Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

IHSG Dinilai Kuat Hadapi Sinyal Kenaikan FFR dan Demo Tiongkok

Rabu, 30 November 2022 | 06:50 WIB
Oleh : Zsazya Senorita / FMB
Aktivitas investor di galeri sekuritas, Jakarta.

Jakarta, Beritasatu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai sejumlah analis, akan kuat menghadapi isu rencana kenaikan Fed Fund Rate (FFR) serta adanya demonstrasi di Tiongkok. Pengamat pasar modal Wahyu Tri Laksono menilai, dua sentimen global tersebut hanya terjadi sementara.

Wahyu mengakui, pernyataan Presiden Fed St Louis James Bullard tentang The Fed yang perlu menaikkan suku bunga sedikit lebih jauh, memicu spekulasi adanya lanjutan agresivitas dewan rapat kebijakan bank sentral Amerika Serikat / Federal Open Market Committee (FOMC).

Namun sebelumnya, FOMC meeting minutes menegaskan, potensi perlambatan kenaikan suku bunga atau agresivitas mereda yakni hanya 50 atau 25 bsp. Walaupun tingkat suku bunga akan masih tinggi ke depannya.

“Artinya tren masih cukup support bagi bursa saham Wall Street dan lawan USD. Kepastiannya akan terjadi pada FOMC DEC nantinya,” tutur Wahyu kepada Investor Daily, Selasa (29/11/2022).

Senada, demo langka tentang zero Covid-19 policy di Tiongkok juga diakui sebagai sentimen negatif. Namun sifatnya akan sementara juga. Namun dalam jangka menengah, masih ada harapan positif bagi pasar.

“Antara isu Tiongkok dan Fed, jelas sementara Fed masih akan jadi isu paling utama sebagai lokomotif sentimen. Dengan demikian, short term mungkin akan terjadi koreksi wajar namun kecenderungannya konsolidasi rebound. IHSG apapun isunya selama ini masih cukup kuat. Better than others,” tegas Wahyu.

Secara singkat, dia merangkum bahwa sejumlah sentimen yang menyelimuti IHSG tahun ini umumnya kurang bagus, secara global terjadi koreksi besar atau bahkan bear market. IHSG masih diunggulkan dan hanya koreksi sedikit, bahkan sempat mencapai rekor baru all time high (ATH) 7377 pada September lalu, saat yang lain anjlok.

Pada kuartal IV-2022, menurut Wahyu harapan muncul karena inflasi di negara maju mulai mereda. Data consumer price Index (CPI) AS terakhir anjlok, Fed mulai menyadari dampak pengetatan terhadap ekonomi global bisa memicu krisis. Walau suku bunga tinggi masih bertahan namun outlook kenaikan mulai mereda, tidak lagi 75 bsp seperti beberapa kali sebelumnya.

Hal ini pun sangat melegakan pasar. Bursa Wall Street mulai rebound, major currency seperti euro rebound signifikan, begitu pula dengan pasar emas dan harga komoditas. FOMC terakhir menegaskan wacana peredaan agresivitas tersebut.

Menurut Wahyu, para anggota Fed semakin menyadari dampak tertinggal dari semua kenaikan suku bunga tahun ini. Umumnya, ini adalah bullish untuk ekuitas dan pendapatan tetap karena sekarang ada sedikit perubahan konsensus di Fed yang berarti bahwa kenaikan tingkat yang jauh lebih besar sekarang lebih kecil kemungkinannya.

Ada kesepakatan luas dalam komite untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga segera, dengan hanya beberapa lebih memilih untuk menunggu sampai sikap kebijakan lebih jelas di wilayah terbatas. Ekspektasi lintasan Fed rate berubah drastis dengan penurunan laju terminal dan ekspektasi penurunan laju selanjutnya.

“Artinya, akhir tahun ini koreksi semakin kecil peluangnya. Optimisme makin menguat dan momentum akhir tahun dan awal tahun seperti santa claus rally dan window dressing bisa jadi seasonal factor yang potensial memicu kenaikan saham,” tutup Wahyu.

Di lain pihak, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina menilai bahwa secara umum, IHSG memang akan dipengaruhi sentimen positif dan negatif dari pasar global.

“Saat ini, kedua kabar tersebut menjadi sentimen negatif untuk IHSG. Mengingat AS dan Tiongkok sebagai negara terbesar, pertama dan kedua di dunia. Pelaku pasar akan tetap menunggu pidato Jerome Powell pada Rabu waktu setempat, untuk sinyal penaikan The Fed (FFR) lebih lanjut,” jelas Martha.

Dihubungi secara terpisah, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta membuktikan sendiri bahwa sinyal kenaikan FFR dan demo di Tiongkok telah membuat Jakarta Composite Index (JCI) bergerak bervariasi cenderung turun.

Dengan pergerakan di level support 6.997-6.956 dan resistance 7.042-7.062, IHSG berpotensi bergerak turun karena sinyal stochastic K_D dan relative strength index (RSI) negatif.

“Namun demikian, fase akumulasi masih utuh karena indeks masih berada di dalam batas persegi panjang,” tegas Nafan yang juga meyakini IHSG mampu beranjak naik pekan ini meski ada isu global tersebut.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI