ANALISIS

Mengapa IPO Garuda buntung?

Mengapa IPO Garuda buntung?
Senin, 21 Februari 2011 | 05:10 WIB

Ada beberapa faktor, mengapa saham Garuda kemudian tidak laku. Antara lain soal waktu penjualan.

Sehari setelah hari libur Imlek, Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar mengaku penjualan saham perdana (IPO) PT Garuda Indonesia berjalan sesuai rencana.Cukup bagus, begitulah pernyataan menteri yang bertanggungjawab atas untung ruginya perusahaan milik negara, segera setelah IPO Garuda dijual 2 Februari silam.

Pada awal rencana IPO Garuda, pemerintah akan melepas sebanyak 6,33 miliar saham unit (porsi Garuda 4,4 miliar saham dan Bank Mandiri yang memiliki saham di Garuda mendapat porsi divestasi 1,9 miliar unit). Pemerintah tampaknya yakin bahwa akan mampu menggaet duit dari investor senilai Rp 4,7 triliun dengan harapan dibeli oleh investor dalam negeri sampai 80 persen.
 
Dana hasil IPO senilai Rp 4,7 Triliun ini tidak dinikmati Garuda sendiri. Pasalnya ada hak saham milik Bank Mandiri, dari utang perseroan yang kemudian dikonversi menjadi saham perdana. Saham Garuda milik Bank Mandiri sebanyak 1,9 miliar lembar, sedangkan milik BUMN Aviasi sendiri 4,4 miliar lembar. Dengan demikian jatuh murni Garuda atas saham IPO miliknya, Rp 3,3 triliun, sedangkan untuk Bank Mandiri Rp 1,451 triliun.
 
Tapi apa mau dikata, penjualan saham Garuda tidak sesuai harapan. Hari pertama penawaran saham perdana PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang berkode GIAA ini sepi dari kejaran investor.Lokasi IPO Garuda di Plaza Bapindo sejak pukul 08.30 sepi dari antrian. Sepi di hari pertama ini rasanya menjadi pertanda. Dan itulah yang akhirnya terbukti. Masa jualan saham Garuda sejak tanggal 2, 4, 7, 8 Februari 2011 ternyata tidak mendapat respon dengan baik.
 
Menurut data laporan penjualan saham Garuda yang diterima beritasatu.com, selama masa jualan hanya mampu menyerap dana sebesar Rp 2,5 Trilun yang berasal dari JLU (joint lead underwriter) sebanyak Rp 1,6 Triliun, sindikasi Rp 795 Miliar, MESA (Management and Employee Stock Allocation) Rp 73 Miliar, Pooling Rp 24 Miliar, ISA (International Selling Agent (ISA)Rp 21 Miliar. Padahal yang ditawarkan ke pasar adalah 6,33 miliar saham atau setara dengan Rp 4,75 Triliun.
 
Tak ayal lagi ada saham senilai Rp 2,3 Triliun yang harus ditanggung renteng oleh tiga penjamin emisi (joint lead underwriter) yang terdiri atas: Danareksa Sekuritas, Bahana Securities dan Mandiri Sekuritas. Dengan kata lain masing underwriter yang berstatus full commited (berkesanggupan penuh) ini wajib membeli saham yang tak laku sekitar Rp 752 Miliar per emisi.
 
Wau...angka yang fantantis bukan? Itu artinya penjamin emisi kudu mencari dana Rp 750 Miliar untuk menyerap sisa penawaran saham yang tidak laku di pasar. Uang segede itu bisa diambil dari modal sendiri atau cari pinjaman. Situasi yang pasti bikin pening masing dianggap santai oleh Meneg BUMN. “Bahwa di antara underwriter saling membantu, itu konsekuensi bisnis. Sudah komitmen bersama mereka juga saling bantu," ujar Mustafa

Karena Imlek
Maka sungguh membuat kaget fenomena Garuda ini. Padahal ibarat gadis seksi, apa yang tidak dimiliki oleh Garuda. Sebelum IPO saja, perusahaan ini menerima penghargaan most improved airline (perusahaan penerbangan yang paling banyak mengalami perbaikan) dari Skytrax, lembaga pengkajian penerbangan udara dunia yang memberi penghargaan bagi Singapore Airlines dan Malaysia Airlines.
 
Sejak awal IPO Garuda seperti dipaksakan. Faktor tidak lakunya saham Garuda bisa ditelisik sebagai berikut: pertama, memaksa jualan di hari imlek sedunia bukanlah jadwal yang bagus untuk penawaran saham perdana. Pasar internasional sebagian besar masih mengandalkan broker yang berpusat di Hongkong dan Singapura. Notabene di kedua kota tersebut sebagian besar broker sedang libur Imlek.
 
Bagaimana bisa faktor timing jualan ini tak diperhitungkan masak-masak pihak-pihak yang terlibat dalam penjualan saham Garuda. Terbukti di lokasi penjualan Direktur Keuangan Garuda Indonesia, Elisa Lumbantoruan, mengatakan sepinya antrean saham perdana perseroan salah satunya dikarenakan faktor hari libur menjelang Imlek. "Biasanya orang menjelang Imlek menahan dulu bertransaksi. Tetapi saya perkirakan, hari terakhir penawaran permintaan ritel akan bertambah," kata Elisa. Hingga akhir penawaran keadaan tetap tak berubah.
 
Kedua, persepsi pasar yang kurang baik serta berkembangnya rumor yang kurang baik terhadap harga dan permintaan saham Garuda. Setelah hiruk pikuk saham Krakatau Steel (KRAS), publik berharap IPO Garuda akan sepi dari hiruk pikuk. Celaka hiruk pikuk dan rumor itu makin menjadi. Pro kontra tentang harga penawaran menjadi pangkal dari hiruk pikuk di media massa. Ada semacam penolakan dari investor lokal karena pengalaman buruk tatkala IPO KRAS beberapa waktu lalu. Ramainya isu penjatahan saham KRAS untuk politisi dan pejabat sehingga jatah masyakarakat berkurang membuat masyarakat enggan berburu GIAA. Otomatis terjadinya penurunan minat dari investor domestik.
 
Belum lagi ada masalah dengan sentimen pasar modal yang secara keseluruhan bersifat negatif. Industri penerbangan yang dianggap akan terpengaruh dengan ancaman kenaikan harga minyak mentah dunia dan krisis politik dan ekonomi yang waktu itu sedang mendera Timur Tengah seperti Tunisia dan Mesir.
Ketiga, faktor harga yang dianggap kemahalan.
 
Sumber beritasatu.com menyatakan bahwa pada 30 Desember 2010 laporan hasil valuasi Garuda oleh joint lead underwriter (JLU) dan International Selling Agent (ISA) kepada Kementrian BUMN merekomendasikan range harga saham Rp 500- Rp 650. Hasil valuasi ini lalu dibawa ke pre marketting dengan investor lokal dan asing. Hasilnya mencengangkan karena range harga tak jauh beda yaitu Rp 580 – Rp 850. Maka, kata sumber tersebut, rada aneh karena range harga untuk bookbuilding ditetapkan antara Rp 900 – Rp 1.080. Baru setelah Direksi Garuda bertemu dengan Menteri BUMN harga saham diturunkan menjadi Rp 750 - Rp 1.100. Jadi harga yang terbentuk hasil kompromi dari kengototan kantor Meneg BUMN (lihat kronologis dibawah ini).
 
Keempat, minimnya animo investor perorangan maupun institusi internasional terhadap Bursa Efek Indonesia. Sejak akhir tahun 2010 hingga awal tahu keadaan indeks harga saham gabungan (IHSG) terus mengalami koreksi. Indeks melorot hingga 8.54 persen dalam sebulan terakhir. Sejak akhir Desember 2010, investor asing langsung keluar dan mengambil aksi profit taking saat melihat keadaan pasar sedang memburuk.
 
Efeknya, sejak tiga hari memasuki 2011, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami koreksi secara beruntun. Toh indikator ini buat Kementerian Badan Usaham Milik Negara (BUMN) tetap berkeyakinan saham IPO Garuda mendapat sambutan positif pelaku pasar. Ternyata buktinya nol besar.
 
Efek domino
Kisah lesunya saham Garuda ini di penawaran perdana masih berlanjut. Karena begitu saham GIAA didaftarkan di Bursa Efek Indonesia 11 Februari 2011, langsung anjlok di menit-menit awal. Di menit awal, harga saham Garuda dibuka langsung turun 50 poin menjadi Rp700 atau turun 6,6 persen dari harga penawaran Rp750. Bahkan terus turun hingga Rp620 setelah 3 menit pembukaan. Hingga penutupan perdagangan Jumat (18/2), harga saham GIAA stagnan di posisi Rp 570 per saham. Jika dibandingkan dengan harga
IPO di Rp 750 per saham, harga GIAA sudah anjlok 24%.
 
Bagaimana nasib pemegang saham yang kadung borong saham GIAA. Paling minim akan dibuat deg-degan dengan situasi ini. PT Jamsostek (Persero) misalnya, sesuai pedoman investasinya hanya membolehkan memborong 5 % atau setara dana Rp 210 miliar untuk membeli saham perdana Garuda. PT Jamsostek (Persero) tergabung dalam Asosiasi Asuransi Negara (Asgara) yang menjadi salah satu pembeli terbesar dalam penawaran publik perdana Garuda. Selain PT Jamsostek (Persero), asosiasi asuransi plat merah ini beranggotaka PT Jasindo, PT Asuransi Jiwasraya, PT Asabri, PT Taspen, PT Jasa Raharja, PT Asuransi Ekspor Indonesia, PT Askes, PT Reasuransi Umum Indonesia.
 
Anjloknya saham Garuda di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) ini pasti akan membawa persoalan lain. Sebut saja, Komisi IX DPR yang membidang masalah tenaga kerja pasti akan mempertanyakan potential loss dari investasi PT Jamsostek.
 
Di sisi lain kewajiban ketiga penjamin emiten untuk menyerap saham yang tidak laku juga tidak mudah. Bayangkan saja di satu sisi penjamin emiten (joint lead underwriter) wajib menjual saham Garuda, namun di sisi lain harus berkalangkabut untuk mencari dana talangan. JLU jelas membutuhkan fasilitas pendanaan untuk dapat membeli saham yang tidak terjual tersebut. Masalahnya kemampuan investasi JLU adalah jangka pendek (pinjaman jangka pendek atau modal kerja). Mau tidak mau JLU akan berkeluh kesah ke Bapepam-LK Sehari setelah IPO yang berakhir lesu tersebut ketiga underwriter menemui Bapepam.
 
Pada tahap awal JLU akan mencari pendanaan dari pinjaman bank jangka pendek. Namun bukan tidak mungkin untuk menyangga fluktuasi harga saham GIAA, akan ada mobilisasi dana dari BUMN yang memiliki kemampuan investasi jangka menengah untuk mengambilalih saham yang dimiliki oleh JLU. Kalau sudah seperti ini akan sangat runyam dan berbelit, mengingat profil pemegang saham Garuda lebih dari 50% adalah pemegang saham retail. Dan kalau pemerintah meminta bantuan BUMN membantu pendanaan JLU, lagi lagi dan lagi akan menginstruksikan anggota Asosiasi Asuransi Negara (Asgara), Dana Pensiun yang ada di banyak BUMN untuk ambil bagian menyelamatkan saham Garuda di masa mendatang. Apa yang dilakukan pemeirntah tentu saja supaya JLU tidak menjual dibawah harga IPO.
 
Efek lain dari lesunya saham Garuda ini juga berdampak pada rencana akan dirombaknya direksi Garuda. Sinyal itu telah dibantah oleh Meneg BUMN Mustafa Abubakar. “Ini tidak ada kaitannya dengan IPO kemarin. Sejak pertengahan 2010 kita sudah evaluasi meski belum terwujud,” kata Mustafa. Semua efek domino ini tak akan terjadi bila pemerintah lebih berhati-hati dan tidak grasa grusu dalam menetapkan harga awal saham IPO BUMN (*)
 
Kronologis IPO Garuda
 
01 Desember 2010    
Presentasi Garuda kepada analis JLU (Joint Lead Underwriter) dan ISA (International Selling)
 
30 Desember 2010    
1.      Publikasi hasil laporan ISA & JLU
2.      Laporan lengkap hasil valuasi Garuda oleh JLU & ISA kepada Kementrian BUMN yang menetapkan range harga saham Rp 500- Rp 650
 
03 Januari 2011
Mulai sosialisasi atau pre marketing dengan menemui satu per satu investor institusi baik domestik maupun internasional
 
11 Januari 2011
1.      Laporan hasil pre-marketing kepada Deputi Privatisasi
2.      Rekomendasi laporan hasil pre-marketing dan rekomendasi range harga saham antara Rp 560 – Rp 850 kepada Menteri BUMN. Range harga saham ditetapkan untuk bookbuilding antara Rp 900 – Rp 1.080
3.      Surat JLU kepada Garuda menerangkan Underwriting Commitment akan dilakukan setelah bookbuilding dan tanda tangan Addendum Underwriting Agreement
 
12 Januari 2011
1.      Direksi Garuda bertemu dengan Menteri BUMN & range harga saham diturunkan menjadi Rp 750 – Rp 1.100
2.      Pernyataan pra-efektif oleh Bapepam LK
3.      Public Expose
 
12-15 Januari 2011
Roadshow di Bandung, Surabaya, Medan, Palembang dan Makassar
 
20-21 Januari 2011
Roadshow di Banda Aceh, Padang dan Balikpapan
 
13-21 Januari 2011
Internasional roadshow di Singapura, Hongkong, London, Boston, dan New York
 
25 Januari 2011
1.      Laporan hasil bookbuilding ke Deputi Privatisasi
2.      Laporan hasil bookbuilding dan rekomendasi harga saham kepada Meneg BUMN, yaitu Rp 750
 
26 Januari 2011
Penandatanganan Addendum Underwriting Agreement dan Registrasi ke-3 ke Bapepam LK
 
01 Februari 2011
1.      Pertemuan dengan Meneg BUMN perihal posisi pemesanan saham Garuda yang mengalami penurunan signifikan dibandingkan posisi pada saat pricing
2.      Pernyataan efektif oleh Bapepam LK
 
 
2, 4, 7, 8 Februari 2011
Penawaran Umum
 
07 Februari 2011
Hasil pendataan saham oleh investor menunjukan tren penurunan lebih lanjut
 
 
Sumber: -