Stafsus Presiden: Ekonomi RI Bangkit Setelah Melewati Masa Tersulit
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Stafsus Presiden: Ekonomi RI Bangkit Setelah Melewati Masa Tersulit

Senin, 11 November 2013 | 18:20 WIB
Oleh : Novy Lumanauw / WBP

Jakarta - Ekonomi Indonesia saat ini mulai bangkit setelah berhasil melewati masa-masa tersulit. Kebangkitan ekonomi nasional ditandai dengan pertumbuhan ekonomi pada Kuartal III-2013 mencapai 5,62 persen secara year on year atau tumbuh 2,96 persen dibandingkan pada kuartal II-2013. Secara kumulatif pertumbuhan selama Januari-September 2013 adalah sebesar 5,83 persen berdasarkan perhitungan year-on-year

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah mengungkapkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 1 November 2013, menunjukkan bahwa sejumlah sektor mencatatkan pertumbuhan tertinggi pada Kuartal III-2013, yaitu pengangkutan dan komunikasi naik 10,46 persen, keuangan - real estate- jasa perusahaan 8,09 persen, dan konstruksi 6,24 persen. Sementara itu, dari sisi pengeluaran pemerintah mencapai 5,64 persen, konsumsi rumah tangga 2,92 persen, dan pembentukan modal tetap bruto sebesar 2,85 persen.

“Gabungan tekanan eksternal dan internal sepanjang bulan Juni-September 2013 dapat terlalui dengan pertumbuhan ekonomi kuartalan cukup tinggi yaitu 5,62 persen dengan produk domestik bruto (PDB) purchasing power di atas US$ 1 trilun,” kata Firmanzah di Jakarta, Senin (11/11).

Dia mengakui, ekonomi Indonesia mengalami tekanan berat menyusul gejolak pasar keuangan global yang dipicu rencana Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed melakukan pengurangan (tapering-off) stimulus moneter.

Firmanzah yang juga mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) mengatakan, tekan eksternal bertubi-tubi itu ditandai dengan arus keluar modal (capital outflow) yang berdampak pada anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Disebutkan, pada 27 Agustus 2013, IHSG sempat mencapai titik terendah yaitu pada level 3,967. Selain itu, nilai tukar rupiah mengalami tekanan cukup berat dan cadangan devisa turun menjadi US$ 92,67 miliar, pada akhir Juli 2013. Sementara itu, dari sisi internal, tekanan inflasi sangat tinggi dan mencapai level 3,29 persen pada Juli 2013.

“Gejolak ekonomi sebenarnya dampak dari tekanan konsumsi di saat libur sekolah, Lebaran dan menjelang tahun ajaran baru. Ada juga penyesuaian harga BBM bersubsidi yang dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan defisit APBN 2013 yang juga dirasakan pada bulan-bulan tersebut,” kata Firmanzah.

Sinergi BI dan Pemerintah
Dia mengatakan, dalam upaya mengatasi gejolak tersebut Bank Indonesia (BI) dan pemerintah terus bersinergi untuk menciptakan kebijakan yang dapat menyelamatkan ekonomi nasional. BI berupaya meredam inflasi dengan menyesuaikan BI rate hingga tiga kali, pada periode Juli-September 2013 hingga menjadi 7,25 persen. Sementara itu, dari sisi pemerintah, empat paket kebijakan dikeluarkan untuk memberikan stimulus fiskal pada sektor riil dan menjaga daya beli masyarakat.

Inflasi yang tinggi pada Juli 2013 yang diikuti kenaikkan BI rate mendesak banyak kalangan merevisi pertumbuhan ekonomi nasional. Sejumlah kalangan memprediksi kenaikan BI rate berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi jauh dari posisi 6 persen.

Saat itu, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memprediksi ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh sebesar 5,25 persen pada 2013, Bank Dunia (5,6 persen), dan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,7 persen.

“Realisasi pertumbuhan ekonomi pada Kuartal III-2013 sebesar 5,62 persen dan 5,82 persen sampai bulan September 2013 menunjukkan bahwa fundamental pertumbuhan ekonomi nasional tidak serendah yang diperkirakan lembaga internasional,” kata dia.

Sumber: Investor Daily


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Obligasi Wom Finance Rp 2,5 T Mundur Hingga 2014

Pada tahap awal, Perseroan menargetkan sebanyak-banyaknya Rp 1 triliun dari target dana obligasi berkelanjutan sebanyak Rp 2,5 triliun.

EKONOMI | 11 November 2013

Pemerintah Bentuk Tim Investasi Khusus AS

Pembentukan tim ini merupakan salah satu upaya pemerintah menindaklanjuti hasil rapat dengan konsul bisnis AS di ASEAN (US-ASEAN Business Council).

EKONOMI | 11 November 2013

Pemerintah Didesak Pastikan Nasib Jembatan Selat Sunda

Tim 7 tengah mengkaji tiga alternatif skema pengusahaan pengembangan kawasan strategis dan infrastruktur Selat Sunda (KSISS).

EKONOMI | 11 November 2013

Permintaan DKI soal Penghapusan PPnBM Transportasi Massal Dibahas

Jika pemerintah menghapuskan tarif pajak PPnBM terhadap transportasi maka ada kemungkinan kondisi transportasi semakin membaik.

EKONOMI | 11 November 2013

Menkeu: PPh Final Bagi UKM Bukan Untuk Cari Keuntungan

Pengusaha meminta jika pajak ini sudah diberlakukan, tidak ada lagi pungutan atau biaya ekonomi tinggi lainnya yang ditagih petugas pajak.

EKONOMI | 11 November 2013

AFEO: SBY Sukses Jaga Diplomasi Indonesia-ASEAN

Banyak calon yang digodok untuk mendapatkan penghargaan. SBY dipilih karena sukses memajukan pembangunan infrastruktur dan membuka hubungan Indonesia-ASEAN.

EKONOMI | 11 November 2013

Transaksi Rupiah di Mandiri Sore Ini Melemah

Pukul 15.50 WIB, rupiah berada di kurs beli Rp 11.488 per 1 dolar AS. Adapun kurs jual rupiah per 1 dolar AS sebesar Rp 11.570.

EKONOMI | 11 November 2013

Pertemuan SBY dengan Insinyur se-ASEAN Tertutup

Pada kesempatan audiensi hari ini hadir pula sejumlah insinyur dari negara Jepang, Uni Emirat Arab dan Korea Selatan.

EKONOMI | 11 November 2013

Meneg BUMN Minta Lulusan Universitas Berwiraswasta

"Saya dorong agar berubah pikiran, jangan semua jadi pegawai, mulailah berwirausaha sejak dini."

EKONOMI | 11 November 2013

Pemerintah Pertimbangkan Wajibkan Beli Premium Pakai Kartu Debit

Kalau mewajibkan masyarakat membeli BBM subsidi non tunai maka harus ada revisi kebijakan dari pemerintah.

EKONOMI | 11 November 2013


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS