Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Pemerintah Bertekad Jaga Inflasi Hadapi Resesi, Caranya?

Jumat, 2 Desember 2022 | 14:04 WIB
Oleh : Arnoldus Kristianus / WBP
Pedagang melayani pembeli di pasar tradisonal Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah mengoptimalkan peran Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas harga barang agar tidak terjadi hiperinflasi. Sebab saat ini sejumlah negara di dunia tengah mengalami inflasi tinggi di tengah resesi global.

“Pola pengendalian inflasi Indonesia beda dengan negara lain karena ada TPID dan TPIP. Kunci keberhasilan berkat extra effort yang dilakukan TPIP dan TPID dengan meningkatkan produksi melalui tanaman pekarangan, gerakan tanaman pangan, subsidi ongkos angkut, kerja sama antar daerah produsen dengan daerah konsumen,” kata Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir saat dihubungi Investor Daily Kamis (1/12/2022).

Menurut Iskandar saat ini kondisi inflasi sudah terjaga berkat extra effort pemerintah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada November 2022 terjadi inflasi tahunan year on year (y-o-y) sebesar 5,42%. Pada November ini terjadi penurunan inflasi tahunan dibandingkan Oktober 2022 yang mencapai 5,71%. “Inflasi bergejolak yang berasal dari makanan turun signifikan 7,19% menjadi 5,70% Tren inflasi 2023 diproyeksikan akan menurun,” ucap Iskandar.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan inflasi masih berpotensi mengalami peningkatan terutama di bulan terakhir di tahun ini mengingat ada faktor dorongan permintaan dari libur Natal dan Tahun Baru. Sehingga secara keseluruhan inflasi sepanjang 2022 akan berada di atas target yang ditetapkan pemerintah. “Sementara untuk tahun depan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi relatif lebih tinggi, maka potensi inflasi juga berada pada level yang tinggi,” ucap Yusuf saat dihubungi pada Kamis (1/12/2022) malam.

Faktor harga pangan global juga berpotensi mempengaruhi dinamika inflasi di Indonesia pada 2023. Sementara faktor harga pangan global pada dasarnya akan dipengaruhi dari konflik geopolitik baik itu antara Rusia dan kera ini atau konflik geopolitik yang baru.

“Saya pikir Indonesia belum akan masuk ke fase hiperinflasi apalagi kalau kita bicara konteks tahun ini inflasi memang berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu hanya saya pikir masih berada pada range yang bisa diatur atau manageable oleh pemerintah,” ucap Yusuf.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani memperkirakan hingga akhir tahun 2022 inflasi masih memiliki peluang cukup besar untuk terkoreksi, tetapi masih akan ada di atas rata-rata inflasi pra-pandemi. Inflasi diperkirakan akan ada di range 4,8-5,5% atau lebih tinggi. Angka ini bisa lebih tinggi jika nilai tukar semakin melemah di bulan Desember 2022 karena ini akan berimplikasi langsung terhadap inflasi bahan bakar dan harga pangan impor.

Shinta mengatakan peran harga pangan terhadap inflasi November masih cukup besar meskipun tidak sebesar harga bahan bakar. Hal ini terlihat dari data inflasi pangan year on year yang masih di atas 5%, bahkan di atas rata-rata inflasi nasional. Oleh karena itu pemerintah masih perlu melakukan pengendalian harga pangan lebih lanjut .



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI