Logo BeritaSatu

Produktivitas RI Dinilai Masih Lamban

Minggu, 9 Februari 2014 | 18:05 WIB
Oleh : Wahyu Sudoyo / B1

Jakarta - Laju produktivitas RI dinilai tak secepat negara lain karena faktor ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) yang mumpuni. Kondisi ini dinilai menjadi faktor utama yang menghambat RI keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap).

Deputy Country Director ADB Edimon Ginting menjelaskan saat ini pertumbuhan pendapatan RI sedikit melambat pada fase pendapatan rendah (lower income) karena faktor krisis yang terjadi akhir-akhir ini dan juga produktivitas yang agak lambat. Oleh karenanya pemerintah diharapkan bisa meningkatkan kualitas SDM RI supaya bisa berpacu meninggalkan middle income trap yang terjadi pada negara-negara emerging.

Advertisement

"Pak Menteri Keuangan bilang zaman Jepang dan Korea di posisi kita itu mereka bisa cepat sekali keluar dari middle income trap. Kita itu, pertumbuhan terhambat produktivitas yang tidak berkembang secara cepat. Jadi sebetulnya tantangan kita bagaimana ke depan produktivitas kita bisa jauh lebih cepat," ujar Edimon di kantor Menko Perekonomian baru-baru ini.

Menurut Edimon pihaknya setuju terhadap pendapat pemerintah, bahwa untuk memperbaiki produktivitas negara tidak hanya dari sisi tenaga kerjanya saja, melainkan juga dari sisi investasi, modal dan lainnya. Selain itu, imbuhnya, pemerintah memerlukan kerja sama antara industri dan pemerintah untuk mendorong pendidikan yang pas.

Faktor pendidikan dinilai penting untuk dikembangkan karena menjadi modal penting dalam membentuk SDM yang bermutu. Kualitas pendidikan dasar yang baik juga dinilai menjadi faktor penunjang keberhasilan training dalam peningkatan keahlian tenaga kerja.

"Yang paling penting kualitas pendidikan dulu diperbaiki, lalu di atasnya adalah training-training seperti tadi. Sekarang itu masalahnya adalah kualitasnya yang belum," imbuhnya.

Macro Economic Specialist EC-Think Telisa A Falianty menjelaskan saat ini tidak banyak waktu yang dimiliki untuk persiapan dalam menghadapi middle income trap. Oleh karenanya dia berharap pemimpin baru yang terpilih pada tahun ini harus bisa memanfaatkan kesempatan yang hanya sampai 2025.

Pasalnya momentum untuk melepaskan diri dari jeratan pendapatan kelas menengah itu dinilai singkat dan bisa terlewatkan. Kesempatan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 hingga batas waktu 2025 harus diharapkan bisa dimanfaatkan secara bijaksana.

"Jadi kalau misalnya kita tidak melakukan apa-apa, kita akan kehilangan kesempatan kita yang besar. Dan itu akan menentukan masa depan kita," katanya.

Telisa berpendapat semua pihak harus melakukan upaya lebih keras guna menggenjot ketertinggalan kesiapan persiapan yang semestinya dilakukan pada akhir periode 90-an lalu. Dalam hal ini semua pihak terkait diharapkan meninggalkan metode lama yang masih dipakai dengan mencari metode alternatif yang bisa mempercepat pertumbuhan.

Pemerintah juga diminta meningkatkan pertumbuhan minimal delapan perseb supaya bisa mencapai negara dengan pendapatan tinggi (high income country). Untuk itu pemerintah dinilai bisa memindahkan fokus pembangunan dari Jawa menjadi kawasan Indonesia Timur karena potensinya yang masih sangat besar.

"Kalau mungkin kita di lima atau enam persen, tapi kalau kita ingin di tujuh atau delapan persen kan berarti harus ektra effort. Nah, kalau saya melihat bahwa potensi Indonesia Timur itu masih tinggi, nah itu yang harus digenjot karena kalau di Jawa sendiri kan sudah agak stagnan ya. Pokoknya hal-hal yang bisa meningkatlah di luar kebiasaan," pungkasnya.

Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Ramai Peminat, Kuota SBN Ritel Seri SBR012 Ditambah Jadi Rp 15 T

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menambah kuota pemesanan SBN ritel seri SBR012 dari Rp 10 triliun menjadi Rp 15 triliun.

EKONOMI | 29 Januari 2023

Bapanas Tugaskan Bulog Jual Beras Medium ke Ritel Modern

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi mengatakan, langkah ini sesuai arahan Presiden Jokowi dalam rangka stabilisasi harga beras di tingkat konsumen.

EKONOMI | 29 Januari 2023

Keketuaan ASEAN 2023 Jaga Stabilitas Episentrum Ekonomi

ASEAN dapat menjadi episentrum atau pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan sekitar dan level global.

EKONOMI | 29 Januari 2023

Minyak Goreng Minyakita Sudah Mulai Menghilang di Pasaran

Sejumlah pedagang pun mulai mengeluhkan hilangnya Minyakita di pasaran, lantaran minyak goreng murah program pemerintah itu laris diburu masyarakat.

EKONOMI | 29 Januari 2023

Bahaya Vape Mengincar, Mendag Kendalikan Impor Alat Pendukungnya

Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan melakukan pengendalian impor vape dan alat penunjang lainnya.

EKONOMI | 29 Januari 2023

Minyakita dan Curah di Makassar Langka Sepekan Terakhir

Minyak goreng (migor) subsidi dengan merek Minyakita, mulai langka di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) sepekan terakhir.

EKONOMI | 29 Januari 2023

Jobubu Jarum Minahasa Bidik Laba & Pendapatan Naik 50%

PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER) optimistis pada 2023 pendapatan dan laba tumbuh hingga 50%.

EKONOMI | 29 Januari 2023

Waskita Catat Kontrak Baru Rp 20 Triliun, Mayoritas dari IKN

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) membukukan nilai kontrak baru (NKB) sebesar Rp 20,23 triliun sampai akhir tahun 2022.

EKONOMI | 29 Januari 2023

Sandiaga Uno Dorong UMKM Manfaatkan TikTok untuk Jualan

Menurut Sandiaga, saat ini banyak platform digital atau media sosial yang mampu mendorong produk pelaku ekraf dan UMKM naik kelas. Salah satunya TikTok

EKONOMI | 29 Januari 2023

Dituduh Manipulasi Saham, Orang Terkaya Asia Ini Kehilangan Rp 700 T

Aset orang terkaya di Asia Gautam Adani jatuh lebih dari US$ 50 miliar setelah dituduh memanipulasi saham oleh Hindenburg Research.

EKONOMI | 29 Januari 2023


TAG POPULER

# Serial Killer


# Mahasiswa UI Ditabrak


# Tukang Becak Bobol BCA


# Biaya Haji 2023


# Pembunuhan di Depok


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Juara Australia Open, Djokovic Masih Lapar Gelar Grand Slam

Juara Australia Open, Djokovic Masih Lapar Gelar Grand Slam

SPORT | 9 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE