Sabtu, 25 Maret 2023

Pembiayaan Sektor Produktif Pacu Geliat Bisnis Multifinance

Prisma Ardianto / WBP
Minggu, 18 Desember 2022 | 12:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Industri multifinance (pembiayaan) dari berbagai indikator mencatatkan pertumbuhan baik. Perubahan paradigma industri dari bisnis sektor konsumtif ke sektor produktif menjadi salah satu faktor penting.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menyampaikan, sempat turun cukup dalam, kini industri multifinance melalui piutang pembiayaan tumbuh sangat baik sekitar 12% year on year (yoy) sampai dengan Oktober 2022. Pertumbuhan ini diikuti dengan perubahan paradigma industri yang awalnya dikenal fokus pada segmen konsumtif, sudah mulai beralih ke pembiayaan produktif.

"Kami sudah mulai rapi, dari 25 juta debitur kami yang ada, kurang lebih sekitar 7-8 juta debitur kami salurkan pembiayaan modal kerja atau modal usaha UMKM. Sisanya tentu masih ada yang sifatnya konsumtif dan lain-lain seperti alat berat dan industri," jelas Suwandi dalam webinar, belum lama ini.

Dia menjelaskan, perubahan paradigma tersebut juga tercermin dari komposisi pembiayaan multiguna yang sifatnya konsumtif susut dari 70% menjadi 54,04% atas total piutang. Pembiayaan investasi pun sudah mencapai 35,31% yang diyakini masih akan terus meningkat karena sejalan dengan harga komoditas yang naik. "Kebutuhan akan alat berat sangat tinggi saat ini, baik semua lini industri yang dipakai. Alat berat sangat dibutuhkan antara lain seperti industri pertambangan, industri agrikultur, dan kontruksi," jelas Suwandi.

Sementara pembiayaan modal kerja berangsur-angsur meningkat dengan komposisi sebesar 9,11%. Hal ini seiring dengan beleid POJK 35/2018 yang memfasilitasi multifinance diperbolehkan menyalurkan pembiayaan langsung terkait modal kerja.

"Ini berangsur-angsur meningkat. Kebutuhan (modal kerja) bisa dilakukan sinergi misalnya kepada para lassie kita yang misalnya kredit alat berat. Pada saat selesai, alat beratnya masih bisa dijaminkan sehingga kita bisa memberikan pembiayaan modal kerja, baik untuk membeli solar, sparepart, dan hal-hal lainnya untuk kebutuhan modal kerja," ungkap Suwandi.

Selain itu, dia menerangkan, konsep hubungan kepada debitur yang tadinya bisa selesai ketika berakhirnya angsuran, saat ini bisa berlanjut dengan produk yang telah tersedia. Melalui pendekatan ini multifinance bisa semakin menjawab kebutuhan debitur, mulai dari produk pembiayaan konsumtif ke produk investasi atau modal kerja.

"Inilah kenapa aset dan piutang pembiayaan sudah bisa kembali lebih dari Rp 400 triliun. Itu yang on balance sheet. Nah sementara ini ada 31 bank yang memiliki perusahaan pembiayaan yang memiliki konsep joint financing, jadi secara total sebenarnya piutang pembiayaan yang diberikan bersama-sama dengan bank sebagai parents company, kita sudah punya piutang pembiayaan lebih dari Rp 1.000 triliun," beber dia.

Sumber: Investor Daily

Saksikan live streaming program-program BTV di sini


Bagikan

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI

1034508
1034509
1034506
1034507
1034504
1034503
1034505
1034501
1034502
1034500
Loading..
Terpopuler Text

Foto Update Icon