Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Grup Pertamina, PalmCo, dan Pupuk Kaltim Masuk Daftar IPO BUMN 2023

Kamis, 8 Desember 2022 | 06:08 WIB
Oleh : Muawwan Daelami / FMB
Wakil Menteri I BUMN Pahala Mansury, saat Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di gedung Parlemen Senayan, di Jakarta, Rabu, 7 Desember 2022. Raker membahas rencana IPO PT Pertamina Geothermal Energy, PT Pertamina Hulu Energi, palm Co, dan PT Pupuk Kaltim pada tahun 2023.

Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) siap membawa empat BUMN melantai di bursa pada tahun depan. Dua BUMN berasal dari Grup Pertamina yakni PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dan PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Sedangkan dua BUMN lainnya yaitu subholding dari PT Perkebunan Nusantara, PalmCo, dan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).

Aksi penghimpunan dana publik yang dieksekusi perusahaan-perusahaan pelat merah ini secara grand design bertujuan untuk memperkuat industri energi dan pangan.

Asal tahu saja, PHE misalnya. Perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi minyak dan gas ini memiliki kebutuhan belanja modal (capex) sebesar US$ 4 miliar sampai US$ 5 miliar atau setara Rp 60 hingga Rp 90 triliun.

“Jadi, kita berharap melalui IPO PHE ini selain dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, juga bisa mendapatkan diversifikasi sumber pendanaan yang selama ini diperoleh melalui holding. Kita melihat total capex untuk bisa mengembangkan PHE berkisar US$ 4 miliar sampai US$ 6 miliar atau Rp 60 triliun sampai Rp 90 triliun,” ungkap Wakil Menteri BUMN I Pahala Mansury dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (7/12/2022).

Menurut Pahala total pendanaan itu sangatlah besar. Namun dirinya optimistis, dengan adanya momentum harga minyak dan gas bumi yang kini relatif tinggi akan menjadi sentimen positif yang memacu investor untuk berpartisipasi agresif.

Ditambah lagi, jumlah emiten produksi migas seperti PHE di pasar modal Indonesia masih terbilang sedikit. Atas dua pertimbangan tersebut, Pahala meyakini, IPO PHE akan berjalan optimal.

“Jadi, kita harapkan dengan IPO ini, sumber permodalan bisa digunakan untuk membiayai kegiatan eksplorasi di wilayah kerja PHE khususnya di Jawa, Sumatera, dan Papua,” imbuhnya.

Dibandingkan PHE, IPO terdekat sepertinya akan lebih dulu dieksekusi PGE. Sebab, sampai saat ini progres IPO PGE sudah memasuki tahap penyusunan berbagai dokumentasi dan penunjukan konsultan penunjang.

Registrasi pertama dan kedua di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga sudah dilakukan sehingga harga pelaksanaan IPO diharapkan akan dapat diumumkan pada akhir 2022 atau awal 2023.

“Kita berharap nantinya penawaran saham, pencatatan saham di BEI bisa diselesaikan pada kuartal I-2023,” tutur Pahala.

Pahala membeberkan bahwa IPO PGE ini bertujuan untuk merealisasikan rencana penambahan kapasitas terpasang hingga 600 megawatt dalam lima tahun ke depan. Sebab, beberapa dari peningkatan itu telah memperoleh kontrak jangka panjang bersama PT PLN (Persero).

“Kami harapkan dari 600 megawatt yang akan dilakukan dalam lima tahun mendatang itu betul-betul quick win bagi PGE untuk bisa melakukan pertumbuhan khususnya di sektor pengembangan energi baru terbarukan,” ujarnya.

Di samping PHE dan PGE, dalam kesempatan rapat tersebut, Pahala juga menerangkan mengenai IPO subholding kelapa sawit PTPN III, PalmCo. Menurut dia, IPO ini bertujuan untuk mengoptimalisasikan value yang dihasilkan PalmCo melalui integrasi anak-anak usaha.

Dengan begitu, ke depan produktivitas kelapa sawit diharapkan bisa lebih terintegrasi dan mendorong terbentuknya kapitalisasi pasar (market cap) di kisaran Rp 40 triliun sampai Rp 60 triliun.

“Kita berharap, hasil IPO akan meningkatkan ekuitas perusahaan sebesar Rp 6 triliun sampai Rp 8 triliun yang kita harapkan penggunaannya dapat mengurangi utang dan memperbaiki struktur permodalan group dan PalmCo serta mendorong investasi ke depan,” ujarnya.

IPO yang terakhir adalah menyasar anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) yakni PT PKT. Pahala memaparkan bahwa IPO PKT ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi perusahaan melalui pengembangan pabrik di Papua dan Papua Barat serta di kawasan Maluku dari kapasitas produksi saat ini sebesar 6,5 juta ton. Termasuk untuk mengakselerasi hilirisasi industri kimia.

“Kita berharap, dengan upaya peningkatan jumlah lahan dan pada saat ini kalau kita lihat konsumsi pupuk dibandingkan negara lain khususnya di Vietnam dan Malaysia tentu akan menjadi sumber pertumbuhan ke depan,” pungkas Pahala.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI