendapatan negara Oktober tercatat Rp 2.181,6 triliun atau tumbuh 44,5% (yoy), tetapi lebih rendah dibandingkan belanja negara mencapai Rp 2.351,1 triliun atau naik 14,2% (yoy).

"Pemerintah selalu berupaya untuk mendorong penerimaan negara melalui diversifikasi dan ekstensifikasi. Di sisi belanja, pemerintah mendorong kualitas belanja agar pengeluaran dapat efektif memberikan dorongan pada perekonomian," tuturnya.

Kendati demikian, Kemenkeu berjanji akan terus perbaikan penerimaan dan efektivitas belanja. "Ini untuk mendorong terciptanya ruang fiskal yang lebih baik," ucapnya.

Rasio utang diproyeksi 39% terhadap PDB
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memproyeksi hingga akhir tahun rasio utang masih di kisaran 38% sampai 39% terhadap PDB. Artinya proyeksi rasio utang ini tidak terlampau jauh dengan data realisasi rasio utang hingga akhir Oktober yang tercatat sebesar 38,36%. "Peningkatan utang tidak terlepas dari fluktuasi nilai tukar, yang pada saat Oktober, nilai tukar sempat mengalami pelemahan," kata Yusuf kepada Investor Daily.

Menurutnya pelemahan nilai tukar menyebabkan utang dengan denominasi valas dan bersifat variabel rate, akhirnya ikut berubah. "Di saat bersamaan, di Oktober peningkatan belanja pemerintah semakin meningkat dibandingkan kuartal pertama, sehingga kebutuhan pembiayaan tentu menjadi semakin bertambah," tegasnya.

Menurutnya setelah pandemi pemerintah berada pada tahap menurunkan rasio utang. "Posisi pemerintah terkait utang perlu berada dalam posisi waspada," tegasnya.

Dia mengatakan kelanjutan reformasi pajak akan menjadi faktor penting dalam menanggung risiko beban bunga utang dalam jangka panjang. Kendati demikian, Yusuf menilai utang masih berpotensi terus diturunkan pada 2023 karena periode konsolidasi fiskal secara otomatis akan menurunkan proporsi belanja.

"Dalam jangka panjang, eksekusi belanja pemerintah juga menjadi penting diperhatikan dalam kaitannya dengan utang. Jangan sampai, utang yang sudah dilakukan tidak diimbangi dengan eksekusi belanja yang tidak optimal (tidak terserap secara optimal)," kata dia.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI