Pengadilan Banding Singapura Menangkan First Media

 Pengadilan Banding Singapura Menangkan First Media
First Media ( Foto: Beritasatu.com/Danung Arifin )
Iwan Subarkah / Imam Suhartadi / FER Senin, 4 November 2013 | 19:24 WIB

Jakarta - Pengadilan Banding Singapura memenangkan PT First Media Tbk dalam sengketa hukum melawan Astro All Asia Network. Putusan Pengadilan Banding ini final dan mengikat sehingga Astro tidak bisa menjalankan putusan Pengadilan Arbitrase Singapura, yang memenangkan Astro dan mengharuskan First Media membayar ganti rugi $250 juta kepada Astro.

Pengadilan Banding sepakat dengan argumen utama First Media bahwa Pengadilan Arbitrase melampaui yurisdiksinya tatkala memenangkan tiga unit usaha Astro — Astro All Asia Networks, Measat Broadcast Systems, dan All Asia Multimedia Networks FZ-LLC, selaku penggugat 6, 7, dan 8 — karena ketiganya belum memasuki perjanjian arbitrase.

"Penyerahan tuntutan penggugat 6 sampai 8 ke arbitrase didasarkan pada konstruksi yang salah atas aturan SIAC 2007,” kata Pengadilan Banding dalam putusannya, mengacu pada Singapore International Arbitration Center (SIAC).

Oleh karena itu, tambah Pengadilan Banding, pemenangan itu menyalahi yurisdiksi sehingga tidak bisa ditegakkan. Pengadilan Banding juga menyatakan, pelaksanaan putusan pengadilan hanya bisa dilakukan kepada penggugat satu sampai lima, yang totalnya tidak lebih dari US$ 1 juta.

"First Media menyambut gembira putusan Pengadilan Banding Singapura dan senang karena kegigihannya untuk mendapatkan keadilan di Singapura akhirnya berhasil didapatkan," ujar Edmund J Kronenburg, managing partner Bradell Brothers LLP di Singapura.

Putusan itu keluar setelah Lippo Group mengajukan banding atas putusan Pengadilan Singapura pada Oktober lalu, yang memenangkan arbitrase US$ 250 juta kepada Astro All Asia Network.

Kasus ini pertama kali diajukan ke pengadilan pada 2010, saat disampaikan di hadapan tiga anggota majelis hakim arbitrase, putusan yang mengalahkan Lippo atas kegagalan dalam usaha patungan televisi kabel.

Queens Counsel (QC) Toby Landau, yang mewakili First Media, mengajukan kasus ini kepada Ketua Majelis Hakim Sundaresh Menon, Hakim Banding VK Rajah, dan Hakim Judith Prakash.
Landau bertindak atas instruksi Kronenburg dan Lye Huixian dari Braddell Brothers.

Dalam argumennya, Landau mengatakan sistem arbitrase bergantung pada checks and balances. Ia menjelaskan, kliennya memilih untuk mengadopsi jalur penyelesaian pasif, bukan yang aktif. Dengan demikian, tambah Landau, kliennya berhak melakukannya.

Berdasarkan jalur penyelesaian pasif, lanjut dia, First Media tidak wajib untuk melaksanakan atau menyuarakan keberatannya dalam waktu tiga bulan atau melepaskan hak bandingnya sebagaimana diutarakan sebelumnya oleh pengacara Astro David Joseph, QC.

"Kami tidak bermaksud membatalkan putusan itu. (Tapi kami ingin) mencegah pelaksanaannya dalam yurisdiksi tertentu," tutur dia.

Sepanjang proses persidangan, First Media berpendapat hanya terlibat dalam arbitrase sebagai syarat. Tapi persidangan melampaui yurisdiksinya dengan memihak tiga unit usaha Astro, bukan pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian arbitrase.

Astro pada 2008 menyatakan untuk mengakhiri usaha patungannya karena Lippo tidak memenuhi pembayaran 805 juta ringgit (US$ 255 juta), yang dikenakan oleh Astro atas biaya jasa-jasa untuk usaha patungan itu.

Unit usaha Lippo, Ayunda Prima Mitra, lalu mulai menggugat masalah ini ke pengadilan di Indonesia, terhadap sejumlah perusahaan dan individu terkait Astro, atas apa yang disebut ancaman-ancaman oleh Astro untuk menghentikan penyediaan jasa dalam usaha patungan itu.

Ayunda Prima Mitra mengklaim Astro melakukan pembayaran-pembayaran mencurigakan kepada pihak-pihak lain, Astro juga mengendalikan penuh manajemen usaha patungan itu, dan Astro mengenakan biaya lebih tinggi untuk program acara.

Sementara itu, Direktur dan Corporate Secretary First Media Harianda Noerlan mengatakan, pihaknya belum menerima salinan putusan secara resmi. Namun, dia bersyukur atas putusan Pengadilan Banding Singapura yang memenangkan First Media dalam kasus gugataan hukum dengan Astro All Asia Network tersebut.

Keputusan ini bersifat final dan mengikat sehingga Astro tidak akan mampu untuk menegakkan putusan Singapura Arbitrase Pengadilan yang memutuskan pembayaran $ 250 juta kepada Astro.

"Saya belum terima salinan keputusannya. Tapi walau bagimana pun, kami gembira dengan putusan ini," kata Harianda kepada Investor Daily di Jakarta, Sabtu (2/11).

Menurut dia, keputusan ini sangat membahagiakan seluruh jajaran First Media. Ini berarti perjuangan lebih dari lima tahun dalam kasus ini membuahkan hasil.

"Kami sangat bersyukur jerih payah dan usaha kami tidak sia-sia, ke depannya saya optimistis bisnis First Media makin baik dan terus menjadi pemain utama dalam layanan TV kabel dan penyedia internet broadband di Tanah Air," ujarnya.

Sumber: Investor Daily